Dari Spionase Sampai Panglima Diponegoro, Kisah Biru Anak Semata Wayang RA Kartini

Mar 19, 2019 09:24
Soesalit putra RA Kartini saat kecil (Ist)
Soesalit putra RA Kartini saat kecil (Ist)

MALANGTIMES - Menyandang darah biru dan lahir dari sosok perempuan Jawa yang membuat takjub orang-orang Belanda karena tulisannya yang mendahului zamannya, tidak membuat Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat (lahir di Rembang, Jawa Tengah, 13 September 1904 – meninggal di Jakarta, 17 Maret 1962 pada umur 57 tahun),  putra semata wayang RA Kartini dan Bupati Rembang KRM Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, hidup berlimpah kesenangan.

Soesalit, begitulah putra RA Kartini ini dipanggil. Adalah sosok yang sejak usianya baru empat hari di dunia merasakan 'kepahitan'. Di usianya tersebut, dirinya telah ditinggal sosok ibunya yang luar biasa. RA Kartini meninggal dunia. Di usia delapan tahun, sang ayah pun meninggal dunia. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Nama Soesalit pun disebutkan sebagai akronim 'susah naliko alit' (susah di waktu kecil). Nama yang membawanya juga dalam berbagai peristiwa besar berdirinya Republik Indonesia. Berbagai jasa dan pangkat yang pernah disandangnya, plus nama besar sang ibu, ternyata tidak membuat Soesalit hidup bergelimang kesenangan dan berlimpah kekayaan. 

Sitisoemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi (1979) menuliskan, “Sampai akhir hayatnya, Soesalit tetap hidup sederhana dan tak pernah mau mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa ialah satu-satunya putra Ibu Kita Kartini, sehingga taktala dia meninggal, dia satu dari beberapa jenderal yang meninggal dalam keadaan melarat”.

Soesalit dalam revolusi kemerdekaan merupakan sosok yang memiliki pesona di dunia militer Republik Indonesia. Lulusan ELS Rembang (1919), Hogare Burger School (HBS) Semarang (lulus 1925) serta sempat mencicipi sekolah tinggi hukum kolonial, Rechthoogeschool (RHS) Batavia, walau satu tahun, telah menjadikan Soesalit pribadi Jawa yang terpelajar.

Walau akhirnya, semua itu dia tanggalkan. Soesalit atas saran kakak tiri tertuanya yaitu Abdulkarnen Djojoadhiningrat, akhirnya masuk dan menjadi seorang spionase atau mata-mata di Politieke Inlichtingen Dienst (PID). Dinas polisi rahasia Hindia Belanda yang bertugas mematai-matai kaum pergerakan nasional dan mengantisipasi spionase asing, termasuk Jepang yang masuk Hindia sejak 1916. 

Masa sulit Soesalit muda pun dimulai. Bahkan dirinya menyampaikan bahwa menjadi spionase Belanda sebagai masa suramnya. "Jelas Soesalit tak mampu memata-matai dan menangkapi bangsanya sendiri. Bahkan Soesalit selalu berusaha melindungi para pejuang dan seringkali tutup mata atas pelanggaran mereka," tulis Sitisoemandari.

Kedatangan 'saudara tua' Indonesia yang menjadi kunci Soesalit bisa lepas dari dunia spionase. Dirinya bahkan bergabung dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Serta menjadi daidancho—komandan batalyon setara mayor atau letnan kolonel—PETA Banyumas II di Sumpiuh pada 1943-1945. 

Pengalaman militernya di PETA, mengantarkannya masuk di Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang seiring waktu berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Di sinilah karir militer Soesalit terus naik dengan berbagai prestasi gemilangnya. Seperti pelucutan senjata tentara Jepang yang tidak sepercik pun darah tumpah ke tanah. Sampai pada berbagai strategi perang melawan Belanda yang diraciknya dalam peristiwa Agresi Militer Belanda.

Strategi perang Soesalit dalam Agresi Militer Belanda di pos terdepan Ambarawa, Salatiga dan Tuntang, bahkan mendapat apresiasi dari sejarawan Belanda Pierre Heijbor. Karir militernya melejit dan akhirnya menempatkan Soesalit menjadi Panglima Divisi III Diponegoro (1946-1948). Dengan jabatan Jenderal Mayor yang menempatkannya di salah satu posisi terpenting saat itu. 

