Rencana pembangunan jalan tol lanjutan Malang-Kepanjen terus dipersiapkan. Salah satu rencana lintasan adalah Desa Jatikerto, Kromengan. (Nana)
Rencana pembangunan jalan tol lanjutan Malang-Kepanjen terus dipersiapkan. Salah satu rencana lintasan adalah Desa Jatikerto, Kromengan. (Nana)

MALANGTIMES - Rencana pembangunan jalan tol Malang-Kepanjen sepanjang 15-16 kilometer (km) terus menguat. Berbagai pihak pun terlihat sudah mulai terjun ke lapangan. Khususnya terkait trase atau rute yang nantinya akan dibangun.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang pun telah lama melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, khususnya pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim). Usulan trase atau ruas jalan tol Malang-Kepanjen yang diprediksi membutuhkan waktu 3 tahun pembangunannya telah dikantongi juga walau belum bisa dipastikan trase mana yang nantinya akan dibangun.

Tapi, rute yang diusulkan oleh Pemkab Malang ke pemerintah pusat telah dilayangkan. Yakni, mulai dari Kecamatan Bululawang, Gondanglegi, hingga Kepanjen. Sedangkan alternatif lain bisa juga melalui rute Bululawang, Pakisaji, hingga Kepanjen.

Di satu sisi, menguatnya rencana pembangunan tol Malang-Kepanjen juga telah terlihat di satu wilayah, yakni di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan. Dalam beberapa hari kemarin, masyarakat Jatikerto telah diajak berembuk terkait lahan yang akan dilintasi pembangunan tol.

"Ada petugas yang menginformasikan dan kami tindak lanjuti dengan mengumpulkan warga yang rencana lahannya akan kena tol," ucap Kepala Desa (Kades) Jatikerto Mohamad Satu, Rabu (4/12/2019).

Walau sekali lagi belum dipastikan rute pastinya, rencana jalan tol Malang-Kepanjen semakin kuat sinyalnya untuk direalisasikan. Hal ini juga dipertegas Bupati Malang Sanusi yang berkali-kali memberikan keterangan terkait itu. Politisi PKB ini optimistis jalan tol terbangun.

"Sudah melalui rangkaian panjang koordinasi dengan pusat dan provinsi. Kami juga sudah usulkan berbagai alternatif rutenya ke kementerian," ucapnya kepada MalangTIMES.

Namun, lanjut Sanusi, dirinya tak terlalu mengetahui sisi teknisnya seperti apa, baik target, rute yang akan dipastikan terbangun tol, serta hal lainnya. "Karena jalan tol itu urusan pemerintah pusat. Kami tak terlibat secara teknis. Sebagai tuan rumah, tetap kami dukung penuh karena tol ini akan membuka berbagai potensi di Kabupaten Malang," ujarnya.

Disinggung terkait target pembangunan, Sanusi pun menegaskan pihaknya tak memiliki target dikarenakan itu proyek pusat. "Tergantung pemerintah nanti dengan pihak yang akan membangun tol. Tapi kalau harapan saya, tahun 2020 sudah bisa operasi (mulai pembangunan, red)," lanjutnya.

Jalan tol Malang-Kepanjen, dari perspektif mobilitas lalu lintas sebenarnya tak terlalu urgen. Artinya, sampai saat ini lalu lintas di wilayah Kepanjen secara khusus dan berbagai wilayah di Kabupaten Malang tak tergolong wilayah dengan kemacetan parah seperti Kota Malang.

Hal ini juga disampaikan Sanusi bahwa jalan di Kabupaten Malang bukan termasuk pusat transportasi. "Sehingga tak ada akan mempermudah akses kendaraan menuju Kepanjen, Gondanglegi, Bantur, dan seluruh wilayah Malang Selatan, bahkan sampai ke Dampit dan seterusnya," ujarnya.

Disinggung rute jalan tol Malang-Kepanjen yang akan melintasi Desa Jatikerto, Sanusi belum bisa memastikan hal itu. "Sekali lagi hal teknis di pusat. Kami tunggu kepastian itu dari pemerintah pusat, provinsi, dan pelaksana pembangunan," tandas Sanusi.