Tak pernah disangka, Alxavin Sastra Guitara, yang semula dilahirkan dalam keadaan normal ternyata mengidap kelumpuhan otak atau biasa dikenal dengan cerebral palsy.
Gangguan tersebut membuat Xavin, sapaan akrabnya, yang Desember mendatang menginjak usia 4 tahun itu harus menjalani hidup yang tak biasa seperti keadaan orang normal. Bocah kecil itu bahkan mengalami kelemahan dalam indera penglihatannya.
Baca Juga : Update Hari Ini: Total Positif 4.557, Sembuh 380, Meninggal Dunia 399
Anak dari pasangan suami istri Reza Fatmas Ari dan Ovina Ayu Saputri ini, hingga saat ini juga belum dapat berbicara. Bahkan, ia juga belum bisa berjalan dan berlari layaknya anak seumurannya.
Hanya sesekali, saat MalangTIMES hari ini (Selasa, 12/11) mengunjunginya, sang anak kecil ini sempat menangis sambil dipeluk ibunya. Untuk sesekali dicoba terapi duduk, walaupun itu tidak lama.
"Awalnya normal saja, bahkan sampai di usia 3-4 bulan itu masih bisa dikudang (mengajaknya bercanda). Tapi kejangnya ini tidak sembuh-sembuh, akhirnya di usia 5 bulan itu kami coba periksa dan ternyata ada kelumpuhan otak itu. Kalau gejala kejangnya sendiri sejak usia 3 bulan sudah mulai kejang," ungkap Ibunya, Ovina.
Sejak saat itu, Xavin yang merupakan warga Jl Gunung Agung Barat, 3-9, Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun Kota Malang mengalami gangguan pertumbuhan. Badannya sangat kurus, dengan berat badan hanya mencapai 13-14 kg. Saat ini, ia hanya bisa tengkurap ke arah kiri, itupun tidak bisa terlalu lama.
Xavin juga belum bisa memakan makanan yang keras, dan hanya bisa makan jenis makanan yang dilembutkan. Bahkan, akibat dari penyakit itu telah menjalar ke infeksi paru-paru yang terkadang menjadikannya sesak nafas.
"Sejak usia tiga bulan hingga sekarang ini selalu kejang. Tidak pernah ada hari dia nggak kejang, dan itu tidak terhitung berapa kalinya. Kadang sambil sesak," imbuh sang ibu.
Kedua orang tuanya tengah berupaya untuk penyembuhan sang anak. Saat ini yang diutamakan, adalah untuk pembelian oksigen dan kursi adaptasi (kursi roda) yang mampu memiliki penyangga leher dan tubuh.
"Kami saat ini sedang mengupayakan hal itu dan kalau bisa operasi mata, supaya anak saya bisa melihat. Terkait kejangnya memang masih belum tahu bisa sembuh apa tidak. Tapi kita juga ingin anak kita ikut fisioterapi," ungkap wanita 27 tahun itu.
Ovina juga bercerita, jika penyebab dari kondisi Xavin menurut dokter ada dua hal kemungkinan. Yakni, munculnya toxic (karena ada virus dari binatang) dan otak yang mengalami kurang oksigen saat kehamilan. Jika bisa dilakukan terapi, Xavin diyakini akan bisa berjalan seperti anak pada umumnya.
Baca Juga : Dinilai Efektif Tangkal Covid-19, Berikut Cara Membuat Disinfektan Alami
"Dokter curiganya toxic, karena aku dari kecil suka binatang juga, atau bisa jadi aku hamilnya 10 bulan. Tapi, ketika terapi rutin, katanya akan bisa jalan. Ini kita mengusahakan untuk alat indera yang lain agar mandiri," paparnya.
Sebagai orang tua, ia ingin anaknya tidak hanya berdiam diri. Terapi-terapi kecil mulai diterapkan, dengan mengenalkan pada benda-benda permainan meskipun Xavin tidak bisa melihat. Selama ini, Xavin selalu rutin melakukan chek up kesehatan di RS Lavallette Kota Malang.
Pengenalan terhadap benda-benda dilakukan agar Xavin tidak awam dengan benda. Hanya saja itu memang tidak mudah, hingga kini masih belum bereaksi. Ia berharap, kedepan anaknya bisa ikut fisioterapi dan bisa menjalani hidup secara mandiri meski dengan kekurangan.
"Kita latih ringan mengenalkan benda untuk dipegang. Terus terapi bola, masih ngumpulkan ini agar biar jadi kolam bola supaya dia ngerespon, tapi gerak-geraknya itu masih kurang," urainya.
"Harapannya supaya ke depan bisa fisioterapi rutin, terus seandainya bisa syaraf matanya diobati atau dioperasi kita ingin dia bisa lihat lagi, supaya bisa belajar makan, belajar yang lain dan bisa merespon lebih mandiri," imbuhnya.
Jika hal tersebut berhasil dilakukan, menurutnya akan bisa juga memotivasi kasus-kasus dari anak di Kota Malang yang memiliki kondisi yang sama dengan anaknya.
"Kita pingin anak kita nggak diam saja, tapi bisa bergerak itu. Anakku istilahnya harus bisa mandiri. Kalau anakku berhasil, ini nanti bisa memotivasi orang-orang yang memiliki kasus yang sama. Biar nggak putus asa," pungkasnya.
Selain itu saat ini, pihak keluarga Xavin tengah menggalang donasi untuk kebutuhan pengobatan di kanal kitabisa.com. Dari hasil donasi tersebut, rencananya akan digunakan untuk biaya fisioterapis, pembelian oksigen dan kursi adaptasi.
Diketahui, Lumpuh Otak (Cerebral Palsy) sendiri merupakan suatu kelainan kongenital pada gerakan, otot, atau postur. Biasanya disebabkan oleh perkembangan otak yang tidak normal, sering kali sebelum lahir. Diagnosisnya masih membutuhkan dari medis, pada penderitanya akan muncul gejala refleks berlebihan, anggota badan yang lemas atau kaku, dan gerakan tak terkendali. Kerap muncul di anak usia dini.
