MALANGTIMES - Kisah miris kembali menyentak nurani dan akal budi manusia yang datang dari seorang muslimah Uighur di daerah Xinjiang, Cina Barat. Penyiksaan atas dirinya yang tidak mengetahui kesalahan apa yang membuatnya ditahan dan disiksa berhari-hari di sebuah kamp yang disebutnya ruang Detensi.
Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis
Bukan hanya menimpa pada dirinya, namun juga merupakan kisah seluruh muslim Uighur yang merupakan penduduk minoritas di Cina.
Dari kesaksian Mihirigul Tursun (29) muslimah Uighur, berbagai kisah pedih akhirnya terbuka di hadapan mata dunia. Tursun adalah korban dari kebijakan Cina yang bicara di forum National Press Club di Washington DC, Amerika Serikat (AS).
"Saya lahir dan besar di Cina. Saat dewasa saya studi ke Mesir. Tahun 2015 saya kembali ke Cina dan tanpa mengetahui kesalahan apa yang saya perbuat saya ditahan di kamp Detensi," ungkap Tursun seperti dilansir Associated Press News.
Di kamp itulah dirinya bersama sesama etnis Uighur di tahan dan disiksa. Tursun dalam pengakuannya bahkan meminta orang-orang yang menahannya untuk membunuh dirinya. Tursun yang digunduli rambutnya, disetrum dan disiksa selama 4 hari tanpa tidur, tidak mampu menghadapi perlakuan yang menimpanya.
"Saya pikir saya lebih baik mati daripada melewati segala siksaan itu, dan saya memohon kepada mereka untuk membunuh saya," ujarnya.
BBC dalam beberapa bulan lalu melaporkan kondisi tersebut. Tursun hanyalah satu dari banyaknya kaum muslim Uighur yang menerima perlakuan tidak manusiawi dari pemerintah Cina.
Menurut laporan BBC, Cina menyatakan pihaknya melakukan penahanan untuk mengatasi kelompok ekstrimis. Walaupun dari berbagai pengakuan mantan tahanan yang juga dilansir BBC mereka mengalami siksaan fisik dan psikologis.
"Di Cina mereka menyebutnya kamp politik tetapi tempat itu sebenarnya sebuah penjara di pegunungan," ujar eks guru yang berhasil lolos dari kamp dan melarikan diri ke Kazakhstan.
Laporan The World Uighur Congress menyatakan, para tahanan dibui untuk waktu tidak ditentukan. Tanpa dakwaan dan dipaksa meneriakkan slogan Partai Komunis.
Mereka dilaporkan tidak cukup diberikan makanan dan banyak laporan tentang penyiksaan. Sebagian besar tahanan tidak pernah didakwa dan tidak mendapatkan bantuan hukum.
Kesaksian Tursun serta kaum muslim Uighur direkam dalam berita di The New York Times. Para bekas tahanan menyatakan mereka dipaksa menyanyikan lagu-lagu seperti "Tanpa Partai Komunis, Tidak Akan Ada Cina yang Baru" dan bagi orang-orang yang lupa syairnya, tidak diberikan makan pagi.
"Pada akhirnya, semua pejabat menyampaikan satu hal penting. Kebesaran Partai Komunis Cina, keterbelakangan kebudayaan Uighur dan kecanggihan budaya Cina," kata mantan tahanan Abdusalam Muhemet kepada koran tersebut.
Sontak saja perlakuan pemerintah Cina membuat berbagai negara mengecamnya. Tidak kalah ramai jagad dunia maya Indonesia pun bergemuruh dengan kejadian tersebut. Warganet menyikapi peristiwa tersebut dengan berbagai komentarnya. Walau akhirnya terpecah menjadi dua kubu dalam menyikapi berbagai kisah pedih muslim Uighur di Cina.
Satu kubu tidak mempercayai adanya peristiwa tersebut dan menyebutnya bahwa berbagai berita tersebut merupakan kabar hoax, berita adu domba serta lainnya. Di kubu lainnya, mereka mempercayai kabar tersebut. Sayangnya, dua kubu tersebut akhirnya selalu terjebak dalam perkelahian maya.
"AWAS BERITA ADU DOMBA!!! " tulis akun indrachannn. Seperti juga di tulis oleh akun ilhamradinata yang mengatakan, "jangan langsung percaya... berita begini pada intinya hanya untuk memojokkan negara Tiongkok saja, ".
Komentar lainnya pun hampir senada semua. Bahwa kabar adanya penyiksaan yang dikisahkan oleh Tursun hanyalah kabar bohong.
"Hoaxlah ko rambutnya ibdah kaya habis dr salon trs dandannya ok bohong," tulis akun Soeheni64.
Di kubu yang percaya terhadap berbagai kabar tersebut pun tidak kalah ramai. "Ini berita asli ada dimana mana," kata akun bhilandz.
Baca Juga : Hingga Pertengahan April, 4 Kali Tanah Longsor Terjadi di Kota Batu
herdiyantilukmana menuliskan juga bahwa tragedi tersebut benar-benar terjadi. "Ini real, cina benaran semena2 banget gak cuma sama muslim aja sih sebenarnya, sama yang beda ras (afrika misalnya) jg digituin bahkan ada mhs beda ras yg kuliah disana dipukuli dipinggir jalan sampai meninggal ditempat dan tak ada yg nolongin... " tulisnya.
Perkelahian atas suatu kabar di dunia maya, menjadi pemandangan keseharian bagi warganet. Dua kubu berseberangan pun kerap menihilkan logika penengah dari warganet itu sendiri. Bahkan, menurut akun joesuf_m menuliskan, "gua panas baca beritanya, tapi lebih panas lagi baca komentnya".












