dd nana
ROOM 3
Cahaya menyapu kain putih serupa jendela yang masih mengepulkan asap. Seorang aktor duduk di atas kursi membaca suatu berita. Sesekali dalam aktivitasnya membaca, aktor tersebut memakan sebuah apel. Seorang aktor lain berada di depannya, diam di atas gong.
Selamat malam para pemirsa.
Menurut suatu sumber yang dipercaya, permasalahan lingkungan hidup di Republik ini telah memasuki stadium sangat akut, sehingga banyak kalangan baik di dalam negeri maupun luar negeri pesimis, kondisi tersebut dapat dipulihkan kembali. Di sinyalir oleh beberapa aktivitis lingkungan, permasalahan lingkungan hidup yang terjadi di Indonesia disebabkan paradigma pembangunan yang mementingkan pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan faktor lingkungan yang dianggap sebagai penghambat. [timbulkan bunyi gigitan apel yang digigit. Aktor yang berdiri diatas gong merespon setiap kalimat dari aktor pembaca berita dengan gerakan tari].
Baca Juga : Didi Kempot Gelar Konser Amal dari Rumah, Hanya 3 Jam Donasi Capai Rp 5,3 Milliar
Paradigma tersebut telah mengakibatkan kualitas lingkungan semakin menurun, ditandai dengan terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup di berbagai wilayah di Indonesia. Industri-industri besar yang ‘katanya’ dianggap memiliki kontribusi besar terhadap PAD seolah-olah mendapatkan kekebalan dari pemerintah daerah setempat, bahkan dari DPRD-nya [berikan suara gigitan dua atau tiga kali]. Hal tersebut terbukti dari tidak adanya tindakan hukum yang tegas terhadap industri pencemar dan berlarut-larutnya penyelesaian ganti rugi kepada masyarakat korban yang merupakan pengejawantahan dari prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) sebagaimana yang tercantum dalam UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, menjadikan inisiatif masyarakat untuk mengarus-utamakan (mianstreaming) perlindungan lingkungan hidup dalam pembangunan ekonomi menghadapai hambatan besar. Berbagai kemudahan dan insentif diberikan kepada industri besar untuk memperluas dan meningkatkan produksinya, walaupun industri tersebut telah menimbulkan berbagai kerugian masyarakat dan kerusakan lingkungan. [timbulkan bunyi gigitan apel yang digigit berulang kali. Aktor diatas gong terus menari.]
Para pemirsa, apakah anda semua mengetahui sampai dimana dampak perusakan tersebut ? [wajah si aktor pembaca berita dan aktor penari seperti berduka sekaligus marah dalam ekspresi yang berbeda]. Wilayah Indonesia, menurut LIPI, memiliki 6% dari persediaan air dunia atau sekitar 21% persediaan air Asia Pasifik. Namun demikian, kelangkaan dan kesulitan mendapatkan air bersih dan layak pakai menjadi permasalahan yang mulai muncul di banyak tempat dan semakin mendesak dari tahun ke tahun. Kecenderungan konsumsi air naik secara eksponensial, sedangkan ketersediaan air bersih cenderung melambat akibat kerusakan alam dan pencemaran, yaitu diperkirakan sebesar 15-35% per kapita per tahun. Dengan demikian di Indonesia, dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 200 juta, kebutuhan air bersih menjadi semakin mendesak [aktor penari bergerak memvisualisasikan hal tersebut]. Pencemaran udara merupakan pembunuh kedua bagi anak balita di Jakarta, 14% bagi seluruh kematian balita seluruh Indonesia dan 6% bagi seluruh angka kematian penduduk Indonesia. Berbagai gangguan kesehatan, seperti bronchitis, emphysema, dan kanker paru-paru adalah efek dari keruhnya udara yang setiap detik kita isap [dibacakan aktor penari sedang aktor pembaca memvisualisasikan lewat gerak]
Lantas bagaimana dengan paru-paru bumi, para pemirsa ? [koor-aktor penari dan pembaca].
Luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan [kedua aktor ini hampir pecah dalam amuk gerak].
Kedua aktor tersebut mendekat dalam gerak yang tegas, kuat, liar-terkadang juga dengan gerak yang begitu lemas tanpa tenaga. Harmonisasi gerak tetap terjaga. Tarian memvisualisasikan peristiwa alam yang terkoyak moyak. Dari kiri kanan panggung keluar beberapa aktor dengan masker dan payung hitam di tangan. Dari mulut para aktor lahir berbagai kata-kata semacam mantra, semisal Tupu Tanah Ne Me Paka dan semisalnya yang diulang-ulang dalam gerak. Terkadang sahutan-sahutan kata, seperti Pohon-pohon telah menjelma Logam, Hutan telah jadi rimbun plastik-plastik, udara telah sama memabukkan dengan segala alkohol yang ada, gemericik air tinggal bunyi di selangkangan kita, hujan telah menjelma rambut-rambut Medusa, dan sebagainya. Tarian ini terus bergerak, bergerak, bergerak. Terkadang mencitrakan suatu kesatuan, terkadang terjadi bentrokan-bentrokan. Disisi lain panggung, tukang cukur dan orang yang dicukur kembali terlihat.
Tukang Cukur
Sebenarnya apa perbedaan dan persamaan binatang dengan kita.
Orang yang di Cukur
Persamaannya adalah manusia dan binatang bisa sama-sama meniru tingkah laku masing-masing lewat proses yang dinamakan pelatihan. Perbedaannya manusia mampu lebih binatang daripada sifat binatang itu sendiri, sedangkan binatang tidak akan mampu dan memang tidak akan bisa melebihi manusia.
