Berbagai macam hasil kerajinan batu hebel buatan Untung Ermawinanto (Luqmanul Hakim/MalangTIMES)

Berbagai macam hasil kerajinan batu hebel buatan Untung Ermawinanto (Luqmanul Hakim/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Tak hanya kayu dan batu saja yang bisa dijadikan sebagai bahan yang bisa dibuat kerajinan pahat dan ukir. Bahkan batu bata ringan atau habel juga bisa dijadikan untuk menuangkan kreativitas di bidang seni.

Seperti yang dilakukan oleh Untung Ermawinanto warga Desa Polowijen Kota Malang. Di tangannya, habel tersebut bisa disulapnya menjadi barang kreatif yang unik.

Sebelumnya, Untung mulai memahat batu ringan pada awal tahun 2018 lalu setelah usaha warung makan miliknya tutup. Ketika sudah tidak ada pekerjaan lagi, ia mulai berfikir keras agar tidak terus menerus menjadi pengangguran. Kemudian, melihat banyaknya limbah berupa bata putih atau habel dari komplek perumahan yang ada di Desa Polowijen, ia mulai mencoba menuangkan apa yang pernah dilihatnya kemudian dituangkan di media habel tersebut.

"Awalnya saya melihat ada hebel bekas perumahan yang terbuang percuma, kemudian saya coba - coba apa yang saya pernah lihat, saya tuangkan ke habel itu, ternyata jadi," ujar Untung.

Berawal dari hanya membuat beberapa benda seperti asbak dan vas bunga polos, ia mulai mengembangkan kreativitasnya dengan menambahkan ukiran - ukiran yang bermotif berbeda untuk setiap buatannya tersebut. Pasalnya, selama ini ia hanya membuat sebuah kerajinan habel secara spontanitas ketika mendapatkan sebuah gambaran untuk dituangkan dalam habel.

"Setiap yang saya buat, motifnya tidak ada yang mirip, karena saya buat hanya spontanitas saja," ujarnya.

Proses pengukiran motif kerajinan hebel (Luqmanul Hakim/MalangTIMES)​

Ia sudah membuat sekitar 100 kerajinan yang berbeda selama setahun belakangan dengan motif yang berbeda. Adapun bentuk kreasi batu bata ringan atau habel yang pernah ia buat diantaranya seperti tempat sisir, asbak, vas bunga, tempat surat dan majalah, tempat sabun, patung, dan tempat pensil. Ia hanya membandrol kerajinannya tersebut hanya dengan harga antara Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya.

Harga murah tersebut, ia berikan lantaran bahan yang digunakan merupakan limbah yang ia ambil secara gratis.

"Bahannya kan limbah, jadi harganya ya murah, kalau beli ya saya kalkulasi lagi, pasti mahal harganya," jelasnya.

Namun, ia menuturkan bahwa dalam proses pembuatan kerajinan tersebut ia mendapati hambatan berupa lahan untuk mengerjakan. Selama ini ia menumpang di tempat saudaraya yang berlokasi tak jauh dari tempat tinggalnya tersebut.

Tak hanya itu saja, kendala masalah tenaga pun ia rasakan. Sebab, ia mengerjakannya hanya seorang diri di usianya yang sudah menginjak 56 tahun. Akibatnya, ia harus menolak pesanan dengan jumlah banyak yang pernah ia terima.

Tempat sisir model topeng dari habel hasil buatan Untung (Luqmanul Hakim/MalangTIMES)

"Saya pernah menolak orderan, sebab jumlahnya banyak. Saya kan sudah tua, dan saya masih belum punya karyawan," jelasnya.

Ia berharap nantinya akan ada generasi muda - mudi yang akan meneruskan kerajinan batu ringan seperti yang ia buat saat ini, khususnya dari Desa Polowijen. Sebab, kerajinan ini sudah disahkan oleh pemerintah menjadi salah satu icon Polowijen pada Februari lalu. 

End of content

No more pages to load