Tersangka Suroso sesaat setelah diamankan polisi usai membunuh adik kandungnya sendiri (Foto : Dokumen MalangTIMES)
Tersangka Suroso sesaat setelah diamankan polisi usai membunuh adik kandungnya sendiri (Foto : Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tragedi berdarah yang terjadi di wilayah Kabupaten Malang, hingga kini masih dalam tahap pendalaman polisi. Pasalnya, tersangka yang diketahui bernama Suroso warga Dusun Kalipakem, Desa/Kecamatan Donomulyo ini. Masih menjalani serangkaian tahap penyidikan.

”Beberapa hari lalu, tersangka sudah kami bawa ke RSJ (Rumah Sakit Jiwa) Lawang, untuk menjalani pemeriksaan akan kondisi kejiwaannya. Hal ini guna memastikan apakah yang bersangkutan memang mengalami gangguan jiwa, sehingga membuat tersangka tega membunuh adik kandungnya,” kata Kanitreskrim Polsek Donomulyo Ipda M Arif Karnawan, Jumat (6/9/2019).

Seperti yang sudah diberitakan, Suroso dinyatakan sebagai pelaku tunggal dalam kasus tewasnya Sujianto (adik kandung tersangka). Warga Dusun Bandung, Desa/Kecamatan Donomulyo ini, dibunuh dirumahnya sendiri dengan cara ditusuk pisau oleh tersangka pada Kamis (29/8/2019) malam.

Insiden berdarah tersebut terjadi saat korban baru saja pulang dari menghadiri acara tahlilan yang diadakan oleh tetangganya. Setibanya di rumah, pria 38 tahun itu langsung disambut dengan tusukan menggunakan sebilah pisau dapur tepat dibagian perut sebelah kanannya.

Meski sempat bertahan selama 7 jam saat menjalani perawatan intensif di RSSA (Rumah Sakit Saiful Anwar) Kota Malang. Sujianto akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (30/8/2019) dini hari, karena luka parah yang dialaminya.

Sesaat setelah kejadian tersebut, polisi yang mendapatkan informasi langsung dikerahkan ke lokasi kejadian guna mengamankan pelaku. Saat hendak dibawa ke kantor Mapolsek Donomulyo, Suroso hanya bisa pasrah dan mengakui segala perbuatannya.

Dihadapan penyidik, pria 40 tahun itu mengaku tega menghabisi nyawa adik kandungnya karena kasus hutang piutang. Dimana bisnis konter penjualan handphone yang dikelola adiknya, diakui tersangka jika modal awal bersumber dari uang pribadinya.

Atas dasar itulah, Suroso selalu minta jatah penghasilan yang didapat adiknya dari penjualan handphone di konter yang diberi nama Blacky Cell tersebut. Terakhir, pada hari Kamis (29/8/2019) malam, Suroso kembali meminta uang kepada korban guna membeli sepeda motor.

Namun, lantaran tidak segera diberi uang. Tersangka akhirnya nekat menghabisi nyawa adiknya dengan cara menusukkan mata pisau dapur ke bagian perut korban. Lantaran aksi bringasnya itulah, polisi sempat menduga jika Suroso mengalami gangguan jiwa. Bahkan dugaan tersebut juga dikuatkan dari keterangan keluarganya, dimana tersangka sempat dibawa ke pengobatan alternatif karena diduga mengalami gangguan jiwa.

Kondisi kejiwaan yang tidak stabil itu terjadi semenjak pekerjaan yang dilakoni Suroso mengalami kegagalan. Perlu diketahui, sebelum dijebloskan kedalam sel tahanan. Tersangka sempat mengais rejeki di negara Malaysia. Sukses disana pria yang kini berusia kepala empat tersebut, kembali mencoba keberuntungan di Kalimantan. Meski sempat bergelimang harta dan memberikan modal usaha kepada adiknya. Nyatanya seiring berjalannya waktu, pekerjaan yang dilakoni Suroso semakin merosot. Sedangkan bisnis yang dilakoni adiknya justru semakin sukses.

Disisi lain, polisi yang mulai menemukan puzzel akan kasus pembunuhan kakak terhadap adik kandungnya ini. Terus berupaya mencari fakta baru guna memastikan motif dibalik aksi pembunuhan tersebut.

”Kasusnya hingga saat ini memang masih dalam tahap penyidikan. Selain mencari kepastian motifnya, kami juga masih menunggu hasil dari tes kejiwaan yang dijalani tersangka di RSJ beberapa waktu lalu itu. Informasinya hasil pemeriksaan akan kondisi kejiwaan tersangka baru bisa diketahui sekitar dua minggu lagi,” terang Arif kepada MalangTIMES.com.

Nantinya jika hasilnya keluar, lanjut Arif, penyidik akan langsung melakukan rekonstruksi kejadian. Namun demikian, sementara ini polisi masih mendalami hasil olah TKP (Tempat Kejadian Perkara) serta kesaksian dari beberapa saksi.

Rekonstruksi ini sendiri bertujuan untuk mencocokkan keterangan tersangka yang disampaikan dalam berita acara pemeriksaan (BAP), dengan kejadian yang sebenarnya terjadi. ”Jika berkas penyidikan sudah lengkap dan tersangka dianggap bersalah, maka berkasnya akan segera kami limpahkan ke Kejaksaan,” tutup Arif.