Tukang Cukur
Jadi lebih enak mana jadi manusia atau binatang.
Orang yang di Cukur
Jadi manusia susah, jadi binatang nggak mungkin. Ya, jadi tukang cukur saja Mas.
[dialog ringan, cair, terkadang juga begitu dalam antara tukang cukur dan orang yang di cukur terus berlangsung. Seperti para aktor yang menarikan segala peristiwa tersebut]
KITA HARUS BERSILATURAHMI
Entah siapa yang mengatakannya, tidak penting. Yang jelas seluruh aktor mengatakan hal tersebut dengan berulangkali dari interval rendah sampai menuju titik tertinggi.[tidak dengan nada bentakan] segala gerak berhenti. Seluruh aktor saling pandang, mungkin dalam formasi melingkar.
Ya…kita harus bersilaturahmi
Ya…kita harus bersilaturahmi
Ya…kita harus bersilaturahmi
[mungkin anda ingin menyisipkan suatu intro lagu, tembang, atau lirik-lirik]
Tetapi kenapa tidak musyawarah saja ? Musyawarah lebih memiliki bobot ilmiah, lebih terkesan berpendidikan, bahkan dalam dasar negara kita pun kata musyawarah dicantumkannya. Bukan begitu ?
Ya…kita harus bermusyawarah
Ya…kita harus bermusyawarah
Ya…kita harus bermusyawarah
[mungkin anda ingin menyisipkan suatu intro lagu, tembang, atau lirik-lirik]
Tukang Cukur dan Orang yang di Cukur
[geleng-geleng kepala]
Ya, begitulah kelebihan manusia dibandingkan binatang.
[kembali asyik berbicara, tertawa, tanpa suara]
tetapi kenapa musyawarah ? sudah berpuluh-puluh tahun kita melakukannya, sehingga mulut kita begitu fasih melafalkan ‘mufakat’ tanpa kita mengetahui apa yang harus dimufakati. Lebih baik silaturahmi, lebih inklusif, akrab, sangat timur sekali. Bahkan agama kitapun mengajarkan untuk itu, bukan begitu ?
Ya…kita harus bersilaturahmi
Ya…kita harus bersilaturahmi
Ya…kita harus bersilaturahmi
[mungkin anda ingin menyisipkan suatu intro lagu, tembang, atau lirik-lirik]
Tukang Cukur dan Orang yang di Cukur
Ya, seharusnya kalian jadi binatang saja
Ya, seharusnya kalian jadi binatang saja, tetapi segala bulu harus dipotong dulu kesini, bukan begitu?
Ya…kita harus jadi binatang dulu sebelum bersilaturahmi
Ya…kita harus jadi binatang dulu sebelum bersilaturahmi
Ya…kita harus jadi binatang dulu sebelum bersilaturahmi
Tukang Cukur & Orang yang di Cukur
Lho, orang mau jadi binatang kok di komersilkan…...
Ya, selagi ada kesempatan Mas.
[atau bahasa-bahasa sejenisnya yang cair, santai]
Ya…kita harus jadi binatang
Ya…kita harus jadi binatang
Ya…kita harus jadi binatang
[diulang-ulang, sehingga terkadang terdengar hanya kata BINATANG]
Ya…kita harus bersilaturahmi
Ya…kita harus bersilaturahmi
Ya…kita harus bersilaturahmi
[diulang-ulang, sehingga terkadang terdengar hanya kata SILATURAHMI]
seluruh aktor bergerak, berseru menirukan tingkah laku binatang. Tidak ada kesepakatan, tidak ada pilih-pilihan peran. Semua terjadi seperti begitu saja. Akhirnya para aktor keluar panggung
Tukang Cukur
Eh, kok tadi bisa begitu saja ucapan mas di turuti mereka ya…padahal kan begitu sulit untuk merubah suatu tabiat manusia. Bahkan para nabipun harus berjuang jungkir balik merubah suatu tabiat kaumnya. Ngomong-ngomong sampean sebenarnya siapa ?
Orang yang di Cukur
Aku Khidir.
Tukang Cukur
Lha………
Orang yang di Cukur
[tertawa terbahak-bahak] Mas…mas….ya aku manusia biasa seperti sampean. Golongan kebanyakan, rahayat kecil. Golongan yang terkadang tidak sempat mikir macam-macam tentang segala kondisi diluar dirinya, disibukkan urusan perut. Kalaupun mereka menuruti ucapan saya, itu bukan karena ampuhnya kata-kata. Tetapi mungkin mereka berpikir, tidak ada salahnya mencoba menjadi binatang beneran dalam menghadapi masalah jebolnya sekat langit, keruhnya udara dimana-mana, coklatnya air, robeknya paru-paru bumi, banjir dan sebagainya.
Tukang Cukur
Jadi, dari dulu mereka jadi binatang bohong-bohongan, gitu mas ?
Baca Juga : SBY Persembahkan 'Cahaya Dalam Kegelapan', Lagu Bagi Para Pejuang Covid-19
[Saat percakapan tukang cukur dan orang yang dicukur mengalir. Orang-orang itu kembali masuk panggung dengan mobil-mobil kertas yang dipanggulnya]
SILATURAHMI…SILATURAHMI…SILATURAHMI……..
BINATANG….BINATANG…BINATANG…….
DIMANA TEMPATNYA ?
DI TUKANG CUKUR
DI TUKANG CUKUR
Lampu kembali padam.
...Bersambung
