MALANGTIMES - Penanaman pendidikan karakter yang diterapkan SMAK Cor Jesu Malang kepada siswa-siswanya membuat sekelompok siswi yang tergabung dalam Cor Jesu Youth Choir memborong juara dalam Bali International Choir Festival 2019.
Baca Juga : Dampak Covid-19, Beasiswa LPDP ke Luar Negeri Ditunda Tahun Depan
Mewakili Kota Malang dan Indonesia, Cor Jesu Youth Choir medaih 4 medali emas dan 1 penghargaan penampilan menarik pada kompetisi bergengsi yang diikuti oleh 100 peserta dari 15 negara pada 23-27 Juli 2019 lalu.
Sebelumnya, 32 siswi yang tergabung dalam Cor Jesu Youth Choir itu digembleng dengan latihan berat dan ketat. Mulai dari olahraga seperi lari 40 km, push up, sit up, latihan berjam-jam dan berbulan-bulan di luar jam kelas hingga mengorbankan hari libur, disiplin dan cekatan, mengatur asupan makanan hingga beauty class.
Kepala SMAK Cor Jesu Agatha Ariantini SPsi MPd menyatakan, keberhasilan ini adalah produk dari penerapan pendidikan karakter.
"Kelompok paduan suara ini sebetulnya produk pendidikan karakter. Prosesnya itu bukan hanya sekadar pada latihan vokal sebetulnya. Tapi anak-anak juga dilatih saling memberi masukan. Jadi tidak boleh sakit hati ketika teman mengatakan kekurangan masing-masing. Kemudian ketertiban, komitmen, hingga pengorbanan," bebernya saat ditemui di SMAK Cor Jesu, Selasa (30/7/2019).
Dalam menyiapkan kompetisi ini, siswi-siswi dalam Cor Jesu Youth Choir tidak libur tatkala teman-temannya sudah libur.
Kepada guru pembimbing, Agatha memang menekankan pada pentingnya proses yang baik dibandingkan dengan hasil.
"Saya selalu menekankan nomor 1 prosesnya. Prestasi itu pasti akan mengikuti kalau proses itu benar," tandasnya.
Mereka pun tidak ingin mendapatkan prestasi dengan cara yang instan. Diakui Agatha, proses yang mereka lewati lebih dari 75 persen justru mengarah ke pembentukan karakter.
"Kalau tidak, mana mungkin mereka bertahan. Tugas-tugas, ulangan seperti biasa. Tidak ada perlakuan khusus. Latihan pun tidak ambil jam pelajaran," ungkapnya.
Setiap anggota dalam Cor Jesu Youth Choir pun mengetahui konsekuensi ini. Mereka melalui seluruh proses dengan tekad yang kuat.
"Jadi ini bukan hanya soal latihan paduan suara tapi pembentukan karakter," tegasnya.
Diakui salah satu siswi, yang terberat adalah menahan diri untuk tidak makan makanan pedas.
"Paling sulit menahan diri untuk tidak makan sambel. Sebenarnya banyak godaannya. Tapi kami selalu ingat-ingat harus tirakat," ungkap Fransiska Hellen Dea Nugraheni, salah satu anggota Cor Jesu Youth Choir.
Baca Juga : Belajar dari Rumah Lewat TVRI Mulai Hari Ini, Intip Jadwalnya Yuk!
"Gorengan juga tidak boleh. Ketika di Bali, sampai kerupuk pun dikumpulkan tidak boleh makan," imbuh Natasya Louise Angelica.
Diakui Agustinus Wahyu Permadi selaku Coach dan Conductor, mengatur puluhan murid perempuan memang tidak mudah. Terlebih lagi perempuan pasti memiliki fase datang bulan yang mempengaruhi moodnya. Akan tetapi, mereka tetap harus mengikuti semua proses dengan disiplin.
"Treatment khusus tidak ada. Saya berpedoman apapun kondisinya, mau capek mau sakit kita harus bisa terima. Ketika latihan memang ada yang pegang perut itu masih ada, tapi mereka tetap berusaha untuk bisa mengejar mimpi," beber Agustinus.
Untuk menjaga stamina, setiap siswi diwajibkan untuk lari sejauh 40 km dalam satu bulan. Setiap hari, Agustinus memantau melalui aplikasi Endomondo.
"Setiap malam saya buka prosesnya anak-anak gimana olahraganya. Mereka juga lari minimal 1 kilo dan sit up push up sebelum latihan," imbuhnya.
Latihan dimulai pukul 14.30 hingga pukul 17.00. Selain latihan vokal, mereka juga diberikan beauty class dengan menghadirkan pelatih khusus.
Lawan terberat dari Cor Jesu Youth Choir dengan Koreografer Raden Aditia Prawiranegara dan Pinais Albertus Galih Wicaksono (Guru orkestra dari Cor Jesu) ini adalah kelompok paduan suara dari Afrika Selatan dan Filipina.
Mereka dinilai oleh juri internasional dari Slovenia, Amerika, Srilanka, Indonesia, Vietnam, Filipina, Italia, dan Malaysia.
Lagu yang dibawakan di antaranya I’ll Never Love Again (dengan aransemen Dinar Primasti), Aglepta (Arne Mellnas), Las Amarillas (Stephen Hatfield), I’ll Never Love Again (Dinar Primasti), Don’t Rain on My Parade (Dinar Primasti), Dangerous Woman (Dinar Primasti), Las Amarillas (Stephen Hatfield), Aglepta (Arne Mellnas), dan Cikala Le Pong Pong (Ken Steven).
