Guru Besar FMIPA UM Beber Teori Evolusi Darwin Sering Dipahami Salah oleh Orang-orang yang Tak Pernah Membaca Bukunya

Apr 27, 2019 18:30
Guru Besar Fakultas MIPA UM, Prof Dr Agr Muhammad Amin SPd saat memberikan materi dalam Tarkhib Ramadhan 'Kaum Milenial, Alquran itu Keren' di Gedung Pascasarjana UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Guru Besar Fakultas MIPA UM, Prof Dr Agr Muhammad Amin SPd saat memberikan materi dalam Tarkhib Ramadhan 'Kaum Milenial, Alquran itu Keren' di Gedung Pascasarjana UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Berbicara mengenai evolusi sejatinya berbicara mengenai masa lalu. Tentunya, tidak ada yang pernah tahu apa yang sebenarnya terhadi pada masa itu.

Tentu Anda ingat mengenai Teori Evolusi Darwin. Darwin berpendapat manusia berasal dari kera.

Baca Juga : Kisah Lucu Umar bin Khattab Protes Kebijakan Mualaf yang Pimpin Peperangan

Nenek moyang manusia adalah kera yang berevolusi menjadi manusia modern seperti sekarang ini.

Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Agr Muhammad Amin SPd menegaskan bahwa Darwin tidak mengatakan seperti itu. 

Hal ini dinyatakannya dalam Tarhib Ramadan 'Kaum Milenial, Alquran itu Keren' di Auditorium Rumah Singgah lantai 4 Gedung Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Sabtu (27/4).

"Darwin nggak pernah bilang manusia jadi kera. Tidak pernah. Artinya, orang yang menyatakan seperti itu belum pernah membaca buku Darwin," tandasnya dalam acara yang diinisiasi oleh media online berjejaring terbesar di Indonesia MalangTIMES, bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Malang, dan DPD Hidayatullah Malang tersebut.

Maka dari itu, ilmuwan muslim harus berinteraksi. Jangan hanya bermodal 'katanya'.

"Kalau mau bicara tentang Darwin, baca buku Darwin, biar nggak salah, sehingga kita tidak menghakimi," tegasnya.

Teori Darwin sendiri memang memiliki banyak sekali keterbatasan. Namun, Darwin mencoba menjelaskan bagaimana kaidah ilmiah itu dilakukan.

Lagi pula, dalam dekade terakhir terjadi perkembangan pemikiran yang sangat luar biasa oleh para pemikir tentang evolusi. 

Namun sayangnya, kritik hanya tertuju pada teori evolusi Darwin. Padahal begitu banyak pemikir tentang evolusi selain Darwin.

"Teori evolusi itu banyak banget, tidak hanya Darwin. Tapi mengapa Darwin yang dituduh-tuduh," ungkap Amin.

Teori evolusi Darwin sendiri termasuk ayat-ayat kauniyah. Ayat-ayat kauniyah adalah ayat atau tanda yang wujudnya dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. 

Nah, apabila ingin membantah ayat-ayat kauniyah maka seharusnya dibantah pula dengan data ayat kauniyah, bukan dibantah dengan ayat qauliyah (ayat-ayat yang difirmankan Allah).

"Wong teori Darwin buatan manusia kok dilevelkan firman Allah. Nggak bisa begitu," imbuhnya.

Belajar mengenai evolusi ilmiah sendiri justru malah menambah keilmuwan bagi orang-orang yang mau belajar. 

Baca Juga : Kisah Nabi Musa Melabrak Nabi Adam, Begini Akhir Ceritanya Versi Gus Baha

Seseorang tidak bisa dikatakan atheis bila dia menerima adanya evolusi.

Evolusi tidak menyangkal tentang keberadaan Tuhan. Lebih tepatnya, tidak ada alasan untuk mempercayai Tuhan tidak berperan dalam proses evolusi.

"Tidak sedikit ilmuwan percaya terhadap adanya Tuhan dan menerima keberadaan teori evolusi," tandasnya.

Pemahaman mengenai teori evolusi sendiri begitu salah kaprah. 

Amin kembali menegaskan, bacalah buku Darwin dulu agar tidak menghakiminya. 

Di dalam bukunya, akan terlihat bagaimana Darwin mengakui adanya Tuhan.

Kalimat yang paling akhir dalam bukunya 'The Origin of Spesies by Means of Natural Selection....' tahun 1859, "There is grandeur in this view of life, with its several powers, having been originally breathed by the Creator into a few forms or into one; and that, whilst this planet has gone cycling on according to the fixed law of gravity, from so simple a beginning endless forms most beautiful and most wonderful have been and are being evolved."

Dan dalam bab yang berjudul 'Kehidupan dan Pekerjaan Darwin' dari buku K.F Vaas 'Darwinisme dan Ajaran Evolusi' (1956) dapat kita jumpai kutipan dari kalimat-kalimat Darwin yang artinya sebagai berikut : 

"Adalah sesuatu maksud yang sama agungnya dari Tuhan Yang Maha Esa asli yang sedikit saja, yang telah diciptakan olehNya, sudah dapat berkembang terus, daripada untuk mengira bahwa harus ada tindakan-tindakan penciptaan yang baru untuk mengisi lowongan-lowongan yang masih terbuka di barisan makhluk hidup yang terjadi karena hukum-hukum Tuhan."

"Jadi ternyata Darwin itu juga menyebut-nyebut nama Tuhan. Terserah dia atheis atau tidak. Jelaslah Darwin mengakui bahwa segala yang ada di bumi telah diciptakan oleh Sang Pencipta menjadi beberapa bentuk atau bentuk tunggal," pungkas Amin.

Jadi, evolusi tidak mengajak orang menjadi materialistik dan tidak perlu seseorang menjadi lemah imannya setelah mempelajari evolusi.

Topik
MalangBerita MalangGuru Besar Fakultas MIPA (UM) Prof Dr Agr Muhammad Amin SPdTarhib RamadanTeori Evolusi Darwin

Berita Lainnya

Berita

Terbaru