Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Dentuman Anak Krakatau Menjalar hingga Bandung, Badan Geologi Ungkap Penyebabnya

Penulis : Riski Wijaya - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

06 - Sep - 2026, 08:02

Placeholder
Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.(Foto: istimewa/BBC)

JATIMTIMES – Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali terdengar jauh dari sumber erupsi. Dentuman dan getaran muncul di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, serta Lampung pada Minggu dini hari, 6 September 2026.

Badan Geologi menduga aktivitas erupsi Anak Krakatau memicu suara tersebut. Erupsi berlangsung selama beberapa jam sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi.

Baca Juga : Benda Sitaan Negara Kerap Susut Nilai, IKA FH UB-PERSADA UB Bahas Solusi di Era KUHAP 2025

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan laporan warga muncul bersamaan dengan aktivitas erupsi. PVMBG mencatat erupsi berlangsung mulai pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB.

“Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama,” kata Lana.

Fenomena itu menarik perhatian karena Bandung Raya ikut merasakan dampaknya. Jarak Bandung dengan Anak Krakatau mencapai sekitar 700 kilometer jika dihitung dalam garis lurus.

Lana menjelaskan atmosfer dapat membawa gelombang suara berfrekuensi rendah hingga ratusan kilometer. Perubahan suhu, tekanan, serta angin pada ketinggian tertentu juga dapat membelokkan arah rambatan suara.

“Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung,” ujarnya.

Erupsi kali ini juga menunjukkan semburan merah menyala yang berlangsung terus-menerus. PVMBG menilai karakter semburan tersebut menyerupai lava fountain atau fenomena lava air mancur.

Aktivitas itu dapat menghasilkan suara gemuruh dari pelepasan gas secara cepat. Gesekan dan turbulensi lava berkecepatan tinggi di dalam konduit juga dapat memperkuat suara erupsi.

Di tengah laporan dentuman, isu potensi tsunami turut beredar di masyarakat. Badan Geologi meminta warga tidak langsung menghubungkan aktivitas tersebut dengan ancaman tsunami.

Baca Juga : Roro Jonggrang Tampil "Go International", Rahasia Kelas Bilingual dan Digital SMPN 1 Maospati Pukau Warga

Lana menyebut tubuh Anak Krakatau yang kembali tumbuh setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Kondisi tersebut, menurut evaluasi Badan Geologi, belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala pemicu tsunami.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik,” kata Lana.

Anak Krakatau kini masih berada pada Level III atau Siaga. PVMBG menetapkan status tersebut sejak 2 Juli 2026 karena aktivitas gunung api masih menyimpan sejumlah potensi bahaya.

Masyarakat perlu mengantisipasi lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas, serta hujan abu vulkanik. PVMBG juga meminta warga memakai pelindung pernapasan ketika abu vulkanik turun.

Petugas melarang masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki mendekati pusat aktivitas dalam radius tiga kilometer. Pemerintah meminta warga pesisir Banten dan Lampung tetap mengikuti perkembangan informasi resmi.

PVMBG akan terus memantau aktivitas Anak Krakatau dan mengevaluasi perubahan kondisinya. Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum mendapat konfirmasi pemerintah.


Topik

Peristiwa Anak Krakatau dentuman Gunung Anak Krakatau Gunung Berapi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Riski Wijaya

Editor

Sri Kurnia Mahiruni