MALANGTIMES - 300 warga Kuala Batee (Quallah Battoo) atau Kuala Batu, Aceh, tidak bisa menghadang serangan pasukan Amerika Serikat bersenjata lengkap. Bombardir pasukan di bawah Komodor John Downes membuat ratusan warga tewas dalam pertempuran tidak seimbang serta meluluhlantakkan kerajaan yang dipimpin oleh Raja Cut Ampon Tuan yang memerintah pada tahun 1785.
Baca Juga : Hingga Pertengahan April, 4 Kali Tanah Longsor Terjadi di Kota Batu
Pertempuran yang dipicu oleh tindakan pembajakan warga Kuala Batu, 1831, serta mengakibatkan kematian anak buah kapal kargo milik perusahaan asal Amerika. Memantik kegemparan dan kemarahan Presiden Amerika Serikat, Andrew Jackson.
Sang Presiden Amerika Serikat pun memerintahkan pasukan angkatan lautnya untuk menyerang kerajaan kecil yang pernah berkuasa dan berjaya sekitar tahun 1785 – 1832 Masehi. Kapal perang USS Potomac di bawah Komodor John Downes dengan pasukan dan persenjataan lengkap pun diberangkatkan.
Pertempuran sengit tidak berimbang antara pasukan Amerika Serikat dengan pasukan kerajaan Kuala Batu yang kini lokasinya masuk dalam wilayah Kecamatan Kuala Batee dan berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya terekam dalam sebuah lukisan yang sempat dikirimkan oleh Dr Farish A Noor seorang ilmuwan politik dan sejarawan dan Associate Professor di Rajaratnam School of International Studies serta Sekolah Sejarah Departemen Humaniora dan Ilmu Sosial di Nanyang Technological University, Singapura.
Gambar tersebut mengisahkan ketika pasukan Amerika Serikat melakukan invasi tahun 1832. Dalam gambar tersebut terlihat sengitnya pertempuran yang tidak seimbang serta memperlihatkan kegigihan dan keberanian warga Kuala Batu dalam menghadapi pasukan Amerika Serikat.
Laki-laki dan perempuan Kuala Batu bersatu melawan kemarahan pasukan Amerika Serikat bersenjata lengkap. Di gambar yang tersimpan di museum Sejarah Amerika Serikat Ellis pada tahun 1898, yakni 7 dekade usai invasi Amerika Serikat Kuala Batee (Quallah Battoo). Terlukis perempuan Aceh menghalangi tentara Amerika yang menusukkan pedang ke arah seorang lelaki.
Keberanian para perempuan Aceh di masa itu, semakin menguatkan keberanian kaum hawa pada berbagai perang melawan penjajah Belanda. Darah pejuang tak kenal menyerah dan berani mati, ternyata telah mengalir sejak lama di bumi rencong Aceh.
Baca Juga : Musim Melaut, Para Nelayan yang Berlabuh di Kabupaten Malang Bakal Disemprot Antiseptik
Pertempuran yang diibaratkan David and Goliath tersebut, tentunya dimenangkan pasukan Amerika bersenjata lengkap. Downes memerintahkan 1 detasemen dari 282 marinir dan nakhoda ke perahu kapal, yang beberapa dari perahu itu sudah dilengkapi dengan meriam ringan. Senapan-senapan Potomac digunakan untuk membalas tembakan dari benteng Kuala Batee.
Sedangkan pasukan Kuala Batu hanya memiliki senapan kunci korek yang sudah ketinggalan zaman. Benteng Kuala Batu pun hancur setelah dengan sengit dipertahankan. 150 jiwa tewas dalam pertempuran tersebut.
Namun penduduk berperang dengan sengit dan pertempuran bergeser ke pertarungan tangan dimana salah satu raja yang menguasai benteng terbunuh bersama 150 jawara lainnya. Tidak puas menaklukkan benteng pesisir, pasukan Amerika menyerang kota. Meluluh lantakkan seluruh isi Kota Kuala Batu. Warga tewas mencapai 300 orang dan yang selamat menyerah.
Dipihak Amerika Serikat, hanya 2 yang tewas selama serangan dan 11 nakhoda dan marinir lainnya luka-luka.
Kisah pertempuran sengit tersebut juga diabadikan dalam buku Quallah Battoo karya Dr Ronald Stephen Knapp dan diluncurkan pada 29 Agustus 2017.
