Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni (paling kiri) saat menjadi pemateri dalam kegiatan peningkatan peningkatan kapasitas dan fasilitasi paguyuban penghayat kepercayaan dan seniman serta budayawan oleh Disbudpar Kota Malang (Istimewa)
Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni (paling kiri) saat menjadi pemateri dalam kegiatan peningkatan peningkatan kapasitas dan fasilitasi paguyuban penghayat kepercayaan dan seniman serta budayawan oleh Disbudpar Kota Malang (Istimewa)

MALANGTIMES - Dalam peraturan dan hukum yang berlaku, Penghayat Kepada Tuhan Yang Maha Esa telah dilindungi. 

Salah satunya tertera dalam Permendikbud Nomor 27 Tahun 2016 tentang Pedoman Pendidikan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga : Sambut HUT ke 106, Wali Kota Sutiaji Ajak Masyarakat Ukir Sejarah Lewat "Malang Bercerita" Bersama MalangTIMES

Bahkan, secara administrasi Penganut Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa telah dapat mengisi kolom agama pada kartu kependudukan atau KTP. 

Selain itu, Penghayat Kepada Tuhan Yang Maha Esa juga dipastikan mendapatkan advokasi dalam setiap permasalahan yang dihadapi.

Di Kota Malang sendiri, jumlah paguyuban penghayat mencapai 19 paguyuban. 

Namun baru sembilan paguyuban yang mendaftarkan diri secara administrasi kepada pemerintah atau memiliki Surat Keterangan Terdaftar (SKT). 

Sehingga, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang terus mendorong agar paguyuban Penghayat Kepada Tuhan Yang Maha Esa segera mendaftarkan diri secara administrasi.

Kepala Disbudpar Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni menjelaskan, tata cara mendaftarkan paguyuban penghayat tidaklah susah. 

Paguyuban cukup mendaftarkan diri dengan mengisi formulir di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang. 

Selanjutnya akan dilanjutkan pemroses pendaftaran oleh Bakesbangpol.

"Bagi yang merasa kesulitan akan dibantu tim Disbudpar," katanya pada MalangTIMES.

Perempuan yang akrab disapa Dayu itu menyampaikan, dengan mendaftarkan diri, maka paguyuban penghayat dapat mendapat pembinaan langsung dari pemerintah. 

Sehingga, selama ini pemerintah terus mendorong agar penganut Penghayat Kepada Tuhan Yang Maha Esa tak ragu untuk mendaftarkan diri dan memiliki dokumen administrasi secara sah.

Pendaftaran itu sendiri salah satunya adalah untuk memastikan ajaran yang dianut paguyuban penghayat. 

Suasana diskusi kegiatan peningkatan kapasitas dan fasilitasi paguyuban penghayat kepercayaan dan seniman serta budayawan oleh Disbudpar Kota Malang (Istimewa)

Saat pendaftaran, pemerintah akan memastikan apakah ajarannya benar-benar menyembah Tuhan Yang Maha Esa atau tidak.

Baca Juga : Terlibat di Festival Jatim, Disbudpar Kota Malang Ingin Kesenian Dikenal Dunia

Lebih jauh Dayu menyampaikan, pemahaman penganut penghayat kepercayaan berkaitan dengan hak dan kewajibannya sebagaimana tercantum dalam undang-undang itu masih belum banyak diketahui. 

Sehingga, Disbudpar Kota Malang terus berupaya mensosialisasikan aturan yang ada kepada paguyuban penghayat.

Salah satu kegiatan yang baru saja dilakukan adalah melakukan peningkatan kapasitas dan fasilitasi paguyuban penghayat kepercayaan dan seniman serta budayawan oleh Disbudpar Kota Malang. 

Kegiatan tersebut berlangsung pada 26 Desember hingga 28 Desember 2019, dengan melibatkan 15 perwakilan Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan beberapa perwakilan seniman dan budayawan.

Kegiatan dibalut dalam sesi sosialisasi dan sarasehan. 

Selain melibatkan 15 perwakilan Penghayat Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan beberapa perwakilan seniman dan budayawan, kegiatan tersebut juga dihadiri sekitar 60 penghayat dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Beberapa narasumber dihadirikan dalam kegiatan tersebut. Diantaranya Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY Dra. Dwi Ratna Nurhajarini, M.Hum, Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni, Ketua Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) DIY, Bambang Purnomo.

Kemudian Kasi Pengelolaan Barang Bukti Kejaksaan Negeri Malang KN Kusuma SH, Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Malang Dian Purnama, serta Staff Intelejen Kejaksaan Negeri Malang Kusumandoko. Narasumber berikutnya adalah Kepala Bakesbangpol Kota Malang Zulkifli Amrizal.

Selain itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugroho turut hadir didampingi Kepala Seksi Seni Tradisi Dinas Kebudayaan DIY Danang Sujarwo dalam sesi kegiatan di hari ke dua, yaitu kunjungan kerja ke Kantor Dinas Kebudayaan DIY.

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugroho menyampaikan sederet tips yang dilakukan hingga DIY mampu meraih indeks pembangunan kebudayaan tertinggi secara nasional.