Adrinaldo (dilingkari), pemilik Plonk Creative Studio, penguasa even di Disparbud Kabupaten Malang saat Kirab Budaya Malang Beach Festival III di Jalibar Kepanjen, Sabtu, 29 September 2019.(Foto Instagram Disparbud Kabupaten Malang)
Adrinaldo (dilingkari), pemilik Plonk Creative Studio, penguasa even di Disparbud Kabupaten Malang saat Kirab Budaya Malang Beach Festival III di Jalibar Kepanjen, Sabtu, 29 September 2019.(Foto Instagram Disparbud Kabupaten Malang)

MALANGTIMES - Sore itu, Sabtu 29 September 2019, suasana Jalur Lintas Barat (Jalibar) Kepanjen penuh sesak dengan lautan manusia. Masyarakat desa di sekitaran ibu kota Kabupaten Malang tersebut memenuhi jalan untuk mendapatkan hiburan rakyat, Kirab Budaya Malang Beach Festival (MBF).

Acara yang dimulai siang hari sekitar pukul 14.00 tersebut berlangsung hingga menjelang dini hari. Semakin malam acaranya semakin meriah. Panggung besar yang kokoh menandakan bahwa even tersebut digarap dengan biaya yang tak murah. 

Belum lagi permainan lighting dan pesta kembang api, membuat masyarakat desa kerasan hingga malam hari menyaksikan acara yang spektakuler. Ditambah dengan kreativitas peserta kirab berlomba-lomba menunjukkan yang terbaik. Klop, suasana kolosal tercipta malam itu.

Di antara ribuan warga, tampak terlihat seorang pria berjaket hitam kain dan bercelana jeans biru. Dengan tinggi sekitar 168 sentimeteran, dia terkadang terlihat tegang dan sesekali tampak tersenyum.

Ya, dialah Adrinaldo, pemilik Plonk Studio Creative, sebuah event organizer yang selama tiga tahun ini selalu menguasai kegiatan-kegiatan yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang. Dari tangan dinginnya itulah, even-even di disparbud terlihat megah.

Tak hanya bertangan dingin mengelola even, Adrinaldo juga lihai melobi. Terbukti dia mampu memonopoli even di lingkup disparbud. Dari yang nilainya puluhan juta hingga miliaran rupiah. Adrinaldo ini juga sangat dekat dengan Kepala Disparbud Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara. 

Hampir di setiap kegiatan, jika ada Adrinaldo maka di situ juga ada Made Arya. Sangat dekat hubungan mereka. Karenanya, jangan heran jika uang puluhan miliar untuk even itu mengalir ke kantong Plonk (even apa saja yang digarap Plonk, akan kami sajikan di serial berikutnya).

Nah, melihat kinerja Plonk yang acaranya dianggap ciamik oleh Made, maka kepala dinas asal Bali tersebut mempunyai keyakinan bahwa MBF akan masuk dalam agenda Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Namun, ekspektasinya tersebut meleset besar. MBF yang menghabiskan dana miliaran rupiah jauh dari hasil. Even yang dibangga-banggakan Made ini sama sekali tak masuk 100 Calender of Event Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 

Berbanding terbalik dengan even milik Pemkot Malang yang memiliki MFC (Malang Flower Carnival). Selain masuk dalam 100 even kementerian, MFC juga berhasil meraih juara 3 kategori festival pariwisata terpopuler API (Anugerah Pesona Indonesia).

Melihat hasil yang tak sepadan dengan anggaran yang dikeluarkan, akhirnya memantik reaksi dari masyarakat, pelaku wisata, bahkan dari kalangan internal Pemkab Malang. Mereka sangat kecewa dengan kerja disparbud yang buang-buang uang tapi tak menghasilkan apa-apa. Target mendatang wisatawan luar Malang, apalagi mendatangkan wisatawan mancanegara, nol besar.

Masyarakat akhirnya melakukan evaluasi. Ada yang mengevaluasi cara penggelaran MBF, ada juga yang mengkritisi anggarannya. Nah, untuk mengkritisi anggaran, mereka akhirnya ingin tahu berapa sih besaran dana untuk disparbud di APBD. Jumlahnya lumayan, ada sekitar Rp 29 miliar.

Namun, ketika ditelisik untuk apa saja anggarannya, masyarakat hanya menemukan sedikit sekali anggaran yang diumumkan di SIRUP (Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan). Tak ada satupun anggaran kegiatan even yang dicantumkan di SIRUP.

Karena disembunyikan, maka masyarakat mulai menerka-nerka bahwa penyembunyian even di SIRUP ini merupakan cara bermain anggaran ala disparbud. Ada juga yang mengira-ngira, dengan penyembunyian ini maka semua even akhirnya bisa dimonopoli oleh orang-orang dekat disparbud. 

Cerita di balik berita mengenai penyembunyian SIRUP dan kaitannya dengan menopoli even ini akan kami sajikan secara berseri di MalangTimes, media berjejaring terbesar di Indonesia. 

Kami akan sajikan secara komprehensif pernyataan dari lembaga swadaya masyarakat, anggota DPRD Kabupaten Malang, disparbud sendiri, dan juga dari Plonk.