JATIMTIMES - Kasus campak kembali menjadi perhatian di Indonesia setelah jumlah kasus suspek terus meningkat. Pemerintah Provinsi Banten bahkan melakukan pemantauan intensif karena lonjakan kasus tersebut dinilai mengarah pada potensi Kejadian Luar Biasa (KLB). Hingga Maret 2026, tercatat lebih dari 2.000 kasus suspek campak ditemukan di berbagai wilayah di Provinsi Banten.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Astuti, mengatakan peningkatan kasus ini menjadi peringatan agar pemerintah daerah tidak lengah menghadapi penyebaran penyakit tersebut.
Baca Juga : Panduan Lengkap Salat Idulfitri 2026: Niat, Bacaan, Tata Cara hingga Doa
Menurut Ati, pada tahun 2025 tercatat sekitar 6.000 kasus suspek campak, dengan 510 kasus di antaranya dinyatakan positif setelah melalui pemeriksaan laboratorium.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi KLB campak pada tahun 2026. “Berbekal dari situ, otomatis kita menganggap ini mengarah ke KLB. Maka kita harus antisipasi di tahun 2026,” ujar Ati saat memberikan keterangan di Kota Cilegon, Jumat (13/3/2026).
Sejak awal Januari 2026, Dinas Kesehatan Banten telah memperkuat sistem surveilans atau pemantauan aktif hingga tingkat puskesmas. Dari hasil pemantauan tersebut, jumlah suspek campak yang dilaporkan hingga Maret diperkirakan telah melampaui 2.000 kasus.
Kasus-kasus tersebut tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Banten. Namun, dari ribuan kasus suspek itu, sejauh ini baru satu kasus yang dipastikan positif berdasarkan pemeriksaan laboratorium di Kota Tangerang.
Ati menjelaskan bahwa peningkatan surveilans dilakukan agar pemerintah dapat mendeteksi kasus lebih cepat dan mencegah penyebaran yang lebih luas.
“Meski campak tanpa komplikasi memiliki peluang sembuh yang besar, kita tetap harus waspada. Bahkan saat baru bergejala, kita sudah mengarahkannya sebagai dugaan campak,” katanya.
Pemerintah Tingkatkan Imunisasi Campak
Sebagai langkah pencegahan, dinas kesehatan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota kini tengah meningkatkan cakupan vaksinasi campak bagi anak-anak.
Program imunisasi difokuskan pada pemberian vaksin MR1, MR2, hingga MR3 kepada anak-anak sesuai jadwal imunisasi nasional.
Selain itu, pemerintah juga menjalankan beberapa program tambahan untuk meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap campak, antara lain:
• Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang akan dilaksanakan pada Agustus untuk anak-anak usia sekolah.
• ORI (Outbreak Response Immunization) atau imunisasi tanggap wabah yang sedang dilakukan di beberapa wilayah seperti Kabupaten Pandeglang.
• Imunisasi kejar, yaitu program melengkapi vaksin bagi anak-anak yang sebelumnya belum mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.
Melalui program-program tersebut, pemerintah berharap dapat menekan potensi penyebaran virus campak di masyarakat.
Cara Melindungi Anak dari Campak Saat Kasus Meningkat
Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Virus penyebab campak dapat menyebar melalui percikan air liur atau droplet saat penderita batuk maupun bersin.
Karena itu, orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan untuk melindungi anak dari penularan. Dilansir dari berbagai sumber seperti Halodoc dan Alodokter, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
1. Pastikan Anak Mendapatkan Imunisasi Campak
Langkah paling efektif untuk mencegah campak adalah melalui vaksinasi.
Anak dianjurkan mendapatkan vaksin MR atau MMR sesuai jadwal imunisasi. Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dosis pertama biasanya diberikan saat anak berusia 12–18 bulan, sementara dosis kedua diberikan pada usia 5–7 tahun.
Dalam beberapa kondisi, vaksin juga dapat diberikan mulai usia 9 bulan.
Jika anak belum mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, orang tua disarankan segera melakukan imunisasi kejar di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.
2. Hindari Kontak dengan Penderita Campak
Orang tua juga perlu membatasi kontak anak dengan orang yang sedang sakit, terutama jika menunjukkan gejala campak.
Gejala awal campak biasanya meliputi:
• demam tinggi
• pilek
• batuk
• mata merah
• muncul ruam atau bintik merah pada kulit
Virus campak dapat menular sejak empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelah ruam muncul. Karena itu, penting untuk menghindari kontak langsung dengan penderita.
Saat terjadi peningkatan kasus, sebaiknya anak juga tidak terlalu sering dibawa ke tempat umum yang ramai.
3. Jaga Kebersihan dan Daya Tahan Tubuh Anak
Baca Juga : Makeup Hack: Cara Pasang Cluster Lashes agar Hasilnya Rapi dan Natural
Selain imunisasi, menjaga kebersihan juga menjadi kunci penting untuk mencegah penularan penyakit.
Beberapa kebiasaan yang perlu diajarkan kepada anak antara lain:
• mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas
• menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin
• tidak berbagi alat makan, handuk, atau barang pribadi dengan orang lain
Orang tua juga disarankan memberikan makanan bergizi seimbang agar daya tahan tubuh anak tetap kuat.
4. Segera Periksa Jika Anak Mengalami Gejala
Jika anak menunjukkan gejala yang mengarah pada campak, sebaiknya segera memeriksakan anak ke dokter atau fasilitas kesehatan.
Penanganan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.
Jika anak dinyatakan terinfeksi campak, lakukan isolasi mandiri di rumah untuk mencegah penularan kepada anak lain.
Pastikan juga anak mendapatkan cukup cairan, seperti air putih, sup, atau jus buah, agar tidak mengalami dehidrasi selama sakit.
Meningkatnya kasus campak menjadi pengingat penting bagi orang tua untuk tidak menunda imunisasi anak. Dengan vaksinasi lengkap, menjaga kebersihan, serta mengenali gejala sejak dini, risiko penularan campak pada anak dapat ditekan secara signifikan.
