Dr Purnadi Kepala Bapenda Kabupaten Malang (Nana)

Dr Purnadi Kepala Bapenda Kabupaten Malang (Nana)


Pewarta

Dede Nana

Editor

Heryanto


MALANGTIMES - Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Malang, terus berupaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

Melalui sektor pajak daerah dan retribusi, Bapenda Kabupaten Malang, melakukan berbagai evaluasi disetiap sektornya. 

Tak terkecuali, di sektor pajak mineral bukan logam dan batuan.

Pajak mineral bukan logam dan batuan yang ada di Kabupaten Malang sampai tahun 2018 lalu telah menyumbangkan pendapatan sebesar Rp 750 juta. 

Pendapatan pajak mineral bukan logam dan batuan ini ditopang dari enam objek yaitu batu kapur, batu gunung/kali, tanah timbunan, pasir, batu pecah dan phirophilit.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Bapenda Kabupaten Malang Purnadi yang mengatakan, walau pajak mineral bukan logam dan batuan terbilang kecil dibanding sektor lainnya, tapi masih bisa terus dioptimalkan.

“Secara total nominal dibanding pajak daerah lain tentunya kecil, tapi masih bisa terus ditingkatkan. Dengan sumber daya alam Kabupaten Malang yang kaya ini,” kata mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Malang, Selasa (14/05/2019).

Pendapatan pajak mineral bukan logam dan batuan Kabupaten Malang, sempat terbilang besar di tahun 2016, yakni mencapai sekitar Rp 900 juta. 

Hal ini pula yang membuat beberapa kalangan mencoba memberikan masukan kepada Pemerintah Kabupaten Malang, terkait semakin merosotnya PAD dari pajak itu. 

Rumor adanya kebocoran PAD di pajak mineral bukan logam dan batuan pun sempat mencuat. 

Walau akhirnya tidak terdengar kembali persoalan pendapatan dalam pajak mineral bukan logam dan batuan ini.

Purnadi juga menyampaikan, bahwa pendapatan pajak mineral bukan logam dan batuan memang sempat meroket di tahun 2016. 

“Lantas turun kembali dan tahun 2018 lalu merangkak sebanyak Rp 150 juta. Tahun ini kita optimis juga mampu mengumpulkan pendapatan sesuai target yang ditentukan,” ujarnya.

Dari total pendapatan pajak mineral bukan logam dan batuan, Purnadi menyampaikan juga, masih didominasi dari pendapatan pajak bahan mineral Phirophilit. 

Yakni material dengan kandungan silika yang tinggi dan memiliki ketersediaan cukup banyak (jutaan ton) dan berada pada kawasan luas (ratusan hektar) di Indonesia. Tak terkecuali di Kabupaten Malang. 

“Nominal yang dikumpulkan dari pajak bahan mineral Phirophilit sebesar Rp 472 juta lebih. Sisanya dari bahan lainnya,” ucap Purnadi.

Sedangkan diurutan kedua disumbang dari pajak bahan mineral batu gunung/kali sebesar Rp 158 juta serta pasir yang menyumbang PAD sekitar Rp 79 juta. 

Ada yang menarik apabila dilihat di tahun 2017 lalu, dimana jenis pajak mineral bukan logam dan batuan didominasi dari pendapatan batu gunung/kali sebesar Rp 203 juta.

Disinggung terkait target pajak mineral bukan logam dan batuan tahun 2019, Purnadi menyampaikan masih seperti tahun 2018 lalu.

“Target kita bisa seperti tahun lalu, walaupun ada target lainnya yang mengacu pada tahun 2016. Kita targetkan Rp 938 juta,” pungkasnya.

 

End of content

No more pages to load