JATIMTIMES – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu terus mematangkan langkah strategis untuk memperkuat potensi ekonomi kerakyatan di tingkat desa. Salah satu fokus pengembangan kawasan menyasar koridor Jalan Bukit Berbunga, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bumiaji, agar tidak sekadar menjadi jalur jual beli tanaman hias biasa.
Kawasan tersebut didorong untuk bertransformasi menjadi destinasi wisata bunga terpadu yang tertata rapi serta memiliki daya saing tinggi. Langkah utama yang ditawarkan pemerintah daerah adalah memusatkan keberadaan para pedagang bunga yang selama ini berjualan secara menyebar di sepanjang bahu jalan.
Baca Juga : Rekomendasi Ramen di Kota Malang yang Ramah di Kantong, Cocok untuk Mahasiswa dan Anak Kos
Wali Kota Batu Nurochman menegaskan bahwa penguatan ekonomi warga Desa Sidomulyo akan jauh lebih maksimal jika kawasan sentra bunga dikelola secara terintegrasi. Lingkungan yang rapi, bersih, dan ikonik dinilai menjadi magnet kuat untuk menarik animo kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara.
"Jalan Bukit Berbunga itu bisa dicarikan tempat di desa, disentralkan dengan lokasi yang tertata, terkelola, dan ikonik, tentu akan sangat menarik wisatawan," ujar Nurochman belum lama ini.
Pria yang akrab disapa Cak Nur itu juga menyoroti pemanfaatan fasilitas umum di sepanjang koridor Bukit Berbunga yang belum optimal bagi Pejalan kaki. Banyaknya pedagang yang menggunakan area trotoar sebagai panggung display jualan dinilai perlu disolusikan melalui penataan ulang.
"Kalau itu diperlebar akan lebih nyaman dan ramah bagi pejalan kaki," terang Cak Nur.
Baca Juga : Soroti Jalan Rusak di Madura dan Tapal Kuda, PPP-PSI Minta Alokasi P-APBD 2026 Merata
Guna menghidupkan kawasan sentra bunga yang baru, Pemkot Batu menawarkan skema kolaborasi bersama destinasi wisata terdekat seperti Batu Love Garden (Baloga). Kawasan perdagangan nantinya bakal disinergikan dengan atraksi seni budaya lokal serta paket eduwisata hortikultura.
Cak Nur memastikan bahwa seluruh proses sentralisasi pedagang dan revitalisasi kawasan Bukit Berbunga masih membutuhkan kajian teknis yang mendalam. "Yang penting kenyamanan pedagang lokal serta kemudahan aksesibilitas bagi kendaraan wisatawan akan menjadi pertimbangan utama sebelum kebijakan diterapkan," jelas dia.
