MALANGTIMES - Kini sudah banyak lahan pertanian beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman penduduk dan industri. Hal ini membuat para petani mengalami kesulitan lahan untuk berbudidaya tanaman.
Sebagai mata pencaharian utama, petani harus bisa mencari cara berbudidaya tanaman. Dari permasalahan ini, Perhutani selaku pihak pengelola hutan mengembangkan konsep pengelolaan hutan yang berbasiskan masyarakat.
Baca Juga : Belajar dari Rumah Lewat TVRI Mulai Hari Ini, Intip Jadwalnya Yuk!
Salah satu konsepnya yakni dengan pola agroforestry. Agroforestry adalah sistem penggunaan lahan (usahatani) yang mengombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian untuk meningkatkan keuntungan, baik secara ekonomis maupun lingkungan. Dalam konsep ini, petani-petani dapat bekerja sama untuk mengolah lahan produksi Perhutani dengan tetap menjaga tanaman pokok yang diusahakan oleh Perhutani.
Dosen Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Joko Triwanto yang belum lama ini meraih gelar doktor menyatakan bahwa pola argoforestry menjadi solusi bagi pemberdayaan petani. Pola ini sebagai suatu sistem pengelolaan lahan dengan memadukan pohon dengan tanaman lain.
Joko pun melakukan penelitian Pemberdayaan Petani Argoforestry Secara Berkelanjutan di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Menurut dia, Pujon sebagai sentra produksi sayur-sayuran dapat memanfaatkan hutan pinus sebagai cadangan makanan.
“Dalam arti lain, dapat meningkatkan efisiensi manajemen lahan dengan cadangan makanan melalui upaya menanam tanaman hortikultural atau sayur-sayuran,” ujar pria kelahiran Sukoharjo tersebut.
Baca Juga : Cegah Covid 19 Pada Lansia dan Anak-Anak, Pemkot Batu Akan Beri Tambahan Nutrisi
Joko memparkan, selain dampak nyata dalam hal manajemen, dalam satu kali tanam, produksi agroforestry menghasilkan keuntungan yang tinggi dan berdampak pada pendapatan masyarakat sekitar hutan dalam pengelolaan lahan hutan produksi. “Pengombinasian hutan dengan pertanian dan sekaligus peternakan berdampak besar bagi petani. Baik dalam manajemen dan juga ekonomi," pungkas pria berumur 59 tahun ini.
"Sekarang petani bisa berangkat membawa pupuk untuk pertaniannya dan ketika pulang membawa rumput dari lahan untuk binatang ternaknya,” imbuhnya.
