Suasana Kejurkot Bulu Tangkis 2019 di GOR Djagung. (Hendra Saputra)
Suasana Kejurkot Bulu Tangkis 2019 di GOR Djagung. (Hendra Saputra)

MALANGTIMES - Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kota Malang saat ini masih menghadapi problem untuk mencari bibit atlet yang sangat fokus terhadap prestasi. Hal tersebut karena masih banyak atlet yang bingung antara meneruskan prestasi akademik atau memupuk prestasi di bidang olahraga.

Selama ini, bercita-cita menjadi seorang atlet bagi anak sekolah memang masih menjadi suatu ganjalan. Kebanyakan anak yang menggeluti dunia olahraga harus mengorbankan sekolahnya karena jadwal latihan akan lebih banyak dia fokuskan. Sebaliknya, jika fokus ke sekolah, olahraga yang digeluti tidak akan maksimal.

Apalagi  saat ini sekolah menggunakan sistem fullday school. Jadi, anak dituntut  menghadapi mata pelajaran seharian. Sehingga, jadwal latihan pun terganggu bagi siswa yang menekuni olahraga.

Ketua Umum PBSI Kota Malang Herry Mursid mengatakan bahwa saat ini kebanyakan anak dan orang tua atlet bingung dengan prestasi olahraga atau akademik. "Jadi, memang untuk atlet, seperti sering saya sampaikan bahwa dilema sebagai atlet di usia dini, selalu orang tua terbentur pada dilema antara pendidikan dan profesi sebagai atlet. Karena apa pun kalau serius sebagai atlet, otomatis akademisnya akan ketinggalan," ujarnya.

Herry mengungkapkan bahwa Kota Malang saat ini masih belum mempunyai sekolah yang dikhususkan untuk atlet, yang bisa balance antara akademik dan olahraga. "Kita belum punya sekolah yang khusus untuk atlet. Sehingga itu, mencari bibit-bibit atlet sangat tergantung sekali dengan dukungan orang tua. Maka dari itu dukungan orang tua ini menjadi faktor yang sangat penting untuk pembibitan," ungkap nya.

Herry juga mengakui bahwa mayoritas klub di bawah naungan PBSI Kota Malang masih menghidupi 'dirinya' secara mandiri. Karena itu pula, biaya menjadi pertimbangan bagi orang tua untuk menerjunkan anaknya ikut dalam olahraga.

"Dilema yang kedua mengenai klub-klub di Kota Malang, itu rata-rata klub yang hidup dengan mandiri dan rata-rata hidup dari iuran atlet-atlet yang ikut klub.  Itu juga salah satu memaksimalkan bibit atlet ini juga menjadi kurang. Soalnya, orang tua atlet, selain harus mengorbankan akademis, juga harus keluar biaya dikarenakan belum ada klub yang bisa memberi beasiswa. Jadi, posisinya ini memang kembali lagi ke dukungan keluarga atlet sangat penting," ungkap nya.

Di sisi lain, PBSI Kota Malang sendiri, menurut Herry, juga memiliki anggaran terbatas. Karena itu, rutinnya gelaran kejurkot juga bisa dimanfaatkan untuk membantu klub-klub bulu tangkis Kota Malang.