Murid MI Darul Ulum Kota Batu saat bermain mercon bumbung di Pesantren Rakyat Jalan Lahor, Dusun Macari, Desa Pesanggarahan, Kecamatan/Kota Batu sembari mengunggu berbuka puasa, Sabtu (11/5/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

Murid MI Darul Ulum Kota Batu saat bermain mercon bumbung di Pesantren Rakyat Jalan Lahor, Dusun Macari, Desa Pesanggarahan, Kecamatan/Kota Batu sembari mengunggu berbuka puasa, Sabtu (11/5/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)


Editor

Heryanto


MALANGTIMES - Meriam bambu merupakan salah satu permainan tradisional Indonesia. 

Jika di Jawa Timur lebih dikenal dengan sebutan Merco Bumbung. 

Permainan ini disering dimainkan saat bulan suci Ramadan seperti sekarang ini.

Anak-anak pria hingga dewasa memainkannya saat menjelang berbuka atau menghabiskan waktu ngabuburit dengan permainan ini. 

Sebagian memainkan alat ini usai melaksanakan ibadah salat tarawih.

Lalu bagaimana sejarah dari Mercon Bumbung? 

Tokoh masyarakat Ulul Azmi mengatakan Mercon Bumbung memiliki cerita dan sejarah panjang.

Karena permainan ini juga tersebar di beberapa wilayah Nusantara.

“Meriam merupakan sebuah senjata modern yang dimiliki bangsa Portugis kala itu. Masa itu kehadiran meriam bagi orang-orang pribumi menjadi perhatian mereka,” kata Azmi.

Hingga mereka heran saat melihat ada benda yang bisa mengeluarkan bola panas dan mengakibatkan kerusakan yang lumayan besar. 

Bermula dari hal tersebut Mercon Bumbung diwujudkan dalam bentuk meriam yang dibuat dari bahan bambu. 

Cara memainkannya pun nyaris sama dengan penggunaan Meriam sungguhan.

Yakni dengan menyulut lubang yang ada di bagian pangkal bambu dengan api. 

"Dan saat itulah rakyat mencoba menakut-nakuti dan mereplika senjata modern tersebut dengan Mercon Bumbung" imbuhnya.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya permainan ini selalu dimainkan saat Ramadan. 

Hal ini juga behubungan dengan akulturasi budaya Cina yang juga menyalakan petasan saat hari-hari besar.

Karena itu saat bulan suci Ramadan, meskipun masih jarang banyak masyarakat di Kota Batu yang masih menjajal permainan ini. 

Sebab permainan ini juga mudah dibuat dan bahannya mudah dicari. 

Bahkan jarang sekumpulan anak laki-laki berlomba-lomba membunyikan Meriam Bambu hingga suaranya menjadi bising. 

Sebab barang siapa yang berhasil menghasilkan suara ledakan paling keras, itulah yang diakui sebagai jagonya Mercon Bumbung.

Tidak jarang, karena terlalu kerasnya suara dentuman yang ditimbulkan, mercon bisa pecah dan terbelah menjadi dua bagian.

End of content

No more pages to load