Bikin Merinding, Tujuh Ramalan Jayabhaya Ini Terbukti Terjadi di Indonesia

MALANGTIMES - Saat belajar sejarah, kita akan mengenal salah satu sosok raja termahsyur abad ke 12 yang memimpin Kerajaan Kediri. Dia adalah Prabu Jayabhaya yang kemudian dikenal akan ramalannya hingga sekarang. Siapa sangka, ramalan yang ia sampaikan berabad-abad lalu itu satu per satu menjadi kenyataan.

Dilansir dari channel youtube SoaialHits, setidaknya ada tujuh ramalan Jayabhaya yang sudah terbukti. Tujuh ramalan itu adalah sebagai berikut.

1. Bangsa Kulit Kuning yang Membebaskan Indonesia

Dalam sejarah tercatat Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Selanjutnya datang bangsa Jepang yang kemudian merebut kekuasaan dari bangsa kulit putih itu. Ternyata, jauh sebelum kondisi itu benar-benar terjadi, Prabu Jayabhaya terlebih dulu memprediksi hal tersebut.

"Akan ada masanya datang kulit kuning yang melepaskan Indonesia dari kekejaman kulit putih," ramal Prabu Jayabhaya.

Ramalan yang dimaksud Prabu Jayabhaya itu kemungkinan yang dimaksud dengan bangsa putih adalah Belanda dan kulit kuning adalah bangsa Jepang.

2. Korupsi Makin Merajalela

Korupsi saat ini bahkan hampir menjadi sebuah budaya yang mengerikan di berbagai negara di dunia. Termasuk Indonesia sendiri, yang tenyata sudah ada banyak catatan dan bukti yang menyebut jika praktik melanggar hukum itu sudah ada sejak masa kerajaan kuno.

Prabu Jayabhaya sendiri juga pernah memprediksi bahwa praktik korupsi akan semakin besar. "Akeh janji ora ditetepi, akeh wong langgar sumpahe dewe, akeh menungso mung ngutamakne duwit. Lali kemenungsan, lali kebicikan, lali sanak, lali kadang (banyak janji tidak ditepati, banyak orang melanggar sumpahnya sendiri, banyak manusia yang mengutamakan uang. Lupa akan kemanusiaan, lupa kebajikan, lupa keluarga; red)," begitulah bunyi ramalan Prabu Jayabhaya.

3. Banyak Orang Ingin Kaya Instan

Ramalan Prabu Jayabhaya berikutnya ini mungkin akan mengingatkan kita akan banyaknya praktik pesugihan yang semakin banyak di Indonesia. Mencari kekayaan secara instan tanpa memerlukan kerja keras ini pun sudah banyak dilakoni orang di berbagai daerah di Indonesia.

"Akeh wong nyambut gawe apik-apik podo kroso isin, luwih utama ngapusi. Wegah nyambut gawe kepenak-kepenak. Ngumbar nafsu angkoro murko, nggedeake dhuroko (banyak orang yang malu bekerja pada pekerjaan yang baik dan halal, lebih senang berbohong. Tidak suka bekerja dan lebih suka bersenang-senang. Mengumbar nafsu dan membesarkan keinginan; red)," prediksi Prabu Jayabhaya.

4. Kemajuan Zaman Modern

Kemajuan era modern juga pernah diramalkan Prabu Jayabhaya. Dia pernah mengatakan bahwa negeri ini akan mengalami kemajuan dalam berbagai bidang seperti transportasi hingga perekonomian.

"Mbesuk yen ono kreto mlaku tanpo jaran, tanah Jawa kalungan wesi, prahu mlaku nang duwur awang-awang, kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange (Nanti akan ada kereta yang berjalan tanpa kuda, tanah Jawa akan dihiasi besi, perahu berjalan di atas awang-awang (pesawat), sungai kehilangan sumbernya, dan pasar kehilangan keramaian; red)," ramal Prabu Jayabhaya.

Hal itu seolah yang terjadi saat ini. Sudah banyak kereta api, pesawat, hingga pasar tradisional yang sudah tak ramai seperti dulu dan mulai bermunculan pasar bergaya modern.

5. Maraknya Pergaulan Bebas

Prabu Jayabhaya juga pernah memprediksi adanya pergaulan bebas di negeri ini saat ia masih hidup. Dalam ramalannya itu, Prabu Jayabhaya menyebut jika orang perempuan akan kehilangan rasa malu dan laki-laki akan kehilangan kehormatannya.

"Wong wadon ilang kewirangane, wong lanang prawirane (perempuan kehilangan rasa malu dan laki-laki kehilangan kehormatannya; red)," kata Prabu Jayabhaya.

Hal itu seolah terjadi seperti sekarang. Norma dan hal yang dulu dianggap tabu sekarang dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

6. Pendidikan Dikomersialisasi

Dulu, Prabu Jayabhaya disebut pernah mengatakan dalam ramalannya jika di masa depan akan banyak orang yang menjual ilmu. Hal itu seperti yang terjadi sekarang, yakni pendidikan masih banyak menuai pro dan kontra lantaran tidak seluruhnya digratiskan.

"Akeh wong ngedol ilmu (banyak orang yang menjual ilmu; red)," ramal Prabu Jayabhaya.

7. Ramalan Notonogoro

Ramalan ketujuh ini begitu terkenal di berbagai kalangan. Sebab, ramalan ini dikatakan ada sangkut pautnya dengan proses kepemimpinan di Indonesia. Notonogoro sendiri dikatakan memiliki arti menata negara. Hal itu juga banyak dikaitkan dengan para pemimpin atau presiden Indonesia.

Notonogoro juga dikaitkan dengan nama-nama presiden di Indonesia. Kata 'No' sendiri dikaitkan dengan nama Presiden Soekarno. Kemudian kata 'To' dikaitkan dengan Presiden Soeharto dan kata 'No' dikaitkan dengan nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam ramalannya itu, kemungkinan negara ini akan berhasil tertata oleh para pemimpin yang kaitannya dengan falsafah di balik kata Notonogoro tersebut. Saat ini banyak yang menduga jika kata 'No' 'To' 'No' sudah ada dalam nama menjadi tiga presiden di atas. Saat ini tinggal kata Go dan Ro. Lantas siapa presiden dengan nama yang erat kaitannya dengan kata itu?

Itu hanya sebatas ramalan, yang mungkin saja bisa benar atau tidak. Mungkin saja juga hanya sekedar dikaitkan. Tidak ada yang tahu. 

 

Top