Foto ilustrasi (ist)
Foto ilustrasi (ist)

MALANGTIMES - Dalam tulisan sebelumnya, dijelaskan mengenai latar belakang Geoscientists sekaligus Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB) Adi Susilo PhD meneliti bencana alam gempa bumi dari tahun 1970-2017.

Tulisan tersebut bisa dibaca melalui link ini: Benarkah Bencana Alam Diakibatkan Kemaksiatan Manusia? Ternyata Ada Bukti Sainsnya

Penelitian berdasarkan katalog data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan United States Geological Survey (USGS) tersebut menunjukkan bahwa gempa bumi di bulan Ramadan memiliki jumlah paling sedikit jika dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Penelitian ini dibatasi di wilayah Jawa Timur dengan kekuatan gempa lebih besar dari atau sama dengan 3 Skala Richter dengan menggunakan penanggalan Islam. "Hasil penelitian ini antara tahun 1970 sampai 2017 mengenai jumlah gempa di Jawa Timur yang mempunyai magnitudo lebih besar atau sama dengan 3 Skala Richter," jelasnya kepada MalangTIMES saat ditemui secara khusus di ruangannya di gedung Fakultas MIPA UB.

Dalam penelitian itu ditunjukkan persentase gempa di bulan Ramadan hanya sebesar 5,690 persen dengan frekuensi gempa sebanyak 87.

Sementara frekuensi gempa terendah kedua ada di bulan Rabiul Awal dengan jumlah 95 dan persentase 6,213 persen. Frekuensi gempa terendah ketiga ada pada bulan Rabiul Akhir dan Jumadil Akhir dengan jumlah gempa 101 dan persentase sebesar 6,606 persen.

Frekuensi terendah selanjutnya ada di bulan Jumadil Awal dengan jumlah gempa 106 dan persentase sebesar 6,933 persen. Sedangkan bulan Safar memiliki frekuensi gempa sebanyak 109 dengan persentase 7,129 persen.

Frekuensi gempa bulan Sya'ban sebanyak 112 dengan persentase 7,325 persen; bulan Rajab sebanyak 123 dengan persentase 8,044 persen; bulan Syawal memiliki frekuensi gempa 142 dengan persentase sebesar 9,287 persen.

Nah, frekuensi gempa terbesar ada pada bulan Dzulhijjah, Muharram, dan Dzulqa'dah. Pada bulan Dzulhijjah, frekuensi gempa sebanyak 215 dengan persentase 14,061 persen; bulan Dzulqa'dah sebanyak 157 dengan persentase 10,268 persen; dan bulan Muharram sebanyak 181 dengan persentase 11,838 persen. "Ramadan ternyata paling sedikit, jumlahnya 87. Yang paling tinggi adalah Dzulhijjah," ucap Adi.

Geoscientists dan Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB), Adi Susilo PhD.

Hal ini menunjukkan korelasi antara perbuatan manusia dengan bencana alam di bumi. Di mana, di bulan Ramadan, kemaksiatan berkurang lantaran umat Islam lebih fokus untuk meningkatkan ibadah dan kebaikan demi meraih keutamaan Ramadan.

Selain melaksanakan puasa wajib, mereka juga mengisi bulan Ramadan dengan memperbanyak baca dan tadabbur Alquran. Selain itu, kaum muslim juga memperbanyak salat-salat sunnah, memperbanyak infaq dan sodaqoh kepada orang-orang yang membutuhkan. Sehingga di bulan Ramadan, kemaksiatan pun berkurang.

"Nah hipotesis ini kok ternyata signifikan. Di situ sudah menunjukkan berarti memang ada korelasinya perbuatan manusia dengan adanya bencana di bumi, salah satunya gempa ini," jelas Adi.

Seperti yang diketahui, ada beberapa orang yang menentang pengkaitan antara bencana dengan perbuatan manusia. Bagi mereka yang membantah, bencana tak selayaknya dan tak relevan jika dihubungkan dengan kemaksiatan yang dilakukan manusia.

Bagaimana mungkin terjadinya bencana alam dikaitkan dengan moralitas, kemaksiatan, kesyirikan, hal-hal yang bukan aktivitas fisik, bahkan abstrak? "Kadang-kadang memang seperti itu. Tapi ada datanya dan juga ternyata ada di Alquran," tandas Adi.

Berikut ini beberapa ayat Alquran mengenai bencana yang disebabkan oleh ulah umat manusia sendiri. "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar," (QS. Ar-rum:41).

“Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (QS. Al-Isra'[17]: 16).

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu),” (QS. Asy Syuraa: 30)

“Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”.(Bukan)! Bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera, (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa,” (QS. Al Ahqaf:24-25).

Sementara itu, mengenai alasan dipilihnya wilayah Jawa Timur dalam penelitiannya, Adi menyatakan bahwa hal ini karena orang-orang Jawa Timur yang cenderung agamis.

"Banyak pondok pesantren, banyak ulama-ulama, sehingga dianggap masyarakatnya itu masyarakat yang agamis sehingga ada perbedaan yang signifikan antara perilakunya itu antara Ramadan dengan yang lain," pungkasnya.