Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Ramai Sebaran SO2 Gunung Anak Krakatau Sampai di Malang, Ini Penjelasan BMKG 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

07 - Sep - 2026, 12:56

Placeholder
Sebaran SO2 di sekitaran Jawa Timur pada Senin (7/9/2026) pagi. (Foto: @info_malang)

JATIMTIMES - Beredar kabar di media sosial mengenai sebaran sulfur dioksida (SO₂) akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang telah mencapai sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Malang. Informasi itu membuat warga khawatir dengan kondisi udara yang mereka hirup.

Dalam narasi yang diunggah akun Instagram @info_malang menampilkan peta sebaran atmosfer dan seolah menunjukkan sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur terdampak gas SO₂ akibat aktivitas gunung api.

Baca Juga : Ratusan Pedagang Pasar Bandar Kecewa, Pertemuan Empat Pilar Berakhir Buntu

Tak hanya Malang, beberapa wilayah di Jawa Timur juga tampak kemerahan. Seperti wilayah Jember, Surabaya hingga Madura. 

Namun, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan tingkat bahaya hanya berdasarkan warna atau luas sebaran pada peta satelit.

Melalui akun Threads resminya @infobmkg, BMKG memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut.

"Sebaran gas memang benar dan meluas, itu fakta dari citra satelit. Tapi luasnya sebaran di peta atmosfer tidak sama dengan tingkat bahaya yang benar-benar dirasakan warga di permukaan tanah," tulis BMKG.

BMKG menjelaskan, untuk mengetahui apakah udara di permukaan benar-benar berbahaya atau tidak, masyarakat perlu melihat angka kualitas udara resmi, bukan hanya mengacu pada warna merah dalam peta satelit yang menggambarkan sebaran material di atmosfer.

"Untuk tahu apakah udara yang kita hirup hari ini benar-benar berbahaya atau tidak, patokan yang tepat adalah angka kualitas udara resmi dari pemerintah, bukan warna merah pada peta satelit kolom atmosfer," lanjutnya.

BMKG juga menjelaskan proses yang terjadi ketika gas SO₂ dari aktivitas vulkanik telah menempuh perjalanan jauh di atmosfer. 

Setelah menempuh jarak ratusan kilometer dan berada di udara selama berjam-jam, sebagian gas SO₂ dapat bereaksi dengan oksigen dan uap air di atmosfer. Proses tersebut membuat sebagian material berubah menjadi partikel halus yang dikenal sebagai aerosol sulfat.

"Setelah menempuh jarak ratusan kilometer dan waktu berjam-jam di udara, sebagian besar gas SO2 itu sudah tidak lagi berwujud gas murni. Gas tersebut sudah bereaksi dengan oksigen dan uap air di atmosfer, berubah wujud menjadi partikel halus yang disebut aerosol sulfat," jelas BMKG.

Karena telah mengalami perubahan bentuk, karakter material yang sampai ke permukaan juga berbeda dengan gas vulkanik yang berada dekat sumber erupsi. BMKG menjelaskan material tersebut tidak lagi memiliki sifat seperti gas SO₂ segar dengan konsentrasi tinggi di sekitar kawah.

"Karena sudah berbentuk partikel, sifatnya pun berubah, tidak lagi menyengat seperti gas segar dekat kawah, melainkan lebih mirip debu atau kabut halus yang bercampur dengan abu vulkanik," tulis BMKG.

BMKG menjelaskan material yang mencapai permukaan dalam perjalanan jauh dari sumber erupsi tidak bisa disamakan dengan kondisi di sekitar kawah Gunung Anak Krakatau.

"Karena itu, saat ini yang dominan sampai ke permukaan dan dirasakan warga Jabodetabek adalah abu vulkanik, bercampur sebagian kecil partikel hasil perubahan gas SO2 tersebut. Bukan gas SO2 murni dan pekat seperti yang ada tepat di sekitar kawah," jelasnya.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu langsung panik hanya karena melihat peta sebaran SO₂ berwarna merah di media sosial.

