JATIMTIMES - Konsistensi berkarya di bidang seni rupa selama empat dekade membawakan hasil manis bagi seniman asal Kota Batu, Muchlis Arif. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi menahbiskan seniman yang juga akademisi bergelar doktor tersebut sebagai maestro seni keramik Indonesia.
Pengakuan tersebut dirangkaikan dengan peluncuran buku serta pameran dokumentasi karya bertajuk Jatuh Cinta, Totalitas Sebuah Pengabdian di Studio Matahati Ceramics, Kota Batu, yang dibuka Sabtu (5/9/2026).
Baca Juga : Penerbangan Terganggu Abu Anak Krakatau, KAI Tambah Kereta Malang-Jakarta Malam Ini
Penganugerahan predikat maestro ini disambut apresiasi hangat dari kalangan akademisi. Salah satunya dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Joko Susilo.
Joko menilai penetapan gelar maestro bagi Muchlis Arif sangat tepat jika ditinjau dari rekam jejak akademis maupun jajaran karya yang diakuinya hingga level internasional.
"Dalam tradisi Jawa, maestro itu bisa diibaratkan sebagai empu. Beliau memiliki kepakaran dan keahlian konkret yang diakui publik secara objektif," ujar Joko Susilo saat ditemui di lokasi acara.
Joko menambahkan, perjalanan 40 tahun Muchlis Arif bukan sekadar bentuk pengabdian, melainkan bukti komitmen dan integritas tinggi terhadap dunia seni rupa.
"Karya beliau tidak berhenti pada 'seni untuk seni', tetapi juga memberikan kemaslahatan dan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat luas," tambahnya.

Sementara itu, Muchlis Arif mengungkapkan bahwa predikat maestro ini merupakan bagian dari program Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro oleh Kementerian Kebudayaan.
Melalui program tersebut, seluruh rekam jejak, arsip, hingga karya fisik yang dibuatnya sejak tahun 1986 didokumentasikan secara komprehensif dalam bentuk buku dan pameran.
"Semua jejak karya dan arsip sejak 40 tahun lalu kita dokumentasikan. Pengetahuannya dituangkan dalam buku Jatuh Cinta, Totalitas Sebuah Pengabdian," tutur Muchlis Arif.
Baca Juga : Semangat Kemerdekaan: Festival Anak Gemilang Bersama DPRD Kota Malang Jadi Panggung Adu Prestasi
Ia menceritakan bahwa perjalanan panjangnya di seni keramik berawal dari sebuah 'jalan sunyi' karena minimnya peminat pada era awal ia meniti karier.
"Awalnya jalan sunyi, tidak punya teman. Tapi ajaran dari kakak saya, kalau sendiri berarti kamu yang pertama (the first). Itu yang membuat saya betah bertahan berjam-jam di studio," ungkapnya.
Kini, dari jalan sunyi tersebut, Muchlis berhasil membangun ekosistem seni yang hidup melalui berbagai kelas edukasi, creativity training, hingga terapi keramik (clay therapy).
Rangkaian pameran yang dibuka hingga 5 Oktober 2026 ini juga dimeriahkan dengan parallel event berupa pameran keramik internasional Ada Rasa di Sukahati, yang melibatkan program residensi seniman dari lima negara.
"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak. Lewat media lempung ini, kita ingin terus menghadirkan karya yang tidak hanya fisik, tapi juga memberi edukasi dan dampak sosial," pungkasnya.
