MALANGTIMES - Putus cinta kerap menjadi hal yang begitu menyakitkan bagi seseorang. Terlebih jika hal itu begitu membekas dan menimbulkan trauma tersendiri dalam diri. Trauma tersebut pada akhirnya akan menghambat dalam mengambil keputusan atau bahkan membatasi diri dalam melakukan sesuatu.
Seorang pakar Psikologi Universitas Brawijaya (UB), Ilhamudin Nukman mengatakan proses trauma terbentuk karena adanya informasi yang begitu berkesan menyakitkan bagi diri orang tersebut, sehingga menimbulkan rasa sedih atau takut yang berlebihan dan menjadi faktor-faktor pembentuk perilaku.
Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19
"Situasi yang seperti itulah begitu mendarah daging dan akan jadi reverensi berperilaku," ujar pria yang akrab disapa Ilham ini.
Trauma yang berlebihan tentunya akan merugikan diri sendiri. Untuk mengelola rasa trauma tersebut Ilham mengatakan ada dua cara. Yang pertama melalui diri sendiri dan yang kedua dengan bantuan eksternal.
"Kita harus pahami dulu stimulus penyebab trauma, tanyakan seberapa bermakna? Karena proses memaknai situasi akan berbeda satu sama lain," terangnya.
Jika tidak berhasil, Ilham mengatakan pengobatan melalui hypnotherapi bisa menjadi salah satu jalan menyembuhkan trauma berkepanjangan. Biasanya melalui hypnoyherapi akan dimodivikasi perilaku cara berpikir.
Baca Juga : Mokong Keluyuran Malam Hari, Warga Jalani Rapid Test Covid-19 di Tempat
"Hypnoterapi terbukti mampu menghilangkan rasa trauma. Biasanya akan memodivikasi perilaku cara berpikir," tandasnya.
Nah, Sahabat yuk kelola hati dan cara berpikir kita agar tidak mengalami trauma berkepanjangan!