Zaman bergerak. Kepahitan hidup Soesalit kembali menyapanya. Sang Jenderal Mayor yang tetap hidup sederhana dengan posisi tinggi saat itu, harus berhadapan dengan peristiwa Madiun (1948). Kaum komunis memberontak dan Soedalit berada dalam pusaran tersebut. 

Walau tidak ada bukti kuat dan proses pengadilan, sebuah dokumen pemberontakan menuliskan namanya yang disebut sebagai "orang yang diharapkan". 

Seperti diketahui, Soesalit memang dikenal dekat dengan orang-orang kiri Indonesia di masa revolusi kemerdekaan. Bahkan, kakak tirinya yang lain, Abdulmadjid Djojoadiningrat, juga berpaham komunis sejak bersekolah di Belanda. Pun sepupunya Raden Mas Moedigdo yang menjabat komisaris polisi, dihukum mati karena ia dianggap komunis.

Hal tersebut ditambah dengan jiwa revolusioner Soesalit yang dekat dengan laskar-laskar kiri, yang separuhnya memang terlibat dalam Pemberontakan Madiun.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

"Soesalit itu seorang yang betul-betul dianggap menghayati Revolusi. Dari kedinasan Pamongpraja ia sudah membawa jiwa-jiwa revolusioner. Kepribadiannya membawa kewibawaan dan gaya revolusioner yang tinggi. Oleh sebab itulah ia dianggap dapat mendekatkan diri pada laskar-laskar. Ia juga terkenal sebagai orang yang sederhana. 

Umpamanya, bajunya selalu tertutup tinggi, seperti Mao Tze Tung," tulis Abdul Haris Nasution dalam Kartini: Sebuah Biografi.

Berbagai hal tersebut yang membuat Soesalit diamankan para petinggi tentara. Dijadikan tahanan rumah dan dicopot pangkatnya sebagai Panglima Diponegoro. Sampai akhirnya presiden Soekarno membebaskannya. Soesalit pun akhirnya ditugaskan kembali di Kementerian Pertahanan sebagai perwira staf Angkatan Darat di usianya ke-44 tahun.

Jabatannya tersebut tidak sesuai dengan jiwa revolusionernya. Dirinya tetap berjuang dan membantu gerilya di pegunungan Kedu Selatan melawan Belanda. Walau tanpa adanya penghargaan atas kiprahnya berjuang habis-habisan untuk negara yang dicintainya. Walaupun dirinya mengalami kepahitan atas tuduhan terlibat makar. Bahkan dengan berbagai jabatan yang dipegangnya, misalnya Kepala Penerbangan Sipil (1950) maupun penasihat di era  kabinet Ali Sastroamodjojo pertama (1953-1955).

Tapi tak ada satupun bintang yang disematkan kepada Soesalit. Bahkan, menurut Sitisoemandari, tanda bukti veteran pun Soesalit tidak punya. "Yang dimilikinya hanya surat tanda jasa POPDA (panitia yang mengurusi kepulangan tentara Jepang)," tulisnya.

Hidupnya yang sudah sulit sejak usia empat hari ditinggal sang ibu RA Kartini dan disusul wafatnya sang ayah. Telah menempa hidup Soesalit menjadi pribadi bersahaja yang tidak memiliki pamrih saat berjuang untuk negaranya.

"Soesalit tidak pernah menonjolkan diri. Ia tidak pernah mau minta hak-haknya. Padahal sebetulnya itu soal yang biasa di masa sesudah penyerahan kedaulatan. Lain-lain orang mengajukan permohonan untuk mendapat apa yang ia anggap sudah haknya," ucap Jenderal Nasution yang menjadi saksi betapa bersahajanya Soesalit sebagai seorang putra RA Kartini sekaligus sebagai sosok yang ikut mewarnai revolusi kemerdekaan Indonesia.

“Sampai akhir hayatnya, Soesalit tetap hidup sederhana dan tak pernah mau mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa ialah satu-satunya putra Ibu Kita Kartini, sehingga taktala dia meninggal, dia satu dari beberapa jenderal yang meninggal dalam keadaan melarat.” tulis Sitisoemandari yang juga menuliskan hal yang kerap disampaikan Soesalit kepada anaknya.

“Jangan suka menonjolkan diri sebagai keturunan Kartini!”.

 

Topik
Anak Semata Wayang RA KartiniRaden Mas Soesalit Djojoadhiningratputra RA Kartinikisah soesalit

Berita Lainnya

Berita

Terbaru