JATIMTIMES - Perjalanan industri rokok kretek di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Ong Hok Liong. Sosok pengusaha yang dikenal sebagai pendiri Bentoel itu memulai usahanya dari langkah kecil, bahkan dengan modal yang sangat terbatas.
Dalam menjalankan bisnisnya, Ong Hok Liong memiliki nasihat yang selalu ia pegang teguh. “Jadi orang harus mau melarat dulu, jangan lantas mau kaya saja”. Kalimat itu kerap ia ucapkan sebagai prinsip hidup sekaligus pegangan dalam membangun usaha.
Baca Juga : Ingin Turunkan Berat Badan setelah Lebaran? Coba 5 Cara Ini agar Tubuh Kembali Ideal
Ong Hok Liong lahir di Karang Pacar, Bojonegoro pada 12 Agustus 1893. Ia merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara, empat laki-laki dan tiga perempuan, pasangan Ong Hing Tjien dan Liem Pian Nio. Keluarganya berasal dari keturunan Cina Jawa yang tidak mengetahui secara pasti tanah leluhurnya di Tiongkok.
Sejak muda, Ong sudah terbiasa bekerja. Setelah menempuh pendidikan hingga kelas lima sekolah dasar, ia sempat membantu gurunya mengajar. Namun aktivitas utamanya tetap berdagang tembakau.
Menjelang usia 17 tahun, ia memutuskan meninggalkan Bojonegoro menuju Kota Malang. Ia kemudian menetap di kawasan Pecinan Kecil, tepatnya di Jalan Wiromargo yang saat itu menjadi pusat aktivitas perdagangan masyarakat Tionghoa.
Sekitar tahun 1930, di rumah yang juga menjadi tempat tinggalnya, Ong bersama tetangganya Tjoa Sioe Bian mulai merintis usaha rokok setelah sebelumnya berdagang beras. Dari tempat sederhana itu lahir Strootjesfabriek Ong Hok Liong yang kemudian berkembang menjadi Hien A Kongsie, cikal bakal P.T. Bentoel yang kelak dikenal sebagai salah satu dari lima perusahaan rokok terbesar di Indonesia.
Rumah tersebut merangkap sebagai pabrik. Dua ruangan di bagian depan difungsikan sebagai kantor sekaligus tempat tinggal, sementara bagian belakang digunakan sebagai gudang dan tempat pelintingan rokok klobot.
Modal awal usaha diperoleh dari menggadaikan perhiasan milik istrinya, Liem Kiem Kwie Nio. Sang istri juga berperan besar dalam menggerakkan usaha keluarga pada masa awal berdirinya perusahaan. Saat itu Ong mempekerjakan tujuh orang karyawan yang sebagian besar masih memiliki hubungan keluarga. Dua di antaranya adalah adiknya sendiri, Ong Hok Pa dan Ong Hok Bing.
Pada masa awal produksi, rokok yang dibuat memiliki berbagai merek seperti Burung, Kendang, Klabang, Turki, dan Djeruk Manis. Namun hingga tahun 1935 usaha tersebut belum berkembang pesat karena krisis ekonomi dunia yang melanda saat itu.
Di tengah kondisi tersebut, Ong melakukan ziarah ke makam Mbah Djunggo di Gunung Kawi. Setelah itu, merek rokok diganti menjadi Bentoel yang kemudian justru membawa keberuntungan bagi perusahaannya.
Ada yang menyebut nama Bentoel berasal dari mimpi Ong saat melakukan ziarah di Gunung Kawi. Ia bermimpi bertemu dengan penjual bentul. Sementara menurut putrinya, Mariani Samsi, nama tersebut diperoleh setelah Ong melakukan semedi panjang hingga akhirnya melihat banyak penjual bentul yang memikul dagangannya secara berkelompok.
Produksi Bentoel sempat terhenti ketika Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942. Ong pun mengungsi ke Gunung Kawi. Namun setelah Jepang mundur, rokok Bentoel kembali diproduksi dan tetap populer di masyarakat.
Pada periode 1945 hingga 1946, pemasaran rokok dilakukan secara sederhana. Para penjual menawarkan produk dari rumah ke rumah dengan sepeda bahkan berjalan kaki. Distribusi ke warung-warung dilakukan menggunakan gerobak.
Meski situasi politik tidak stabil, pabrik tetap beroperasi ketika Agresi Militer Belanda I terjadi pada tahun 1947. Tenaga kerja saat itu banyak berasal dari para pejuang gerilya di kawasan Kesamben. Sebagai imbalannya, Ong menyediakan makanan dan rokok bagi mereka.
Baca Juga : Jeng Ayud, Olahan Ikan Rumahan yang Kini Suplai Restoran
Ketika Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948 berlangsung, Ong juga aktif membantu para pejuang republik. Ia menyembunyikan gerilyawan di dalam pabrik serta mengirim besek berisi rokok dan uang untuk mendukung perjuangan di berbagai wilayah Jawa Timur hingga front Jakarta.
Pada tahun yang sama perusahaan berubah menjadi CV Ong Hok Liong dengan jumlah pekerja sekitar 100 orang. Cabang usaha kemudian dibuka di Tulungagung dan pabrik diperluas ke kawasan Bareng Lonceng.
Setelah perang usai, pengembangan perusahaan terus dilakukan hingga ke kawasan Kasin di bekas pabrik semen. Pada tahun 1950 bentuk perusahaan berubah menjadi NV Bentoel dengan jumlah karyawan mencapai sekitar 3.000 orang.
Perkembangan perusahaan berlanjut dengan pembelian pabrik rokok di Blitar pada 1956 serta akuisisi percetakan milik pabrik rokok Amiseta yang saat itu masih menggunakan mesin handpress. Langkah tersebut menjadi awal diversifikasi usaha Bentoel.
Modernisasi industri rokok kretek juga dipelopori oleh Bentoel melalui penggunaan Sigaret Kretek Mesin pada tahun 1968. Namun jauh sebelumnya, pada 1951 Ong telah memasang mesin perajang cengkeh. Meski begitu produksi rokok dengan cara manual tetap dipertahankan melalui Sigaret Kretek Tangan.
Perusahaan juga mengembangkan unit percetakan dengan menggabungkan beberapa usaha menjadi divisi grafika Bentoel. Puncaknya, pada tahun 1994 didirikan pabrik kertas P.T. Ayu Wangi. Saat itu Bentoel memiliki sekitar 12.000 karyawan dengan area pabrik seluas 25 hektare di Karanglo dan kapasitas produksi mencapai 60 juta batang rokok per hari.
Di luar dunia bisnis, Ong Hok Liong juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial. Pada 1963 ia mendirikan kompleks sekolah dari tingkat TK hingga SMA di Bojonegoro. Perusahaan juga membangun dua perpustakaan Bentoel di Jalan Susanto dan Jalan Halmahera serta kafetaria Student Center Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang pada 1964.
Ong dikenal sebagai pekerja keras dan perokok. Ia memegang prinsip hidup “becik ketitik, ala kentara” yang berarti baik atau buruk pada akhirnya akan diketahui. Ong Hok Liong wafat pada 26 April 1967 akibat sakit lever.
Sejarah panjang Bentoel kini dapat ditelusuri melalui Museum Bentoel di Jalan Wiromargo, tidak jauh dari Pasar Besar Malang. Museum yang diresmikan pada 25 November 1994 itu menghadirkan berbagai panel cerita perjalanan perusahaan, mulai dari usaha kecil di rumah sederhana hingga berkembang menjadi industri besar yang dikenal luas di Indonesia.
