Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Rasulullah SAW Sebut Satu Sikap yang Membuat Allah dan Manusia Mencintaimu

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

14 - Jun - 2026, 09:26

Placeholder
Ilustrasi seseorang umat yang merenung, memahami ajaran Rasulullah. (ist)

JATIMTIMES - Di tengah kehidupan modern yang semakin kompetitif, ukuran kesuksesan sering diidentikkan dengan kepemilikan harta, jabatan, dan pengakuan sosial. Tidak sedikit orang menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengejar dunia, namun justru merasa semakin jauh dari ketenangan. 

Dalam perspektif Islam, kondisi ini menjadi pengingat penting tentang nilai zuhud, sebuah sikap yang diajarkan Rasulullah SAW sebagai jalan meraih cinta Allah SWT sekaligus penghormatan dari sesama manusia.

Baca Juga : Tata Cara Baca Yasin di Malam 1 Muharam: Niat, Doa, dan Keutamaannya

Keinginan untuk dicintai Allah dan disukai manusia ternyata pernah menjadi pertanyaan yang diajukan langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Seorang sahabat meminta petunjuk tentang amalan yang dapat menghadirkan dua kemuliaan tersebut. Rasulullah SAW kemudian memberikan jawaban yang singkat, tetapi sarat makna.

Beliau bersabda, "Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu." (HR Ibnu Majah).

Hadis ini menunjukkan bahwa akar dari banyak persoalan sosial maupun spiritual sering berawal dari ketergantungan berlebihan terhadap urusan dunia dan rasa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ketika seseorang terus membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain, ketenangan batin menjadi sulit diraih. Sebaliknya, orang yang mampu menjaga hatinya dari ketamakan akan lebih mudah mendapatkan ketenteraman dan hubungan sosial yang sehat.

Zuhud kerap disalahpahami sebagai meninggalkan harta atau menjauhi kehidupan dunia. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti mengharamkan sesuatu yang halal atau hidup dalam kemiskinan. Zuhud adalah kemampuan menempatkan dunia sebagai sarana, bukan tujuan utama kehidupan.

Muhammad Khalil Itani dalam bukunya Wasiat Rasul Buat Lelaki menjelaskan bahwa secara syariat, zuhud berarti lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah dibandingkan apa yang berada dalam genggaman sendiri. Seseorang yang zuhud tetap bekerja, berusaha, dan mencari rezeki, tetapi hatinya tidak bergantung pada harta yang dimilikinya.

Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: "Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu." (QS Az-Zariyat: 22).

Ayat ini mengajarkan bahwa sumber rezeki dan seluruh janji Allah berada dalam kuasa-Nya. Karena itu, seorang mukmin tidak perlu menghabiskan hidup dalam kecemasan berlebihan terhadap urusan dunia.

Para ulama menyebut terdapat beberapa tanda utama zuhud. Pertama, seseorang lebih percaya kepada apa yang dijanjikan Allah daripada apa yang dimiliki saat ini. Kedua, ketika tertimpa musibah, ia lebih berharap pahala yang disediakan Allah daripada terus larut dalam kesedihan. Ketiga, ia tidak menjadikan pujian maupun celaan manusia sebagai ukuran utama dalam menjalankan kebenaran.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Minggu 14 Juni 2026: Bijak saat Kelola Uang 

Tokoh tabi'in Hasan Al-Bashri menggambarkan karakter tersebut dengan sederhana. Ia berkata, "Orang zuhud adalah orang yang ketika melihat orang lain, ia merasa orang itu lebih mulia daripada dirinya."

Sementara itu, Imam Ahmad bin Hanbal mendefinisikan zuhud sebagai pendek angan-angan terhadap dunia dan tidak menggantungkan harapan kepada apa yang berada di tangan manusia. Sikap inilah yang membuat seseorang terbebas dari rasa iri, dengki, dan persaingan yang tidak sehat.

Dorongan untuk hidup zuhud dapat tumbuh melalui kesadaran bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Kenikmatan, kekayaan, dan kedudukan suatu saat akan berakhir, sedangkan kehidupan akhirat bersifat kekal. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi mengapa Rasulullah SAW menjalani kehidupan yang sederhana meskipun memiliki kedudukan paling mulia di sisi Allah.

Sejarah mencatat, baik pada masa sulit sebelum hijrah maupun ketika memimpin masyarakat Madinah dalam kondisi yang lebih mapan, Rasulullah SAW tetap menunjukkan sikap tidak berlebihan terhadap kenikmatan dunia. Seluruh orientasi hidup beliau diarahkan untuk memperoleh ridha Allah dan kebahagiaan akhirat.

Di tengah masyarakat yang sering menilai seseorang dari apa yang dimilikinya, pesan Rasulullah SAW tentang zuhud menjadi semakin relevan. Jalan menuju cinta Allah dan penghargaan manusia bukanlah melalui perlombaan mengumpulkan dunia tanpa batas, melainkan melalui hati yang mampu mengendalikan keinginan dan meletakkan dunia pada posisi yang semestinya. Dengan sikap itulah seorang Muslim dapat meraih keberhasilan yang tidak hanya diukur oleh manusia, tetapi juga bernilai di hadapan Allah SWT.


Topik

Agama Zuhud dicintai Allah dicintai manusia agama kajian Islam



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy