Tito presiden Yugoslavia (Ist)

Tito presiden Yugoslavia (Ist)



MALANGTIMES - Berbicara sosok Che Guevara, sampai saat ini, masyarakat khususnya generasi millennial pasti mengenalnya. Gambar wajah sosok pemberontak dengan ketampanan khas Argentina, serta sepak terjangnya dalam revolusi Kuba, telah menempatkan pria kelahiran 14 Juni 1928 dan meninggal 9 Oktober 1967, sebagai ikon perlawanan.

Serta simbol perlawanan dalam gerakan kontra-kebudayaan dan dalam budaya populer.

Wajahnya menjelajah berbagai negara, melalui film, poster, pamphlet, kaos sampai berbagai aksesoris kekinian. Hidup melintasi waktu dan batasan-batasan negara sampai saat ini.

Tapi, sebelum popularitas Che, sebenarnya ada juga satu tokoh yang juga memiliki pesona yang sama. Bahkan namanya sampai saat ini pun masih diabadikan dan dikenang oleh dunia. Tokoh ini juga mewujud sebagai ikon pop generasi millennial, walaupun di Indonesia, dimungkinkan masih kalah tenar dengan Che.

Dialah Josip Broz Tito (7 Mei 1892-4 Mei 1980). Tokoh revolusioner yang menjadi presiden Yugoslavia tahun 1953-1980. Seorang diktator baik hati, begitulah sebutan dari negara-negara Balkan bekas Yugoslavia, ditujukan kepadanya.

Sebutan diktator yang baik hati, berawal sejak Broz Tito bergabung dengan Partai Komunis Yugoslavia (CPY) dan menjabat sebagai fungsionaris partai dan organisator serikat pekerja di Kroasia dan Serbia. Karier Tito merangkak naik dengan berbagai pengalaman tempur dan berorganisasi nya. 1927 Tito menjadi bagian dari komite CPY untuk Zagreb dan menjadi sekretaris organisasi. 

Berbagai aktivitas politiknya pun semakin kuat dan gencar dia lakukan. Memimpin demonstrasi atas pembunuhan wakil Kroasia di parlemen Belgrade, menentang kekuasaan Raja Alexander I sampai akhirnya ditangkap polisi dan dipenjara lima tahun karena menghidupkan CPY yang saat ini merupakan aliran terlarang.

Sepak terjang Tito yang ternyata nama samaran setelah dirinya bebas dari penjara, menarik perhatian Uni Soviet. CPY kemudian dirangkul untuk menjadi bagian dari Komintern. Dari Februari 1935 sampai Oktober 1936, Tito berada di Uni Soviet, tempat ia bekerja di jajaran Komintern. 

Namanya mulai mencuri perhatian dunia saat ia memimpin pasukan Partisan Yugoslavia atau Pasukan Pembebasan Nasional yang komunis itu melawan pendudukan Nazi Jerman di wilayah Kerajaan Yugoslavia. Peperangan yang disulutnya melawan Nazi terus meluas, sampai Soviet  Inggris dan AS.

Tidak hanya memerangi Nazi Jerman, Tito juga kerap berselisih dengan Stalin. Akhirnya Stalin mengeluarkan CPY dari Biro Informasi Komunis (Kominform) pada 1948. Sejak itu hubungan Yugoslavia dan Uni Soviet menegang. Keduanya kerap terlibat adu mulut, saling boikot ekonomi dan Soviet pernah mengancam akan menyerang Yugoslavia. 

Sikap tegas Tito kepada Stalin yang membuatnya dijuluki pemimpin komunis yang langka. Hal ini didasarkan pada ketidakmauan Tito atas Yugoslavia hanya sebagai satelit penyokong Soviet. 

Richard West dalam Tito and the Rise and Fall of Yugoslavia (1994), menuliskan Tito berjuang membebaskan  Yugoslavia dari Nazi Jerman dan menggulingkan Kerajaan Yugoslavia akan terasa sia-sia jika  hanya menjadi negara satelit penyokong Blok Timur. Serta  Tito tak bisa leluasa menjalankan kebijakan politiknya sendiri.

