MALANGTIMES - Kota Malang setidaknya memiliki tiga jenis pohon heritage yang kini berusia ratusan tahun. Pohon-pohon itu masih berdiri dengan kukuh dan menambah kecantikan kota. Tiga jenis tanaman yang juga menjadi saksi bisu kemerdekaan itu kini direncanakan untuk menjadi destinasi wisata.
Baca Juga : Warga Terdampak Covid-19 di Kabupaten Malang, Bakal Dapat Pasokan Makanan Dapur Keliling
Tiga pohon itu adalah pohon trembesi atau dikenal dengan sebagai Samanea Saman atau rain tree, kenari dengan nama lain Canarium, dan beringin (Ficus Benjamina). Tiga jenis pohon itu kini berada di beberapa titik.
Untuk pohon trembesi saksi kemerdekaan, Anda bisa menikmatinya di kawasan Balai Kota Malang. Di sekitaran kawasan balai kota atau Jl Tugu itu, ada sekitar 20 pohon trembesi yang tumbuh subur dan kukuh. Namun dari sekian banyaknya pohon trembesi, baru yang terletak di depan Hotel Tugu yang disertai dengan papan cerita.
Dari keterangan yang ada, dikatakan jika pohon yang dinamai sebagai Pohon Pusaka itu ditanam pada tahun 1927. Penanamannya berbarengan dengan pembangunan Balai Kota Malang.
Sementara untuk pohon kenari, Kota Pendidikan ini disebut-sebut menduduki peringkat pertama. Itu lantaran jumlah pohon kenari di Kota Malang lebih banyak dibandingkan daerah lain di Indonesia. Jumlahnya saat ini tercatat ada 145 pohon. Pohon kenari itu dapat ditemukan berderet di kanan dan kiri Jl Diponegoro.
Sedangkan pohon beringin tua bisa ditemukan di Alun-Alun Merdeka. Di sana, ada deretan pohon dengan ukuran besar dan daun yang sangat rindang. Para pengunjung yang datang pun sering berteduh di bawah pohon tersebut.
"Heritage itu tidak hanya bangunan. Pohon pun bernilai heritage dan kita memiliki tiga jenis pohon yang kini sudah langka," kata Plt Wali Kota Malang Sutiaji kepada wartawan belum lama ini.
Baca Juga : Dinsos-P3AP2KB Salurkan Bantuan bagi 1.666 Warga Miskin
Untuk itu, Sutiaji meminta agar potensi yang ada itu dimanfaatkan dengan benar untuk dapat menarik wisatawan. Terutama wisatawan mancanegara yang memang sering tertarik dengan berbagai pengetahuan. Seluruh titik pohon nantinya disertai dengan narasi menarik. Misalnya sejarah penanamannya. "Bangunan dan pohon heritage menjadi satu kesatuan untuk dapat menarik wisatawan," imbuh Sutiaji.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni menambahkan, dalam waktu dekat seluruh pohon berusia ratusan tahun itu akan diberi papan cerita (story line). Cerita akan dibuat menggunakan bahasa Indonesia dam bahasa Inggris.
"Dan setiap tahunnya kami akan menetapkan setidaknya 20 cagar budaya. Meliputi bangunan ataupun benda," pungkas perempuan yang akrab disapa Dayu itu. (*)
