MALANGTIMES - Minggu (25/11/2018) dini hari, warga Desa Tumpukrenteng Kecamatan Turen digemparkan kasus kematian Juari. Pria yang dikenal sebagai sosok preman kampung ini, justru ditemukan tewas mengenaskan, akibat dikeroyok puluhan pria tak dikenal. Hingga kini, polisi masih mendalami motif sekaligus pelaku di balik aksi tidak manusiawi tersebut.
“Cacakku ancen arek e mbhetik, mbendino pagaweane ngombe. Arek e yo gelek melbu metu penjara (Kakakku memang orangnya nakal, setiap hari kerjaannya mabuk, dia juga sering keluar masuk penjara),” kata Farida (Adik kandung korban).
Baca Juga : Pasien Positif Covid-19 Meningkat, Polres Malang Ancam Warga yang Tolak Pemakamannya
Farida menambahkan, beberapa minggu sebelum kejadian tragis itu terjadi, pihaknya sering mengalami mimpi buruk. Dalam mimpinya, perempuan 39 tahun ini merasa jika kakaknya bakal meninggal dunia.
Selain itu, sederet firasat buruk juga dialaminya. Perempan dengan tubuh kurus ini, sering mendengar suara burung gagak di sekitar rumahnya. “Krak krak, suara burung itu sering saya dengar setelah bermimpi jika kakak saya akan mati,” terangnya.
Perlu diketahui, menurut keyakinan sebagian masyarakat di Jawa. Jika ada suara burung gagak, atau yang dikenal dengan istilah burung krak (suara burung gagak). Maka, bakal terjadi kasus orang meninggal.
Perasaan was-was itu semakin menjadi-jadi. Beberapa minggu sebelum Juari tewas. Raut wajahnya nampak begitu murung. Bahkan, nafsu makannya juga berkurang drastis. “Dia (Korban) tidak seperti biasanya, selama ini Juari selalu ceria, tapi belakangan sebelum meninggal wajahnya nampak pucat. Bahkan lebih suka mabuk dibanding makan,” tutur Farida.
Setelah sederet feeling aneh, dan firasat tidak mengenakan itu terjadi. Farida selalu berusaha untuk berfikir positif. Sebab, setelah keluar dari penjara karena kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), korban lebih sering tinggal di rumah istrinya yang beralamat di daerah Kecamatan Wajak. “Setelah bebas dari penjara, kakak saya lebih sering tinggal bersama istrinya di Wajak. Karena itulah saya sedikit tenang dan berusaha berfikir positif, sebab jika tinggal di rumahnya (lokasi pengeroyokan) terus terang saya khawatir, sebab Juari memang memiliki banyak masalah dan sering berulah,” ungkap Farida.
Perempuan dengan rambut panjang itu menambahkan, kekhawatirannya semakin menjadi-jadi setelah korban sering berkunjung di rumahnya. Korban berdalih jika sering pulang ke rumah yang berlokasi di Desa Tumpukrenteng, lantaran kangen dengan Farida. “Saat berkunjung, korban sering mengeluh jika ingin mati,” terang Farida sambil meneteskan air mata.
Farida juga bercerita jika kakaknya memang dikenal sebagai sosok yang nakal. Selain sering bermasalah dengan warga sekitar, korban juga sering keluar masuk penjara. Terakhir, pria 41 tahun itu menjalani kurungan penjara selama 3,5 tahun, di lapas Lowokwaru. “Juari baru saja bebas dari penjara sekitar 40 hari lalu, sebelum akhirnya meninggal karena dikeroyok,” celetuk Farida.
Baca Juga : WNA Asal Belanda Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Mandi
Sementara itu, dari pendalaman MalangTIMES, selain kasus curanmor. Semasa hidupnya, Juari sering keluar masuk penjara. Mulai tindak kriminal pencurian hingga terjerat kasus pencabulan dengan anak di bawah umur, juga pernah dilakukan korban. “Iya itu memang benar, dari catatan kepolisian Juari sering dipenjara. Bahkan dia juga pernah terjerat kasus pencabulan anak di bawah umur,” terang salah satu anggota kepolisian, yang mewanti-wanti agar namanya tidak disebutkan ini.
Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Juari tewas mengenaskan di kediamannya pada Minggu (25/11/2018) lalu. Korban meregang nyawa setelah dikeroyok oleh puluhan orang. Sesaat sebelum kejadian, pria 41 tahun itu, pulang ke rumah beserta istrinya yang bernama Jamiarul Masamah.
Keduanya singgah kerumah yang selama ini ditempati adik kandungnya itu, dengan mengendarai sepeda motor. Belakangan diketahui, korban pulang ke rumah dalam kondisi mabuk, setelah melihat pertunjukan kuda lumping di Kecamatan Wajak.
Korban sempat hendak meregang nyawa karena overdosis minuman keras (miras). Beruntung, nyawa Juari masih bisa terselamatkan, setelah mendapatkan pertolongan pertama. Namun nahas, korban justru meregang nyawa saat tidur di ruang tengah di rumahnya, sesaat setelah tiba di lokasi kejadian. Juari dikeroyok oleh sekelompok pria tidak dikenal. Di sekujur tubuhnya ditemukan bekas luka bacokan dan pukulan benda tumpul. Kepalanya juga nyaris hancur karena sempat di hantam cor-coran, gagang cangkul, dan pukulan membabi buta.
Tragisnya lagi, setelah aksi tidak manusiawi itu terjadi, korban sempat diseret sejauh 100 meter. Hingga kini, petugas kepolisian masih melakukan pendalaman terkait motif, dan pelaku dibalik aksi beringas tersebut.
