JATIMTIMES - Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) Harisandi Savari menyebut, potensi minyak dan gas bumi (migas) di wilayah Madura masih sangat besar. Ia pun mendorong agar potensi tersebut dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat lokal.
Untuk itu, Harisandi Savari menyoroti pentingnya optimalisasi sistem bagi hasil dan partisipasi daerah dalam pengelolaan migas. Ia ingin kekayaan migas Madura dikelola dengan skema yang adil dan berpihak pada daerah.
Baca Juga : Bupati Blitar Tinjau Perbaikan Jalan Brongkos–Ngembul, Target Rampung sebelum Lebaran
Menurut Harisandi, kekayaan migas di Madura seharusnya tidak hanya menjadi sumber keuntungan bagi pemerintah pusat atau korporasi semata, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat setempat. Salah satu kuncinya adalah memperkuat porsi bagi hasil yang diterima daerah.
“Kami melihat migas sebagai potensi besar untuk mengangkat ekonomi lokal, terutama jika bagi hasil dan partisipasi pengelolaan migas benar-benar dimaksimalkan,” ujar Harisandi, legislator Jatim asal Dapil Madura ini.
Anggota Komisi D DPRD Jatim ini menjelaskan, keterlibatan daerah melalui skema Participating Interest (PI) yang saat ini berada di kisaran 9–10 persen di sejumlah wilayah, perlu dioptimalkan agar memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah.
Dengan meningkatnya PI, pemerintah kabupaten maupun provinsi berpeluang memperoleh tambahan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Jika PAD meningkat, maka ruang fiskal daerah juga semakin luas. Ini bisa dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur, peningkatan layanan publik, hingga program pemberdayaan ekonomi masyarakat,” jelas legislator PKS tersebut.
Baca Juga : Lilik DPRD Jatim Dorong BUMD Jadi Penyangga Ekonomi, Serap Tenaga Kerja Lokal
Harisandi menegaskan, DPRD Jawa Timur terus mendorong agar industri migas benar-benar menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat Madura. Ia menilai, selama ini masih ada persepsi bahwa Madura hanya menjadi wilayah eksplorasi, sementara manfaat ekonominya justru lebih banyak mengalir ke luar daerah.
Ke depan, Harisandi berharap adanya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan industri migas, agar potensi energi di Madura benar-benar menjadi berkah bagi masyarakat lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di Jatim.
“Kami ingin menghapus pandangan negatif itu. Madura tidak boleh hanya menjadi penonton. Hasil migas harus kembali ke rakyat, baik melalui pembangunan fasilitas publik maupun peningkatan kualitas layanan masyarakat,” pungkasnya.
