Jalan Kaki menjadi momentum menapaktilasi sejarah serta memupuk kebersamaan dan persatuan. Dalam foto Bupati Malang Rendra Kresna bersama warga melakukan jalan kaki sehat. (Dok. Nana)
Jalan Kaki menjadi momentum menapaktilasi sejarah serta memupuk kebersamaan dan persatuan. Dalam foto Bupati Malang Rendra Kresna bersama warga melakukan jalan kaki sehat. (Dok. Nana)

MALANGTIMES - Mengenang kisah perjuangan para pahlawan dan pejuang masa revolusi kemerdekaan, terutama mengenai siasat dan strategi bumi hangus kota atau dikenal lautan api, mungkin banyak yang tidak mencantumkan Malang dalam peristiwa heroik tersebut.

Kita kadung mengenal peristiwa heroik perlawanan pejuang untuk menghadang agresi militer Belanda melalui lautan api hanya di Bandung saja. Padahal, di Malang juga pernah menjadi lautan api seperti di Bandung pada tahun 1947. Tahun tersebut, Belanda melancarkan Agresi Militer I  dan masuk ke Kota Malang melalui jalan darat dari Surabaya dan Pasuruan.

Sebelum Belanda masuk ke Kabupaten Malang, pahlawan asal Pagak kelahiran 1911 Hamid Roesdi memerintahkan seluruh masyarakat dan para pejuang lainnya untuk membumihanguskan kota. Kurang lebih 1.000 bangunan Belanda sampai dengan yang dimiliki pribumi tak lolos dari aksi pembakaran serempak tersebut.

"Dalam bumi hangus menghadang penjajah, para pejuang mengungsikan masyarakat ke daerah Malang Selatan. Seperti Tumpang, Wajak, Turen, Gondanglegi sampai dengan ke luar perbatasan," kata Dr H Rendra Kresna, bupati Malang, Minggu (29/10).

Dari aksi bumi hangus dan usaha mengungsikan tersebut, banyak masyarakat, pejuang dan tentara  yang meninggal. Tidak hanya karena terkena peluru pasukan Belanda. Juga karena terbakar saat melakukan bumi hangus.

Perjuangan para pejuang saat itu dalam mempertahankan wilayahnya dari serbuan Belanda sekitar 70 tahun lalu dihidupkan kembali saat ini melalui napak tilas sejarah dengan kegiatan gerak jalan. Bukan sekadar gerak jalan biasa. Napak tilas sejarah perjuangan Malang Lautan Api yang dilehat oleh DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Malang ini juga mengusung semangat Sumpah Pemuda. Hal ini ditegaskan oleh Rendra dalam acara gerak jalan legendaris Turen-Malang yang dilaksanakan Sabtu (28/10) kemarin siang.

"Dulu para pahlawan mengangkat senjata melawan penjajah. Kini waktunya kita semua mengangkat semangat juang para pendahulu dengan jiwa membangun. Bergotong royong dan tak mudah menyerah menghadapi segala rintangan. Lewat gerak jalan ini diharapkan semangat juang para pahlawan bisa kita rasakan," ujar Rendra. 

Dia juga berharap melalui napak tilas sejarah ini, para pemuda penerus generasi bangsa dan negara ini semakin memiliki nyala api berkobar dalam ikut serta segala lini pembangunan. "Bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda, mari kita eratkan persatuan dalam keguyuban gerak jalan ini. Karena lewat persatuan, bangsa Indonesia merdeka," imbuhnya.

Sementara itu, dalam kesempatan berbeda, pembina KNPI Kabupaten Malang Kresna Dewanata Prosakh mengatakan, gerak jalan legendaris Turen-Malang adalah sebentuk ikhtiar untuk terus menyalakan semangat juang para pahlawan zaman revolusi kemerdekaan dulu. Karena itu, gerak jalan legendarus tersebut selalu dilehat besar-besaran.

Pemilihan kegiatan jalan kaki dalam menapaktilasi sejarah perlawanan para pejuang melawan Belanda, menurut Dewa, sapaan putra bupati Malang kesembilan belas itu, juga memiliki nilai-nilai filosofis yang dulu dijalankan para pahlawan. Yakni kebersamaan, kesederhanaan dan tentunya semangat keguyuban. 

"Seluruh elemen masyarakat bisa ikut serta. Dalam kumpulan orang-orang yang berjalan bersama ini akan lahir persatuan dan kesatuan yang mungkin tidak bisa diraih melalui ruang lainnya. Selain tentunya juga menyehatkan," ujar Dewa kepada MalangTIMES.

Persatuan yang dibalut dengan semangat juang para pahlawan dulu adalah modal besar bagi bangsa Indonesia yang kini sedang terus berderap dalam pembangunan di segala lini. "Modal inilah yang wajib kita pupuk terus, khususnya di kalangan generasi muda sebagai penerus estafet bangsa ini," pungkas Dewa. (*)