Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Imam Syafi’i dan Seni Diam: Ketika Kebijaksanaan Mengalahkan Perdebatan

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

13 - Jan - 2026, 11:07

Placeholder
Ilustrasi Imam Syafi'i yang tidak meladeni perdebatan (ist)

JATIMTIMES - Beradu argumen memang sering dianggap jalan pintas untuk membuktikan kebenaran. Namun, bagi Imam Syafi’i, tidak semua perdebatan layak diladeni. Dalam satu kisah yang terus relevan lintas zaman, ulama besar ini justru menunjukkan bahwa diam bisa menjadi bentuk kecerdasan paling elegan, sunyi yang berbicara lantang.

Imam Syafi’i, yang dikenal dengan nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, bukan hanya tokoh besar dalam fikih Islam, tetapi juga teladan dalam menjaga adab. Meski ilmunya menjulang dan fatwanya diikuti jutaan umat, beliau sangat berhati-hati dalam memilih kata, terutama saat berhadapan dengan orang yang gemar memancing emosi tanpa landasan ilmu. Baginya, debat bukan arena adu ego.

Baca Juga : Golkar Dukung Pilkada Lewat DPRD, Ahmad Irawan Soroti Dampak Sosial Pilkada Langsung

Dalam satu pernyataan yang kerap dikutip, Imam Syafi’i menegaskan bahwa ia tidak pernah berdebat demi mencari kemenangan. Prinsip itu terekam dalam berbagai literatur klasik. Ia bahkan mengakui mampu beradu argumen dengan banyak orang berilmu sekaligus, tetapi merasa tak berdaya jika berhadapan dengan satu orang yang jahil. Bukan karena kalah logika, melainkan karena perdebatan tanpa dasar ilmu tak mengenal aturan main.

Imam Syafi’i memandang, orang bodoh tidak sedang mencari kebenaran, melainkan kepuasan melampiaskan emosi. Maka, meladeni hanya akan menyeret seseorang ke pusaran yang sama. Dalam salah satu nasihatnya, beliau menyampaikan bahwa ketika orang jahil mengajak berdebat, sikap paling aman adalah menahan diri. Diam, dalam konteks ini, bukan kelemahan, melainkan tameng.

Pandangan itu sejalan dengan nilai Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 63:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” Ayat ini menjadi fondasi etika: tidak semua serangan harus dibalas, tidak semua provokasi perlu dijawab.

Imam Syafi’i juga menggambarkan sikap ini dengan perumpamaan yang tajam sekaligus puitis. Ia membandingkan singa dan anjing. Singa disegani bukan karena suaranya, tetapi karena wibawanya yang tenang. Sebaliknya, anjing sering dijadikan mainan karena terlalu banyak menggonggong. Pesannya jelas: martabat lahir dari pengendalian diri, bukan dari kerasnya suara.

Dalam syair lain, Imam Syafi’i mengibaratkan dirinya seperti kayu wangi. Ketika dicaci, ia justru memilih diam, dan dari sikap itu lahir kelembutan. Semakin “dibakar” oleh hinaan, semakin kuat pula aroma kebaikan yang keluar. Analogi ini bukan sekadar indah, tetapi mengandung pesan psikologis: emosi yang tak dituruti akan melemah dengan sendirinya.

Baca Juga : SAKIP Akselerasi Resmi Diluncurkan, Pemkab Bondowoso Pacu Kinerja dan Akuntabilitas OPD

Sikap tersebut juga selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Diam, dalam bingkai iman, adalah pilihan sadar untuk menjaga kehormatan dan mencegah pintu keburukan terbuka lebih lebar.

Karena itu, Imam Syafi’i menegaskan bahwa diam terhadap orang bodoh adalah kemuliaan. Bukan karena tak punya jawaban, melainkan karena harga diri terlalu mahal untuk ditukar dengan perdebatan tak berujung. Dalam kalimat yang terkenal, beliau menyampaikan bahwa diamnya bukan tanda kalah, melainkan keputusan untuk tidak menurunkan derajat diri.

Hingga akhir hayatnya pada tahun 204 Hijriah, Imam Syafi’i tetap dikenang bukan hanya sebagai peletak dasar ilmu usul fikih melalui karya monumental Ar-Risalah, tetapi juga sebagai figur yang mengajarkan ketenangan di tengah riuh. Di era ketika semua orang merasa wajib bersuara, pesan Imam Syafi’i terasa seperti pengingat keras namun jujur: tidak semua hal perlu ditanggapi, dan tidak semua orang pantas dijawab. Kadang, diam adalah bentuk kemenangan paling dewasa.


Topik

Agama imam syafi'i



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya