Ilustrasi puisi (pixabay)
Ilustrasi puisi (pixabay)

MALANGTIMES - Membakar Ingatan, Menyadap Kenangan
*dd nana


-49
Ingatan serupa getah darah
bila kau erami bernanah
bila kau sayat dia, lukalah
dan percayalah


segala yang mengalir menuju
muara ; ibu kandung segala luka duka
adalah perjalanan-perjalanan sakit
yang kerap kita kelabui dengan segala tawa.
Maka, serupa Maling Kundang
yang membakar ingatan ; puzzle-puzzle yang 
kerap meminta untuk di tata ulang
dengan gambar-gambar yang tercetak dari awal
kelahiran atau saat kita berjanji ke Tuhan 
sejak raga tak jadi beban segala ayat dan sabda
Ingatan sementara waktu bisa ditundukkan.
'Tapi, jangan kau lemah atas kutuk.'
Bakarlah ingatan dan sadap kenangan
agar purna kita manusia dengan raga
koyak moyak sejak tangisan pertama.
Karena ingatan, percayalah, getah darah
yang punya kisahnya sendiri.
Kau erami bernanah
kau sayat lukalah.

-50
Dia curi api suci
untuk terangi gelap yang kalian anggap
takdir.
Dengan tawa lepas 
dihadapinya belenggu abadi
yang kau sebut dosa itu.
Maka, menyalalah segala ruang
para melata yang riang dengan ketakjuban
cahaya benderang.
Walau sekejap, sebelum para dewa
menitahkan hukuman bagi para lancang.
'Order harus dijaga ketat. Pelanggar harus merasakan azab.'
Pencuri api suci itu
masih tertawa lepas
dengan belenggu di kaki dan tangannya
sesekali dibakarnya ingatan
agar kenangan tak membuatnya lemah
dan mati.
'perlawanan masih panjang, tuan.'


*hanya penikmat kopi lokal