MALANGTIMES - Sampah menjadi masalah yang masih belum terpecahkan di banyak negara. Tetapi, ternyata masih ada negara yang kekurangan sampah, bahkan hingga mengimpor sampah dari negara lain untuk kebutuhan negaranya.
Berikut ini negara yang mengimpor sampah dan negara yang kreatif mengolah sampah.
1. Swedia

Di saat negara lain, termasuk Indonesia, belum bisa mengatasi sampah, Swedia justru menginginkan sampah. Sejak beberapa tahun terakhir, negara itu telah mengimpor 800 ribu ton sampah dari negara lain. Termasuk dari negara-negara Eropa seperti Inggris, Norwegia, Italia, dan Irlandia.
Bagaimana tidak kekurangan sampah. Di Swedia, 90 persen sampah didaur ulang hingga habis tidak tersisa. Dan hanya satu persen sampah yang benar-benar masuk di tempat lembuangan akhir (TPA).
Untuk mencapai hal ini, pemerintah Swedia mengubah perspektif masyrakat tentang sampah. Dari 4,4 juta ton limbah rumah tangga yang diproduksi oleh negara setiap tahun, 2,2 juta dikonversi menjadi energi dengan proses yang disebut waste to energy (WTE).
Sebelum proses itu dimulai, pemilik rumah atau usaha menyaring atau memisahkan limbah sampah menjadi limbah berbahaya dan bahan yang dapat didaur ulang. Kemudian limbah sampah itu dikirim ke sistem pengolahan limbah yang berbeda.
Seperti insenarator dan daur ulang, tungku di pabrik WTE diisi dengan sampah dan kemudian dibakar untuk menghasilkan uap. Selanjutnya uap itu digunakan untuk memutar turbin agar menghasilkan listrik.
Limbah daur ulang yang pada dasarnya digunakan sebagai sumber daya diubah menjadi pemanasan distrik, listrik, biogas, dan pupuk hayati. Uap panas ini juga dipakai sebagai pembangkit tenaga listrik yang mampu mencukupi kebutuhan panas 950 ribu rumah tangga dan memasok listrik 260 ribu rumah di seluruh negara di Swedia. Alat transportasi di sana digerakan menggunakan bahan bakar biogas.
Sampah koran didaur ulang menjadi kertas. Botol plastik dicairkan menjadi barang pakai seperti wadah di dapur. Sedangkan sampah limbah dapur menjadi kompos.
2. India

Profesor kimia asal India Rajagopalan Vasudevan merancang sebuah cara untuk mengubah sampah plastik menjadi pengganti aspal. Ia membuat teknologi di mana campuran sampah plastik diparut dan aspal panas. Teknologi ini pertama digunakan di timur laut India, wilayah yang sering rusak karena banjir dan longsor.
Vasudevan menggunakan sampah plastik seperti kantong plastik, gelas plastik, bungkus keripik dan kemasan busa sebanyak 450 kilogram untuk satu kilometer jalan. Limbah ini dkumpulkan dari sampah di jalan-jalan. Cara ini ternyata hanya membutuhkan sedikit biaya.
Plastik membuat jalan lebih tahan lama terhadap perubahan cuaca, terhadap banjir, dan cuaca ekstrim, dan dingin. Dan juga memiliki kapasitas membawa air lebih sedikit dari jalan normal serta mampu bertahan tiga kali dari jalan konvensional.
3. Uganda

Seorang seniman dan ahli lingkungan dari Uganda Ruganzu Bruno membawa seni ekologis ke daerah kumuh Kampala, Uganda. Bruno tergabung dalam Eco Art Uganda, yang merupakan kumpulan seniman yang berdedikasi untuk mempromosikan kesadaran lingkungan.
Perkumpulan tersebut menciptakan sebuah taman hiburan untuk anak-anak dari bahan-bahan yang dibuang. Contohnya, mereka membuat ayunan dan permainan papan dari botol-botol plastik bekas.
Hal ini mereka lakukan dengan berbagai tujuan seperti mempercantik lingkungan, memberdayakan, dan mengajarkan anak-anak serta tentu saja mendaur ulang dan mengelola sampah secara efektif.
4. Hongkong

Tempat Pembuangan Akhir Sai Tso Wan di Hongkong dulunya menampung hingga 1,6 juta ton sampah. Sampah ini menumpuk hingga setinggi 65 meter atau sekitar 213 kaki. Setelah ditutup dengan tanah pada tahun 1981, tempat ini dijadikan taman bermain multiguna pada tahun 2004. Taman bermain ini didukung oleh turbin angin, sel surya dan energi yang berasal dari metana yang dihasilkan dari sampah yang membusuk.
5. Indonesia

Pria asal Kanada bernama Rachel Mayer bersama istrinya, Ani Himawati, yang saat ini tinggal di Bali, memiliki kepedulian tinggi terhadap sejumlah negara berkembang di Asia Tenggara. Mereka memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah dan pengenalan metode ecobrick ke berbagai negara.
Menurut Mayer, membakar sampah bukan solusi. Mayer telah menjadi pejuang ecobrick selama 3 tahun. Pengalamannya di Filipina menjadi titik balik dalam hidupnya untuk serius mencari penanggulangan terhadap sampah plastik. Kemudian dia mulai ke sekolah-sekolah memberikan edukasi ecobrick dari sampah plastik.
