Soekarno menangis di depan makam Yani. (Ist)
Soekarno menangis di depan makam Yani. (Ist)

MALANGTIMES - Soekarno, presiden pertama Indonesia yang dikenal sebagai singa podium, ternyata bisa menangis seperti anak kecil. Tangisan yang begitu lepas dari dadanya yang penuh kesedihan begitu dalam. 

Tangisan itu bukan karena berbagai pembuangan yang dideranya selama perjuangan. Bukan juga saat dirinya dijadikan 'tahanan rumah' oleh Soeharto setelah terjadinya penumpasan PKI. Soekarno yang dikenal sebagai sosok  berkharisma, berwibawa, pemberani, dan tegas dalam memutuskan sesuatu akhirnya seluruh kelebihannya sebagai manusia-pemimpin luruh pada nasib kedua orang yang disayangi dalam hidupnya. 

Baca Juga : Quraish Shihab Tegaskan Wabah Covid-19 Bukan Azab Allah

Soekarno menangis sejadi-jadinya di depan banyak orang. Kesedihannya begitu dalam terhadap dua sosok lelaki dalam hidupnya. Siapakah mereka yang membuat sang singa menangis begitu hebatnya serta menanggalkan segala atribut kejantannya dan menjadi manusia yang terlihat ringkih di hadapan kesedihan?

1. Kartosoewirjo

Kartosoewirjo adalah orang yang membuat Soekarno menangis dan dilanda frustrasi selama tiga bulan. Bukan karena persoalan pemberontakan Negara Islam Indonesia (NII) yang diproklamasikan oleh Kartosoewirjo di Tasikmalaya pada 7 Agustus 1949.Tapi, saat Soekarno harus menandatangani surat eksekusi mati untuk Kartosoewirjo yang ditangkap pasukan TNI di Gunung Geber, Jawa Barat, pada 4 Juni 1962.

Sisi manusia Soekarno begitu dominan saat peristiwa itu. Untuk meneken surat eksekusi tersebut, Soekarno harus berjuang begitu keras. Bahkan, Soekarno sempat melempar berkas vonis yang lama berada di mejanya ke udara hingga bercecer di lantai ruang kerjanya. Soekarno ingin lari dan membakar berkas tersebut.  

Saat itu, putrinya, Megawati Soekarnoputri-lah yang menyadarkan sang ayah bahwa keluhuran hakikat pertemanan sejati jangan sampai melanggar darmanya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Tidak mencampuradukkan antara persahabatan dengan tugas yang diembannya. 

Soekarno akhirnya menggoreskan tanda tangannya, 1962. Diambilnya selembar foto Kartosoewirjo serta ditatapnya begitu lama. Mata Soekarno dipenuhi air mata. “Sorot matanya masih tetap. Sorot matanya masih sama. Sorot matanya masih menyinarkan sorot mata seorang pejuang.”

Begitu dalam perasaan Soekarno kepada Kartosoewirjo yang merupakan sahabat,  saudara dan teman perjuangannya tersebut. Hal ini digambarkan oleh Roso Daras dalam buku berjudul,  "Bung Karno vs Kartosuwiryo; Serpihan Sejarah yang Tercecer (2011). 

Roso Daras melukiskan bagaimana pertemanan kedua orang besar yang dimiliki Indonesia ini saat mereka tinggal bersama di rumah Tjokroaminoto. Dikisahkan, Soekarno yang kerap berlatih di depan cermin dalam kamarnya kerap dikritik oleh Kartosoewirjo. 

"Hei Karno,  buat apa berpidato di depan kaca? Seperti orang gila saja," ejek Kartosoewirjo. Soekarno terus melanjutkan latihan pidatonya. Setelah selesai, dia jelaskan bahwa belajar berpidato merupakan persialan baginya untuk menjadi orang besar. Soekarno melanjutkan, "Tidak seperti kamu, sudah kurus, kecil, pendek, keriting, mana bisa jadi orang besar!" Soekarno balas mengejek Kartosoewirjo. Keduanya pun tertawa dengan saling balas ejekan tersebut. 

Kedekatan mereka terjalin begitu hangat. Senda gurau semakin membuat hubungan pertemanan mereka semakin kuat. Sampai akhirnya perjuangan memisahkan mereka. Soekarno mendirikan partai politik bercorak nasionalis. Sedangkan Kartosoewirjo terus berjuang bersama Tjokroaminoto dengan memilih Islam sebagai ideologi perjuangannya. Keduanya menjadi bagian penting dalam sejarah Republik Indonesia. 

Sampai perpecahan mulai timbul, setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kubu kekuatan terpecah menjadi tiga untuk Indonesia yang masih bayi. Negara Uni Belanda, negara komunis, dan negara Islam menjadi tiga poros paling sengit dalam sejarah. 

Soekarno dengan tegas tidak memilih tiga ideologi tersebut dan menawarkan asas Pancasila. Asas ini pula yang kemudian disampaikannya dalam pidato 1 Juni 1945. Maka muncullah perlawanan hebat dari pihak komunis yang pertama, 1948. Muso memproklamasikan Negara Madiun sebagai poros Soviet serta melakukan pemberontakan. 

Baca Juga : Bergerak Mandiri, Baitul Mal Ahad Pon Salurkan Bantuan Bagi Masyarakat Terdampak Covid-19

Pemberontakan lain muncul dari Kartosoewirjo yang memimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) serta mendirikan NII. Pemberontakan DI/TII terbilang hebat karena menyebar ke Pulau Jawa, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Sampai akhirnya pemberontakan bisa ditumpas dan sang pimpinan ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. 

Di momen inilah Soekarno dilemparkan kembali pada masa-masa kebersamaannya dengan Kartosoewirjo. Soekarno masih mendengar canda dan tawa serta diskusi-diskusi politik, agama, kebangsaan, dan apa saja yang begitu hangat dengan sahabatnya itu. 

Soekarno menangis di depan Mayjen S. Parman saat dirinya menerima surat keputusan eksekusi mati sahabat dekatnya itu. Bahkan Soekarno dalam kesedihannya berkali-kali meminta petunjuk Allah dan berdoa terus-menerus. Seusai magrib, Soekarno menandatangani surat eksekusi dengan linangan air mata. 

2. Jenderal Ahmad Yani 

Tragedi G30S/PKI menewaskan sejumlah jenderal. Salah satunya Ahmad Yani. Adalah tangisan Soekarno yang begitu hebatnya di depan banyak orang. Soekarno sangat terpukul hatinya dengan tewasnya Ahmad Yani yang merupakan sahabat sekaligus anak emasnya.  

Hubungan Soekarno dan  Yani terbilang istimewa. Dari buku Amelia A. Yani yang berjudul Achmad Yani Tumbal Revolusi terbitan Galang Press, dituliskan,  "Banyak yang bilang bapak jadi anak emas Presiden Soekarno." 

Hubungan Yani dan  Soekarno sangat dekat, terlihat dari kisah dalam buku Amelia. Soekarno  ikut peduli dengan renovasi rumah Yani di Menteng serta sering mengajak Yani ikut dalam kunjungan ke daerah. Bahkan Soekarno menyempatkan hadir saat syukuran rumah Yani.

"Hari Minggu pun Bapak dan Ibu sering menemani Bung Karno dan ibu Hartini ngobrol-ngobrol di Istana Bogor," kenang Amelia dalam bukunya. 

Kepada merekalah, sang singa podium yang menggentarkan dunia menangis tersedu-sedu saat melihat kematian dua orang yang dekat dengan dirinya. (*)