Pembuatan keris (teraswisata.com)
Pembuatan keris (teraswisata.com)

MALANGTIMES - Tanggal 25 November, diperingati sebagai Hari Keris Dunia. Keris bukan hanya senjata, tetapi memiliki jejak panjang dalam masyarakat. Tak terkecuali keris yang terus dicipta oleh para empu di Malang Raya, khususnya di Kabupaten Malang. 

Meski demikian, hingga saat ini masih ada kontroversi soal keris. Baik dari kalangan yang mengagumi maupun yang tidak menyukai keris. 

Satu sisi, keris dipandang sebagai warisan leluhur dengan berbagai nilai kesakralan, filosofis dan estetika tinggi yang membuat UNESCO PBB pun mengakuinya sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia. 

Di sisi lainnya, masih banyak khalayak umum menempatkan keris sebagai benda yang lekat dengan mistik, kemusyrikan, dan berbagai hal negatif lainnya.

Jejak penafsiran ini pula yang masih terus hidup di dalam masyarakat. Padahal, keris menurut Wahyu Eko Setyawan (WES) penggiat perkerisan Malang Raya, adalah doa-doa yang dibendakan.

"Keris itu adalah doa yang dibendakan. Dimana orang yang akan membuat keris kepada para empu, tentunya juga memiliki harapan-harapan dan doa atas benda yang dimintanya. Jadi bagi saya keris itu ya doa yang dibendakan dan dicipta oleh para empu," ucapnya kepada MalangTimes, Jumat (22/11/2019).

Dengan definisi itulah, para empu pembuat keris biasanya merupakan orang-orang yang berwatak halu. Tak terkecuali para empu di Kabupaten Malang yang jarang tersorot dan memang tak menggebu-gebu menunjukkan eksistensinya. 

Hal yang membuat para penggiat keris pun berharap banyak saatnya para empu yang tersebar di Singosari, Pakisaji, Pakis, Tumpang dan wilayah lainnya, untuk tampil ke permukaan. Dalam upaya membumikan keris yang dipenuhi dengan kisah dan cerita yang menurut WES banyak disalah-persepsikan.

Dikutip dari Wikipedia, asal usul keris belum sepenuhnya terjelaskan karena tidak ada sumber tertulis yang deskriptif mengenainya dari masa sebelum abad ke-15. 

Meskipun penyebutan istilah "keris" telah tercantum pada prasasti dari abad ke-9 Masehi. Namun diperkirakan asal mula penyebutan kata "keris" merupakan singkatan bahasa Jawa dari "Mlungker-mlungker kang bisa ngiris" yang dalam bahasa Indonesia berarti "(Benda) berliku-liku yang bisa mengiris/membelah (sesuatu).

Untuk kajian ilmiah perkembangan bentuk keris kebanyakan didasarkan pada analisis figur di relief candi atau patung. Sementara itu, pengetahuan mengenai fungsi keris dapat dilacak dari beberapa prasasti dan laporan-laporan penjelajah asing ke Nusantara.

Tapi, dari berbagai literatur, misalnya dikutip dalam Origin of The Keris I, II, dan III, Chinese Influence, Laman Old Blades, ada beberapa fase keris yang bisa jadi referensi benda yang memiliki jejak panjang dalam peradaban manusia di dunia.

Pertama, fase asal mula adanya pengaruh India-Tiongkok. Dimana disebutkan, sumber inspirasi pembuatan keris dapat ditemukan pada peninggalan-peninggalan perundagian dari Kebudayaan Dongson dan Tiongkok selatan. 

Dugaan pengaruh kebudayaan Tiongkok Kuno dalam penggunaan senjata tikam, sebagai cikal-bakal keris, dimungkinkan masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan "jembatan" masuknya pengaruh kebudayaan Tiongkok ke Nusantara. Dimana, belati temuan dari kebudayaan Dongson memiliki kemiripan dengan keris Buda (kuno) yang dikenal pada periode pra-Singosari.

Sedangkan pengaruh India, khususnya terkait menghormati berbagai benda logam, seperti keris, yang bisa disamakan seperti apa yang disampaikan WES, keris adalah doa yang dibendakan. Bisa ditemukan dalam prasasti Dakawu (abad ke-6) yang menunjukkan ikonografi India yang menampilkan "wesi aji" seperti trisula, kudhi, arit, dan keris sombro.

Dari pengaruh itu pula, para sejarawan menyampaikan keris pada periode pra-Singosari dikenal sebagai keris Buda (kuno, red). Dengan bentuk pendek dan tidak berluk (lurus), dan dianggap sebagai bentuk awal (prototipe) keris. 