Jika kualitas udara di permukaan masih berada pada kategori baik atau sedang, kondisi tersebut berarti udara di permukaan masih relatif aman untuk aktivitas normal. Meski demikian, kondisi atmosfer di lapisan yang lebih tinggi bisa saja berbeda.

"Kalau kualitas udara di permukaan masih di level baik atau sedang, artinya udara permukaan masih aman untuk beraktivitas normal, meski di langit tinggi mungkin sedang ada SO2 yang tebal," kata BMKG.

Meski demikian, BMKG tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan paparan abu vulkanik dan partikel di udara.

Beberapa langkah yang disarankan antara lain menggunakan masker dan kacamata pelindung ketika beraktivitas di luar rumah. Keduanya diperlukan untuk membantu melindungi saluran pernapasan dan mata dari partikel abu vulkanik.

Masyarakat juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika terjadi hujan abu atau ketika hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.

Baca Juga : Indonesia Butuh Regenerasi, Asifa Malang Serius Garap Talenta Sepak Bola Usia Dini

Pintu, jendela, dan ventilasi rumah sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya abu ke dalam ruangan.

Abu yang menempel di atap rumah, kendaraan maupun halaman juga perlu dibersihkan. Namun, BMKG mengingatkan agar abu tidak disapu dalam kondisi kering.

Abu sebaiknya dibersihkan dengan cara disiram air sehingga partikel halus tidak kembali beterbangan dan berisiko terhirup.

Perlindungan ekstra juga perlu diberikan kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan dan jantung.

Masyarakat diminta memantau angka kualitas udara resmi secara berkala dan tidak hanya mengandalkan tangkapan layar atau peta sebaran yang beredar di media sosial.

"Memantau angka kualitas udara resmi secara berkala, bukan hanya berpatokan pada citra satelit atau tangkapan layar yang beredar di media sosial," imbau BMKG.

Informasi terkait kondisi udara dan aktivitas Gunung Anak Krakatau juga sebaiknya diperoleh dari BMKG, PVMBG, BNPB, BPBD maupun pemerintah daerah.

Sebagaimana diberitakan, kekhawatiran masyarakat muncul di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau yang memang sedang meningkat. 

Badan Geologi melaporkan Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Episode tersebut berlangsung sekitar 25 jam dan disertai suara gemuruh.

Hingga 7 September 2026, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi juga mencatat erupsi strombolian masih terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir.

BMKG pada 6 September 2026 juga melaporkan hasil analisis citra satelit yang menunjukkan dua klaster sebaran abu vulkanik melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Apa Itu Gas SO2?

Dilansir dari laman resmi BMKG, sulfur dioksida atau SO₂ merupakan salah satu jenis gas oksida sulfur (SOx). Gas ini dapat terbentuk dari pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur, seperti batu bara dan minyak mentah.

Selain berasal dari aktivitas manusia, SO₂ juga dapat muncul dari aktivitas vulkanik. Erupsi gunung api menjadi salah satu sumber alami gas tersebut.

Sumber lainnya berasal dari kegiatan industri, termasuk pabrik pengolahan batu bara, industri kimia dan pembangkit listrik tenaga termal.

SO₂ umumnya tidak berwarna dan mudah larut dalam air. Dalam konsentrasi tinggi, gas tersebut dapat menimbulkan bau yang cukup tajam.

Paparan SO₂ dalam konsentrasi tinggi dapat berbahaya bagi manusia karena berpotensi mengganggu sistem pernapasan. Dalam kondisi ekstrem, paparan dapat menyebabkan dampak kesehatan serius.

Tidak hanya bagi manusia, SO₂ juga dapat berdampak terhadap lingkungan. Gas tersebut dapat berkontribusi terhadap kerusakan tumbuhan serta merusak material tertentu pada bangunan, termasuk bahan yang mengandung batu kapur, pualam dan dolomit.


Topik

Peristiwa Anak Krakatau erupsi Gunung Anak Krakatau Gunung Berapi citra satelit Sebaran SO2



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni