JATIMTIMES - Pembelajaran matematika di ruang kelas dinilai perlu melampaui sekadar hitungan dan rumus. Di tengah realitas siswa yang semakin beragam, guru dituntut mampu menghadirkan proses belajar yang adil, inklusif, dan menghargai perbedaan latar belakang.
Gagasan tersebut muncul saat gelaran kuliah tamu bertajuk “Membumikan Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran Matematika” yang diadakan di SMA Ma’arif NU Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Kamis (22/1/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara MGMP Matematika SMA Kabupaten Pasuruan dengan Program Magister Pendidikan Matematika Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama).

Kegiatan kolaborasi antara MGMP Matematika SMA Kabupaten Pasuruan dengan Program Magister Pendidikan Matematika Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama). (Foto: istimewa)
Baca Juga : Empat Nilai Kearifan Samin, Resep Selesaikan Konflik Era Medsos
Sejak awal hingga akhir kegiatan, antusiasme para guru matematika SMA terlihat tinggi. Forum ini menjadi ruang diskusi sekaligus refleksi bersama tentang bagaimana pendidikan, khususnya matematika, dapat berperan membangun sikap saling menghargai di tengah keberagaman peserta didik.
Dosen Magister Pendidikan Matematika Unikama Dr I Ketut Suastika MSi menegaskan bahwa matematika sejatinya tidak bebas nilai. Menurut dia, mata pelajaran ini justru memiliki potensi besar untuk menanamkan toleransi, keadilan, dan sikap saling menghormati jika dikaitkan dengan konteks sosial-budaya siswa.
“Guru perlu menyadari bahwa setiap siswa membawa latar belakang budaya yang berbeda, dan itu bukan hambatan, melainkan kekuatan dalam proses belajar,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, penerapan pendekatan multikultural tidak berarti mengubah substansi keilmuan matematika. Yang dilakukan adalah memperkaya strategi dan cara penyampaian materi agar lebih dekat dengan realitas kehidupan siswa.
Baca Juga : Sukseskan Ekonomi Kreatif dan Digitalisasi Makam, Kelurahan Ngadirejo Kukuhkan Pengurus LKK
Melalui soal-soal kontekstual yang berangkat dari pengalaman dan budaya peserta didik, konsep matematika dinilai dapat dipahami secara lebih mendalam dan bermakna. “Ketika siswa merasa dihargai identitasnya, maka proses berpikir matematis pun tumbuh dengan lebih alami dan reflektif,” tambahnya.
Ketua MGMP Matematika SMA Kabupaten Pasuruan Mohamad Saiful Rizal SPd menilai kegiatan tersebut sangat relevan dengan kondisi kelas yang kian heterogen. Ia menyebut kuliah tamu ini menjadi pengingat penting bagi guru untuk menata ulang cara pandang dalam mengajar.
“Kami berharap para guru tidak hanya fokus pada capaian kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa melalui pembelajaran matematika yang inklusif dan berkeadilan,” ucap Saiful.
