MALANGTIMES - Ada empat dusun di Desa Sumberputih, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Namun, tidak semua dusun memiliki akses jalan yang mudah dilalui warganya saat memiliki keperluan berinteraksi dalam berbagai pusat pelayanan, seperti balai desa, puskesmas dan fasilitas umum (fasum) lainnya.
Dari hasil penelusuran Malang TIMES bersama para tentara dari Kodim 0818 Wilayah Kabupaten Malang dan Kota Batu, dari Kamis (20/07) sampai saat berita ini ditulis, ada dua dusun di Sumberputih, yaitu Arjosari dan Sarirejo, yang akses jalannya terputus.
Baca Juga : Ditemukan Sepatu, Kaus Kaki, Topi di Dekat Hilangnya Pendaki Gunung di Kota Batu
Putusnya akses jalan tersebut dikarenakan lokasi yang sering dilalui warga merupakan perbukitan dan hutan. Jalan setapak berupa tanah bercampur pasir dengan kondisi sangat curam sangatlah sempit. Hal ini diperparah oleh jembatan penghubung dari bambu dan kayu yang sudah sangat lapuk dan membahayakan warga yang melintasinya.
"Kondisinya sudah tidak layak dan membahayakan. Atas usulan warga, pembangunan jembatan dan pelebaran jalan penghubung ini jadi sasaran pokok kita," kata Kapten Kavaleri Maulana Djoko Samakta, danki SSK TMMD (Tentara Manunggal Membangun Desa) Ke-99, Jumat (21/07) kepada Malang TIMES.
Bukan kerja mudah bagi tentara yang selama satu bulan penuh berbaur dan menetap di berbagai rumah warga di Sumberputih untuk membangun jembatan dan pelebaran jalan yang rencananya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua itu nanti. Pasalnya, di medan yang berupa perbukitan tinggi dan hutan ini yang menjadi sasaran pokok pembangunan dalam TMMD Ke-99, kondisinya terjal dan curam untuk dilewati. Pendatang, seperti awak media massa yang meliput langsung kondisi, benar-benar dibuat megap-megap dengan trase jalan setapak di lokasi tersebut.
"Beginilah kami setiap hari bekerja bersama warga untuk membangun jembatan ini," ujar salah satu personel Kodim 0818 yang membawa lonjoran besi bersama satu rekannya dari posko TMMD menuju lokasi yang berjarak sekitar 3 kilometer dengan medan tanjakan dan turunan terjal.
Selain medan yang berat, tentara dan warga juga harus 'memapras' (memotong) tebing tinggi dalam upaya memperlebar jalan bagi dua warga di dusun tersebut. "Proses pemaprasan ini juga sangat berat. Kami harus membawa alat berat dengan susah payah ke lokasi dengan cara memutar ke dusun lainnya," ungkap Djoko yang sehari-hari menjabat sebagai komandan Kompi Markas Yonkav 3 Andhaka Cakti, Singosari.

Selain hal tersebut, tebing yang dipapras juga merupakan milik warga setempat sehingga sebelum melakukan pekerjaan pelebaran jalan, pihak tentara melakukan komunikasi intensif dengan pemilik lahan tersebut. "Alhamdulillah, pemilik tanah dengan sadar merelakan tanahnya untuk dipapras. Ini bukti bahwa kerelaan masyarakat untuk kepentingan umum masih tinggi di Kabupaten Malang," ucap Sunyoto, panwas TMMD saat di lokasi.
Baca Juga : Lari seperti Kesurupan, Pendaki Hilang di Gunung Buthak Panderman Batu
Kerelaan memberikan hak miliknya untuk kepentingan bersama dijawab dengan kerja keras tentara dan warga dari dua dusun untuk menyelesaikan jembatan penghubung dan pelebaran jalan.

Sampai hari ke-17 TMMD, proses pekerjaan tersebut, menurut Djoko, masih sekitar 70 persen. Namun, jembatan yang dulunya dari bambu kini telah berubah dengan bahan dari besi seperti jembatan pada umumnya. "Hampir selesai dan sudah bisa dilewati warga. Tinggal finishing saja. Untuk pelebaran jalan yang belum total masih sekitar 60 persen," terangnya kepada Media online berjejaring terbesar di Indonesia ini.
Anggaran pembangunan jembatan yang berasal dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Kabupaten Malang dengan ukuran 10 m x 2 m ini menyerap dana Rp 500 juta yang juga dipergunakan untuk dua pembangunan jalan di Sumberputih. "Kelak setelah pembangunan ini selesai, warga akan dengan mudah mengakses fasum melalui rute ini. Anak cucu masyarakat di sini juga nanti akan merasakan manfaat dari keringat tentara dan ayah atau kakek mereka yang bekerja," pungkas Djoko. (*)