WES sendiri menyampaikan, bahwa karakter keris Malang bentuknya relatif lugas, sederhana tanpa banyak Luk dan ornamen atau aksesoris serta terkesan kaku. "Keris Malang karakternya seperti itu sejak zaman Singosari sampai saat ini. Lugas, sederhana, tapi kuat. Kesan kakunya memang terlihat kuat, mirip dengan karakter masyarakatnya," ujarnya.

Fase berikutnya terkait keris adalah pra masa kerajaan Majapahit. Dimana, masih dalam Origin of The Keris, di era ini yang paling menyerupai keris adalah peninggalan megalitikum dari lembah Besemah, Lahat, Sumatra Selatan di abad 10-5 SM. 

Ditemukan gambar kesatria sedang menunggang gajah dengan membawa senjata tikam (belati) sejenis dengan keris. Selain juga pada panel relief Candi Borobudur (abad ke-9) yang memperlihatkan seseorang memegang benda serupa keris tetapi belum memiliki derajat kecondongan dan hulu/deder nya masih menyatu dengan bilah.

Lumintu dalam buku Besi, Baja, dan Pamor Keris (1985) menuliskan juga, di abad yang sama, prasasti Karangtengah berangka tahun 824 Masehi menyebut istilah "keris" dalam suatu daftar peralatan. Prasasti Poh (904 M) menyebut "keris" sebagai bagian dari sesaji yang perlu dipersembahkan.

Keris dari masa pra-Kadiri-Singasari dikenal sebagai "keris Buda" atau "keris sombro" yang dianggap  sebagai bentuk pengawal keris modern. Contoh bentuk keris Buda yang kerap dikutip adalah keris keluarga Knaud dari Batavia yang didapat Charles Knaud, seorang Belanda peminat mistisisme Jawa, dari Sri Paku Alam V. 

Keris ini memiliki relief tokoh epik Ramayana pada permukaan bilahnya dan mencantumkan angka tahun Saka 1264 (1342 Masehi), sezaman dengan Candi Penataran, meskipun ada yang meragukan penanggalannya.

Keris yang dikenal saat ini atau fase modern, diyakini para pemerhati keris memperoleh bentuknya pada masa Majapahit (abad ke-14). Walau di abad 10-11 Masehi juga telah dikenal bentuk keris yang dipercaya sebagai turunan seperti saat ini. Relief Candi Bahal peninggalan Kerajaan Panai/Pane (abad ke-11 M), serta berbagai relif candi di Malang, Jawa Timur, menunjukkan sudah ada para empu pembuat keris. 

Candi Sukuh, misalnya dengan gamblang menunjukkan seorang empu tengah membuat keris. Relief ini pada sebelah kiri menggambarkan Bhima sebagai personifikasi empu tengah menempa besi, Ganesha di tengah, dan Arjuna tengah memompa tabung peniup udara untuk tungku pembakaran. Dinding di belakang empu menampilkan berbagai benda logam hasil tempaan, termasuk keris.

Di sisi lain, keris menurut WES juga memiliki fungsi di zaman dulu sebagai penunjuk strata sosial atau identifikasi dari seseorang. Dimana, seorang raja atau pangeran akan berbeda kerisnya dengan masyarakat biasa. Hal ini juga sebagai bagian dalam pembagian "kelas" dengan tugasnya yang berbeda-beda. Dimana, lanjutnya, melalui keris itu pula berbagai doa dan harapan pemiliknya disampirkan atau dibendakan.

Jejak panjang keris hasil karya para empu inilah yang sebenarnya diharapkan terus ditampilkan dalam berbagai kegiatan, khususnya di Malang Raya. Seperti yang dinyatakan WES bahwa Kabupaten Malang memiliki para empu yang hasil karya kerisnya diakui secara nasional.

"Para empu Malang ini telah diakui secara nasional dalam dunia perkerisan. Karena itu pula saatnya mereka tampil dipermukaan. Sehingga edukasi perkerisan pun bisa terus dimasifkan pada masyarakat," ujarnya.

Dirinya juga berharap banyak, bahwa keris semakin dikenal sebagai bagian dari budaya logam masyarakat sejak dulu. Serta bisa terus dimajukan dalam berbagai konteks zaman. Misalnya, dalam konteks pariwisata, dimana keris menjadi bagian dalam wisata budaya, maupun dalam konteks ekonomi.

"Kita punya para empu terbaik dan banyak candi di Malang, kita berharap ini lebih diperhatikan dalam konteks pariwisata. Jadi bukan hanya wisata rekreatif atau rekreasi saja," tandas WES.