Keputusan Tito yang menjadi Presiden  tahun 1953, tepat untuk Yugoslavia. Dirinya dalam menjalin hubungan kerjasama dengan negara luar, tidak tersekat oleh salah satu blok. Dengan lincahnya, Tito berpolitik luar negeri.

 Jalur atau posisi tengah dengan tidak menunjukkan dukungan kuat ke Blok Timur maupun berpaling ke Blok Barat. Membuatnya bebas bergerak membangun Yugoslavia. Sampai akhirnya Tito, Juli 1956 bertemu Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser dan mengembangkan konsep Non-Blok. 

1 September 1961 konferensi Gerakan Non-Blok (GNB) pertama dihelat di Belgrade, Yugoslavia (kini Serbia). Dipelopori lima pemimpin negara, yaitu Josip Broz Tito, Sukarno (Indonesia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Jawaharlal Nehru (India), dan Kwame Nkrumah (Ghana).

Tito membangun negaranya dengan konsep persaudaran dan persatuan di antara semua bangsa, etnis, dan agama. Di era Tito, Yugoslavia menurut masyarakatnya adalah surga yang ada di bumi. Seluruh rakyat bisa menikmati layanan pendidikan dan kesehatan gratis, mendapat uang pensiun yang layak dan pekerjaan yang mapan. 
Pendidikan dibuka luas dan dibebaskan untuk dipilih sesuai minat masyarakat saat itu. Sains, seni, budaya dan lainnya menjadi bagian pendidikan yang bisa diakses luas di era Tito.

“Itu adalah waktu di mana Tuhan sedang berjalan di bumi: pekerjaan yang enak, uang yang bagus, liburan di luar negeri atau di Kroasia,” kata Gordana Majstorovic (55), seorang teller bank di Belgrade, Serbia kepada The Independent pada 2010.

“Itulah saat di mana ada keselamatan dan keamanan; seorang ayah pekerja yang selain sebagai kepala keluarga, juga berjuang bagi pendidikan dan perawatan kesehatan gratis untuk semua. Yugoslavia punya reputasi yang baik di seluruh dunia,” ujar Josip-Joska Broz, cucu Tito.

Maka, wajar pula, saat sang diktator baik hati ini meninggal, 4 Mei 1980, berbagai media menulis upacara pemakamannya sebagai yang terbesar di dunia dalam kapasitasnya sebagai pemimpin negara. Berbagai  pemimpin dunia baik dari Blok Barat, Blok Timur, dan Non-Blok hadir. Terdiri dari 4 raja, 31 presiden, 6 pangeran, 22 perdana menteri, dan 47 menteri luar negeri. 

Di dalam negara Yugoslavia sendiri, kematian Tito menjadi duka paling kelam. Kehilangan putra terbaiknya, Yugoslavia disapu gelombang nasionalisme etnis. Perang saudara tak terhindarkan dan menyebabkan sekitar 100.000 orang tewas, 2,4 juta menjadi pengungsi, dan puncaknya tujuh negara menyatakan kemerdekaannya masing-masing. 

Tapi, nama Tito tetap abadi di berbagai pecahan negara Balkan ini. Radio Liberty melansir, puluhan organisasi yang didirikan untuk menjaga ingatan tentang Tito banyak berdiri di Kroasia dan Bosnia. Di Slovenia, Tito telah menjadi semacam ikon pop bagi anak-anak milenial. 

Kaos bergambar wajah Tito bertebaran laksana Che Guevara-nya Balkan. Setiap tahun ribuan simpatisan Tito dari seluruh wilayah bekas Yugoslavia berziarah mengunjungi tempat kelahiran Tito di Kumrovec, Kroasia maupun ke makamnya.

End of content

No more pages to load