Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa Asa Membumikan Komik di Bumi Arema (1)

Setelah Merawat Ingatan tentang Teguh Santosa, Lantas Apa?

Penulis : Nana - Editor : Lazuardi Firdaus

22 - Oct - 2017, 16:24

Placeholder
Acara Jagongan Gayeng Komik Teguh Santosa di Taman Krida Budaya Jatim. (Sawir for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Siapa tidak kenal Teguh Santosa, terutama generasi 60-80 an, saat komik menjadi dunia kecil menakjubkan. Dunia hitam putih para tokoh yang diguratkan dalam panel-panel bercerita. Dunia majinasi para pembaca komik atau cerita bergambar (cergam) saat ini diseret dalam berbagai petualang seru. Baik yang menceritakan tentang kisah persilatan, horor, pewayangan sampai pada roman sejarah.

Dan, salah satu komikus Indonesia kelahiran Gondanglegi, Kabupaten Malang, tahun 1942 ini telah tercatat dengan tinta emas perkomikan saat itu. Bahkan, sampai saat ini.  Hal ini terbukti dengan adanya upaya untuk terus merawat ingatan tentang berbagai karya-karya cergam Teguh Santosa dalam berbagai kegiatan. Yang sampai masa hidupnya, sekitar tahun 2000, karya Teguh Santosa tidak kurang dari 92 judul cergam dan komik strip serta 12 judul novel.

Baca Juga : Viral Surat Stafsus Jokowi untuk Camat, Dicoreti Bak Skripsi hingga Berujung Minta Maaf

Melalui cetak ulang karya-karya cergamnya maupun melalui berbagai diskusi, pameran serta berbagai kegiatan lainnya untuk merawat ingatan tentang kejeniusan seorang Teguh Santosa yang memaparkan berbagai pergulatan karakter manusia dalam berbagai kisahnya. Bahkan sekedar untuk merawat ingatan betapa seorang Teguh Santosa di jamannya telah menorehkan teknik menggambar yang melampaui jamannya.

Pertanyaannya adalah setelah kita membaca pesona karya Teguh Santosa serta merayakannya dalam berbagai kegiatan, lantas apa ?

Pertanyaan atau lebih tepatnya semacam gugatan inilah yang kembali menyeruak dalam acara Jagongan Gayeng Komik Teguh Santosa Sandhora, Jumat (20/10) malam di Taman Krida Budaya Jawa Timur.

Yusuf Muntaha seorang perupa mempertanyakan tentang hal tersebut dalam jagongan gayeng tersebut. Dia mempertanyakan setelah semua itu, lantas apa. Mau dibagaimanakan. Apakah sekedar sebagai bacaan ataukah lebih lanjut mau di patenkan, baik karyanya maupun visi serta temuan tekniknya sebagai kekayaan Seni Indonesia, kata Yusuf. Atau, lanjutnya, “apakah bisa kejeniusan-kejeniusan para komikus masa lalu dijadikan bagian dari materi dalam pendidikan Seni?,.

Kegelisahan ini merupakan kegelisahan yang kerap terjadi pada para penggerak budaya. Yang terus bergerak untuk kembali memperkenalkan dan menyebarkan khasanah kekayaan lokal dari warganya kepada generasi sekarang. Walaupun tentunya permasalahan klasik selalu menjadi aral dalam perjuangan tersebut.

Lewat Jagongan Gayeng Komik Teguh Santosa kita kembali mencoba untuk mengenali kebutuhan saat ini. Khususnya membumikan komik dengan berbagai permasalahan yang ada saat ini, kata Sawir Wirastho (38) coffe painting asal Dusun Santren, Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Minggu (22/10) kepada MalangTIMES.

Lewat puluhan karya fenomenal Teguh Santosa, tim Jagongan yang terdiri dari Dhany Valiandra, anak kedua Teguh Santosa , Syarifudin krator museum Panji, Aditya Nirwana Dosen Universitas Ma Chung dan Sawir Wirastho coffe painting, mencoba untuk mewujudkan berbagai impian atas kejayaan khasanah komik masa lalu di tengah gemuruhnya teknologi saat ini.

Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19

Siapapun mengetahui kejeniusan Teguh Santosa sebagai komikus Indonesia. Karyanya sangat kaya peristiwa, serupa buku sejarah tapi melalui gambar bercerita. Ini adalah asset besar apabila ditarik dalam kontek kebutuhan anak-anak sekolahan dalam mengenal sejarah melalui komik,ujar Sawir.

Karena, lanjutnya, komik merupakan medium yang cepat, tepat dan disukai anak-anak dalam proses belajar mengajar. Masalahnya adalah bagaimana memasukan komik dalam kurikulum pendidikan, misalnya di tingkat anak usia dini (PAUD). Hal inilah yang menyeruak dalam acara Jagongan gayeng waktu itu,.

Lantas apa? 

Saat para kreator, artisan, penggiat budaya mencoba mengembalikan kejayaan masa lalu komik dalam kontek kekinian. Misal, dalam dunia pendidikan anak-anak saat ini. Atau dalam mengumpulkan berbagai karya para komikus masa lalu dalam sebuah ruang atau museum komik.  Atau sebuah yayasan yang akan menjadi ruang berdialektika dalam dunia perkomikan, khususnya di Malang Raya. 

Apakah ini sebuah impian. Iya, kita memulai dari impian dalam merumuskan bentuk dari harapan-harapan yang mengerucut tersebut. Harapan membumikan komik dengan semangat besar yang telah ditampilkan oleh Teguh Santosa, tegas Sawir.

Semangat tersebut tentunya membutuhkan ruang segar dan lebar. Entah nantinya ruang tersebut menjadi museum maupun yayasan komik. Atau komik menyusup dalam kurikulum pendidikan anak-anak kita. Ini inti kesimpulan dalam membaca karya Teguh Santosa dalam Jagongan Gayeng,pungkas Sawir kepada MalangTIMES.


Topik

Peristiwa Teguh-Santosa Jagongan-Gayeng-Komik



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nana

Editor

Lazuardi Firdaus