Ruwatan Lawang, Tradisi dan Harapan yang Masih Dipegang Warga Kabupaten Malang

MALANGTIMES - Ritual ruwatan masih dilestarikan di Kabupaten Malang sampai saat ini. Berpijak pada nilai-nilai keluhuran masa lalu, ruwat menjadi sarana meminta keselamatan, keberkahan kepada Tuhan atas berbagai petaka yang menimpa. Bisa bencana yang menimpa diri sendiri, lingkungan maupun dalam skala wilayah. 

Dalam beberapa literatur, kata ruwatan berasal dari kata ruwat artinya bebas, lepas. Kata Mangruwat atau Ngruwat artinya membebaskan, melepaskan. Tradisi Hindu melakukan pengruwatan dipilih makhluk yang hidup mulia dan bahagia, akan tetapi belakangan terjadi perubahan nilai yang kemudian berubah menjadi hina dan sengsara, sehingga bagi 

mereka yang hidup sengsara atau hina itu harus diruwat artinya dibebaskan atau dilepaskan dari hidup sengsara.  
Masyarakat Kabupaten Malang pun masih memegang ritual atau tradisi ruwatan tersebut. Hal ini terlihat dari acara Ruwat Lawang yang digelar di area arca Ghanesha yang terletak di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung. 

Ruwat Lawang yang dihadiri oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Muspika Kecamatan,  budayawan serta masyarakat sekitar Karangkates, tidak jauh dari tradisi ruwat yang telah ada sejak jawa kuno. 

"Ruwat Lawang ini dalam upaya meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh kebaikan tercurah kepada masyarakat Kabupaten Malang pada umumnya. Juga kepada jalannya seluruh program pemerintah kabupaten tahun depan. Diperlancar, dijauhkan dari berbagai malapetaka serta hal buruk lainnya," kata Made Arya Wedanthara Kepala 

Disparbud Kabupaten Malang, Selasa (18/12/2018) kepada MalangTIMES. 
Selain sebagai ruang berdoa untuk membangun harapan yang sama di wilayah Kabupaten Malang, Ruwat Lawang juga merupakan ikhtiar terus menerus Pemkab Malang untuk melestarikan tradisi dan budaya masyarakat Jawa pada umumnya. 

"Kita tidak bisa meninggalkan berbagai peninggalan luhur masa lalu. Bangsa yang besar adalah yang berani untuk terus berpijak pada nilai luhir masa lalu untuk kemajuan masa depan. Ini pula kenapa Ruwat Lawang ini juga diselenggarakan di pelataran arca Ghanesha Karangkates," ujar Made Arya yang memberikan sambutan dalam acara yang juga menampilkan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Tri Wahyudi Kridho Bawono yang akan membawa lakon Sesaji Raja Suyo. 

Ruwatan memang tidak lepas dari berbagai cerita jawa kuno. Beberapa cerita ruwatan tercatat sampai saat ini. Misalnya, dalam Kakawin Partayajna (XXXII). Disebutkan, raksasa nalamala anak Durga melalui tekak (Telak) sebelum Durga melahirkan Ganesya. Ketika perang melawan Arjuna, Nalamala menampakan diri dalam wujud Kala. Arjuna bersamadi bersatu dengan Hyang Syiwa, maka dahinya memancarkan sinar. Raksasa Kala takut dan melarikan diri, serta berkata akan muncul pada jaman kali dalam wujud tiga bersaudara kalakeva untuk membunuh dua saudara pandawa.

Dalam Cerita Sudamala ( III-IV ) muncul anak Durga bernama Kalantaka dan kalanjana, keduanya berasal dari Dewa Citragada dan Citrasena yang kena Kutuk Batara Guru. Kalantaka dan Kalanjana memihak Kurawa dan akan memusnahkan Pandawa. Tetapi mereka berdua bahkan diruwat oleh Sadewa, kembali menjadi Dewa asalnya. 

Contoh lain ruwatan yang tercatat adalah dalam Pakem kandaning Ringgit Purwo ( Naskah Lediden UB LOV 639II, halaman 39-44, terbitan Djambatan, Jakarta ). Di pakem tersebut diceritakan bahwa Hyang Guru beristri Dewi Gariti dan Dewi Uma. Dewi Gareti beranak 2 bernama Batara Brahma dan Batara Cakra. Batara Brahma tubuhnya berbulu dan tulangnya berwarna merah, sedang batara Cakra timpang kakinya. 

Dewi Uma beranak 2 pula, yang pertama bernama Batara Wisnu, serba hitam warnanya. Yang kedua bernama Batara Basuki serba putih warnanya. Kemudian Dewi Uma beranak lagi 3 yaitu Yamadipati, Gana dan Siwah. Mereka hadir di Setra Gandamayu. Yamadipati berujud Raksasa dahsyat. Gana berwujud Dewa kepala gajah dan berbelalai. Siwah berujud dewa berwarna hitam dan putih separoh tubuhnya. Batara suka mengganggu para Bidadari, maka Hyang Guru menyuruh Hyang Nbarda supaya mengusir Batara Gana pergi ke Marcapada, bertempat di hutan Purwakanda dan menguasai Prajurit Raksasa.

"Masih banyak catatan tentang ruwat. Tentunya ini adalah kekayaan masa lalu yang patut kita jaga, " ujar Made Arya. 
Inti ruwat Lawang yang digelar di Karangkates pun tidak jauh dari nilai-nilai yang dipaparkan oleh berbagai kitab masa lalu tersebut. Yakni membebaskan mereka yang hidup dalam kondisi sengsara, berdosa dan sebagainya. Menuju kehidupan yang bahagia, sejahtera dan bernilai guna bagi sesama dan ingkungannya. 

"Tugas 'ruwat' dalam pengertian luas inilah yang juga disandang oleh pemkab Malang. Untuk mengentaskan berbagai kondisi sengsara menjadi sejahtera untuk seluruh masyarakat. Karena itu juga kita berharap banyak dalam ruwat Lawang juga bisa dimudahkan menjalankan tugas melayani masyarakat," pungkas Made Arya. 

Top