JATIMTIMES - Dalam lintasan sejarah Islam, keputusan Khalifah Umar bin Khattab mencopot Khalid bin Walid dari jabatan panglima perang kerap dibaca sebagai langkah mengejutkan. Pasalnya, Khalid bukan figur biasa. Ia adalah panglima legendaris yang dijuluki Rasulullah SAW sebagai Saifullah al-Maslul, Pedang Allah yang terhunus, dan dikenal tak pernah kalah dalam setiap pertempuran yang dipimpinnya.
Rekam jejak militer Khalid menjadi penopang penting ekspansi Islam pada masa awal, termasuk di era kekhalifahan Umar bin Khattab. Namun justru di puncak ketenarannya, saat pasukan Muslim bersiap menghadapi Byzantium atau Romawi Timur, datang surat perintah dari Madinah. Umar memintanya menyerahkan komando kepada Abdullah bin Ubaid.
Baca Juga : Jangan Remehkan Pagi Hari: Ini Amalan Pembuka Berkah, Sehat, dan Rezeki Lancar
Khalid tidak serta-merta mengumumkan keputusan itu. Ia tengah memimpin rapat penentuan strategi perang. Ia memperhitungkan stabilitas pasukan dan memilih menuntaskan pembahasan taktik terlebih dahulu. Setelah rencana disepakati dan arah serangan jelas, barulah ia menyerahkan jabatan panglima tanpa kegaduhan.
Usai itu, Khalid kembali ke Madinah menemui Umar bin Khattab. Dengan rendah hati ia meminta penjelasan. Ia khawatir telah melakukan kekeliruan selama memimpin peperangan, terutama terkait urusan administrasi yang memang bukan keahliannya. Namun Umar menegaskan bahwa itu bukan pokok persoalan.
Umar menjelaskan bahwa yang ia jaga bukan sekadar struktur kepemimpinan, melainkan kemurnian akidah umat. Popularitas Khalid telah berkembang menjadi pujian berlebihan. Kemenangan mulai disandarkan pada figur manusia, bukan pada kehendak Allah.
Padahal Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan, “Dan bukanlah kamu yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka; dan bukan pula kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar” (QS. Al-Anfal: 17).
Bagi Umar, kemenangan harus dikembalikan sepenuhnya kepada Allah. Ia tidak ingin umat terjebak pada pengagungan sosok, betapapun besar jasanya. Prinsip itu sejalan dengan peringatan Rasulullah SAW agar umat tidak berlebihan memuji manusia, sebagaimana sabdanya, “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa bin Maryam” (HR. Bukhari).
Baca Juga : Akhir Pekan Awal Tahun Bawa Rezeki? Ini Ramalan Zodiak 4 Januari 2026 untuk Keuangan dan Peluang
Penjelasan itu membuat Khalid tersadar. Ia menerima keputusan Umar dengan keikhlasan penuh. Tidak ada rasa tersinggung, tidak pula dendam. Ia meninggalkan Madinah dan kembali ke medan perang, kali ini bukan sebagai panglima, melainkan sebagai prajurit biasa.
Sikap itu membuat banyak orang heran. Namun Khalid menjawab dengan kalimat yang menegaskan arah niatnya: ia berperang bukan karena Umar, bukan karena jabatan, melainkan semata-mata karena Allah. Sikap tersebut mencerminkan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya” (HR. Bukhari dan Muslim).
