WES saat pameran keris sebagai bagian dalam membumikan karya leluhur bernilai seni tinggi (WES for MalangTimes)
WES saat pameran keris sebagai bagian dalam membumikan karya leluhur bernilai seni tinggi (WES for MalangTimes)

MALANGTIMES - Berbicara terkait keris sebagai salah satu produk tinggi leluhur, khususnya di berbagai kerajaan tua Jawa yang lokasinya kini menjelma di wilayah Malang, baik kerajaan Dinoyo, Tumapel, Kanjuruhan sampai Singosari, persepsi atau penilaian masyarakat umum masih akan didominasi dengan kesalahan memposisikan keris.

Dimana, keris masih diidentikkan dengan sesuatu yang berbau mistis dan hanya dipergunakan untuk berbagai kepentingan perebutan kekuasaan berlumuran darah. Berbagai kisah terkait ini pun masih terus dieksplor melalui berbagai media, baik buku-buku sejarah maupun film di era-era tahun 1980-an sampai saat ini.

Keris dalam penilaian itulah yang dicoba untuk diluruskan dalam acara Malang Bangkit! Babad Pusaka Singhasari yang akan digelar tanggal 23-25 November 2019 di area Pendapa Kabupaten Malang di Jalan KH Agus Salim Kota Malang.

"Masih banyak yang menilai keris secara salah kaprah di khalayak umum. Keris diidentikkan dengan klenik sampai pada alat bunuh seperti dalam cerita Ken Angrok. Padahal penilaian itu salah besar, walau pun keris memang memiliki daya tuah atau energi yang tersimpan di dalamnya," ucap Wahyu Eko Setyawan (WES), penggiat perkerisan Malang Raya, Jumat (22/11/2019) kepada MalangTIMES.

Bukan hanya kebendaan dan fungsi keris saja yang masih dinilai salah kaprah sampai saat ini. Tapi keberadaan keris yang masih dipercaya sebagian kalangan baru ada dan hadir dalam masyarakat di tahun 700-800 pun, patut diluruskan, khususnya di Malang Raya.

Dimana, menurut WES, budaya logam salah satunya produksi keris sudah ada sejak tahun 300-400 di era Kerajaan Tumapel. "Buktinya bisa dilihat di relief Candi Badut sebagai candi tertua di Malang. Dimana di sana tergambarkan ada sosok membawa keris. Artinya, di era itu keris sudah diproduksi dan dijadikan contoh untuk dipahatkan di batu candi," ujarnya.

Berbagai hal itulah yang membuat para penggiat perkerisan Malang Raya, mencoba terus untuk membumikan atau meluruskan berbagai penilaian yang salah kaprah itu. Yakni, melalui berbagai macam acara, salah satunya adalah Malang Bangkit! Babad Pusaka Singhasari.

Di medium itulah, keris dan berbagai produk logam tosan aji akan digelar, baik lewat pameran, bursa dan edukasinya sekaligus. Sehingga akan semakin banyak masyarakat luas mengetahui bagaimana keluhuran leluhur dalam karya logam bisa semakin membumi.

"Salah satu tujuannya ke sana. Selain memberikan edukasi kepada masyarakat juga mendorong para empu (pembuat keris, red) untuk saatnya tampil ke permukaan. Kita memiliki begitu banyak empu keris di sini yang produknya telah diakui secara nasional," ujar salah satu bakal calon Bupati Malang 2020 yang daftar melalui PDI-Perjuangan.

Di sisi lain, para penggiat perkerisan Malang Raya ini juga berharap banyak, bahwa masyarakat semakin memahami kekayaan pusaka Singhasari. Masyarakat yang diasumsikan saat ini semakin dijauhkan dari keluhuran berbagai hasil olah cipta dan karya, misalnya keris, yang masih banyak dipersepsikan salah kaprah dan terjadi masif. 

Keris sama dengan kemusyrikan, keris diidentikkan dengan dukun berilmu hitam.
Hal ini pula yang terus menerus diupayakan untuk diluruskan, sehingga keris bisa terus bertahan dan relevan di zaman saat ini untuk terus dibicarakan dan diproduksi oleh para empu yang kini banyak beralih mengolah dan menjadi pande besi dengan berbagai karya kesehariannya. Seperti cangkul, parang, golok, serta benda lain keseharian.

Salah satu cara agar para empu yang tersebar di Singosari, Pakisaji, Pakis, Tumpang dan wilayah lainnya, tak turun hanya menjadi pande besi adalah mendorong mereka untuk tampil dan lebih progresif dalam berkarya tosan aji, khususnya keris. 

"Perhatian pemerintah daerah menjadi sangat penting dalam hal ini. Selain meluruskan persepsi masyarakat umum terkait tosan aji, khususnya keris," ujar WES.

"Kalau UNESCO PBB menempatkan keris sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia. Maka kita tentunya harus lebih menghargainya. Salah satunya dengan semakin memberikan perhatian kepada para empu yang ada di Malang Raya ini. Serta membumikan keris dan tosan aji lainnya dalam berbagai kegiatan di tengah masyarakat," pungkasnya.