Kualitas Dijaga, Produksi Kopi Taji Terus Meningkat

Sep 01, 2019 21:59
foto: (malangtimes)
foto: (malangtimes)

MALANGTIMES - Kualitas sebuah kopi menjadi kunci produksi kopi dapat terus berjalan lancar. 

Itu sebabnya, petani kopi Desa Taji tetap memilih mempertahankan proses panjang sebelum kopi ke tangan konsumen. 

Baca Juga : Nongkrong Suasana Asri, Sejuk, dan Tenang Tak Jauh dari Pusat Kota Malang

Meski terbilang lama dan berbelit, proses memproduksi kopi dengan cara tradisional tetap dilakukan.

Mulai dari proses penanaman, perawaran, hingga memanen dan pasca panen terus dilakukan.

Tujuannya adalah menjaga kualitas kopi agar tetap sama seperti sebelumnya. 

Karena bagaimana pun juga, kenikmatan kopi yang merasakan adalah para penikmat kopi dan konsumen.

"Kami tetap lakukan sortir hingga menjamur dan proses lainnya karena kami ingin pertahankan kualitas kopi. Jika tidak diproses sedemikian rupa, pasti hasilnya akan berbeda," kata petani kopi Desa Taji, Kambang pada MalangTIMES, Minggu (1/9/2019).

Dengan menjaga dan merawat pohon kopi, menurutnya hasil kopi yang dihasilkan selama ini terus melimpah. 

Jika saat pertama memanen beberapa tahun lalu, ia mampu memanen 40 kilogram biji kopi dari total 50 pohon yang ia miliki. 

Selanjutnya, biji kopi yang ia panen terus bertambah setiap tahunnya.

"Tahun berikutnya saya dapat 50 kilogram dari total 50 pohon kopi yang saya miliki saat itu," katanya lagi.

Melihat hasil produksi yang bertambah, ia pun kemudian memilih memperluas lahan kopi miliknya. 

Kini, total ada ribuan pohon kopi yang ia kelola dan selalu mengjasilkan biji kopi yang melimpah.

Produksi kopi pun berjalan cukup lancar dan selalu diburu konsumen dari banyak daerah.

"Biasanya yang ambil kopi di sini itu pengusaha cafe atau warung kopi," jelasnya.

Baca Juga : Punya Rasa Manis, Pahit dan Legit, Ciri Khas Durian Kunir dan Bajol Desa Jombok

Dia bercerita, harga kopi di Desa Taji tergolong sangat manis. 

Di mana kopi arabika yang diproduksi biasanya dibandrol Rp 250 ribu per kilogram. 

Sementara kopi robusta Rp 40 ribu per kilogramnya.

Lebih jauh Kambang menyampaikan, salah satu kesulitan dan kendala yang menimpa petani kopi adalah hama atau penyakit yang menyerang biji kopi. 

Namun dengan proses perawatan yang baik, hama buruk yang sering menyerang kopi dapat diatasi dengan baik dan mudah.

Perbandingan biji kopi sehat (kiri) dan biji kopi yang terkena hama (kanan) yang tampak terdapat bercak hitam pada bagian dalam biji kopi (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

"Ketika ada biji yang terkena hama, maka harus segera dibersihkan. Termasuk pada biji yang jatuh. Sehingga hama tidak menyerang biji yang lain. Jika dibiarkan maka akan menular dan membuat hasil panen jelek," tambahnya.

Namun sejauh ini, menurutnya hasil panen kopi di Desa Taji termasuk memuaskan. 

Karena dari berton-ton kopi yang dipanen, biasanya hanya sedikit yang disortir saat proses awal maupun proses pengambangan. 

Itu menunjukkan, perawatan yang dilakukan oleh petani cukup berhasil.

"Satu ton hasil panen, biasanya yang jelek sedikit. Mungkin hanya satu kaleng saja dan nggak banyak. Kami selalu berusaha menjaga kualitas kopi," pungkasnya.

Topik
MalangBerita Malangdesa tajikopi malangkopi desa tajiTerminal Kopi MalangT COFFE
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru