MALANGTIMES - Tidak ada yang memungkiri bahwa bencana alam merupakan fenomena alam yang terjadi karena adanya aktivitas fisik benda-benda di alam. Namun, ada pula yang mengaitkan bencana alam dengan kemaksiatan manusia.
Beberapa orang membantah pernyataan tersebut. Bagi mereka yang membantah, bencana tak selayaknya dan tak relevan jika dihubungkan dengan kemaksiatan yang dilakukan manusia. Mereka berpendapat bagaimana mungkin terjadinya bencana alam dikaitkan dengan moralitas, kemaksiatan, kesyirikan, hal-hal yang bukan aktivitas fisik, bahkan abstrak.
Namun, ingatkah Anda dengan kisah Kaum Sodom di zaman Nabi Luth? Masyarakat Kota Sodom terkenal dengan moral dan akhlaknya yang busuk. Mereka tidak mempunyai pegangan agama atau penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Maksiat dan kemungkaran merajalela dalam pergaulan hidup mereka. Pencurian dan perampasan harta merupakan hal lumrah. Di sana, yang kuat menjadi penguasa dan yang lemah adalah korban penindasan.
Perbuatan maksiat yang paling menonjol dalam masyarakat Kota Sodom adalah perilaku seksualnya yang tidak normal, yakni berhubungan dengan sesama jenis. Para pria lebih suka berhubungan dengan sesama jenis melalui anal seks. Sedangkan wanitanya menjadi lesbian.
Jika ada musafir yang masuk ke Kota Sodom dan membawa barang-barang berharga, maka barang-barang itu akan dirampas. Kemudian musafir tersebut akan mengalami pelecehan seksual dari penduduk kota.
Pada akhirnya, bergetarlah bumi dengan dahsyatnya di bawah kaki rakyat Sodom. Getaran tersebut diikuti gempa bumi dahsyat dan angin kencang serta hujan batu. Kota Sodom hancur seketika beserta semua penghuninya.
Allah pun meninggalkan bekas-bekas reruntuhan Kota Sodom tersebut. Ini menjadi peringatan bagi kita semua agar tidak berbuat maksiat apabila tidak ingin bernasib sama dengan kaum Sodom.
Dalam Alquran Surat Al-Hijr: 73-75, Allah juga mengabarkan azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth tersebut. "Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda."
Jadi, apakah benar bencana alam disebabkan kemaksiatan yang dilakukan manusia? Atas dasar pemikiran-pemikiran di atas, geoscientist sekaligus Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB) Adi Susilo PhD tergelitik untuk meneliti mengenai hal ini.
Penelitiannya berdasarkan data bencana alam gempa bumi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta United States Geological Survey (USGS) mulai tahun 1970-2017.
Hasil penelitiannya begitu mengejutkan. Pada bulan Ramadan, jumlah bencana alam gempa bumi terbukti sangat kecil dibandingkan bulan-bulan yang lain.
Baca Juga : Wudhu Bisa Cegah Corona, Begini Penjelasannya
Untuk diketahui, ada tiga kemuliaan di bulan Ramadan yang diriwayatkan Imam Al Bukhari dari jalur sahabat Abu Hurairah. “Ketika masuk bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu (neraka) jahanam ditutup serta setan-setan dirantai.”
Kemuliaan pertama, ketika memasuki bulan Ramadan, pintu-pintu surga akan dibuka. Kedua, pintu-pintu neraka akan ditutup. Ketiga, setan-setan yang mengganggu manusia akan dirantai dan dibelenggu.
Di bulan Ramadan, setan tidak akan bisa mengganggu manusia. Kaum muslim pun berlomba-lomba untuk meningkatkan ibadah dan kebaikan demi meraih keutamaan Ramadan. Selain melaksanakan puasa wajib, mereka juga mengisi bulan Ramadan dengan memperbanyak baca dan tadabur Alquran.
Selain itu, kaum muslim memperbanyak salat-salat sunah, memperbanyak infak dan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Sehingga di bulan Ramadan ini, kemaksiatan pun berkurang.
Jika memang benar bencana alam disebabkan ulah manusia, di bulan Ramadan ini bencana alam pun seharusnya mengalami penurunan lantaran kemaksiatan yang berkurang.
Nah, Adi berhasil membuktikan hal ini secara ilmiah. Ia membeberkannya secara khusus kepada MalangTIMES. Penjelasan lengkapnya akan diulas hanya di MalangTIMES.
Sebagai bocoran, dalam penelitian itu, ditunjukkan persentase gempa di bulan Ramadan yakni hanya sebesar 5,690 persen dengan frekuensi sebanyak 87. "Artinya, pada bulan Ramadan, bencana alam itu ternyata juga memang kecil akibat manusia berpuasa dan sedikit melakukan tindakan-tindakan rusak di muka bumi," ujar Adi saat ditemui di ruangannya di gedung MIPA UB.
