MALANGTIMES - Sifat balas dendam bisa jadi merupakan sebuah turunan atau berkaitan dengan kisah masa lampau. Termasuk pertempuran darah antar-saudara di Kerajaan Singosari yang sampai saat ini terpatri dalam pikiran generasi penerus, khususnya di Malang.
Sejarah Kerajaan Singosari pada masa itu kental adanya amarah balas dendam, perebutan kekuasaan, hingga akhirnya muncul sumpah kutukan sampai peristiwa saling bunuh di antara penguasa lingkaran Kerajaan Singosari benar-benar terjadi.
Baca Juga : Pakai Baju APD, Tim Medis Evakuasi Jenasah Pria yang Meninggal Mendadak di Singosari
Amarah api balas dendam yang membakar tokoh penguasa Singosari tersebut akhirnya juga turut menyebabkan banyak korban. Perebutan kekuasaan, pengkhianatan, dan serangkaian pembunuhan telah banyak menumbangkan para pemimpin. Antara lain tewasnya Ken Arok, Anusopati, dan Tohjaya serta munculnya korban-korban lain yang ini dianggap merupakan sebuah kutukan dari amarah sumpah balas dendam Empu Gandring.
Ken Arok sendiri sendiri tewas setelah dibunuh seseorang atas perintah Anusapati, putra hasil perkawinan Ken Dedes dan Tunggul Ametung. Anusapati dendam karena Ken Arok telah membunuh ayahnya, yaitu Tunggul Ametung.
"Pertemuan Ken Arok dan Ken Dedes pertama di Taman Baboji. Karena ambisinya untuk memperistri Ken Dedes setelah melihat organ kewanitaannya yang dilihat sebagai mudyar hamurup, akhirnya Ken Arok pun berupaya membunuh Tunggul Ametung dengan sebilah keris dari Empu Gandring yang juga dia bunuh untuk bisa memperistri Ken Dedes," ungkap Sejarahwan asal Malang Dwi Cahyono.
Tak sampai di situ saja kobaran api balas dendam. Dendam pun terus membuncah sampai akhirnya Tohjaya, putra Ken Arok dengan Ken Umang, berusaha membalas kematian ayahnya. Pada tahun 1.248, Anusapati akhirnya berhasil dibunuh Tohjaya ketika sedang menyabung ayam hingga ia pun berhasil menaiki kursi tahta kerajaan.
Hanya berkuasa berapa bulan, Tohjaya pun harus tewas terbunuh dalam serangan yang dilakukan pengikut Ranggawuni, putra Anusapati. Kemudian tahta Kerajaan Singasari jatuh kepada Ranggawuni yang bergelar Sri Jaya Wisnu Wardhana.
Baca Juga : Musibah Angin Kencang Rusak Ratusan Rumah di Dua Kecamatan
Perangai dan sifat balas dendam dari para penguasa Singosari tersebut sepertinya banyak tercermin pada masa kini. Itu jika dilihat dari tingginya kejahatan sekarang, seperti banyaknya kasus pembunuhan, pemerkosaan, dan jenis kejahatan lainnya.
Hal tersebut seperti berkaca pada amarah-amarah dan perangai para tokoh Kerajaan Singosari yang membabi buta dalam meluapkan amarahnya kepada orang-orang yang membuat sakit dalam hatinya. Lalu, apakah memang benar ada kaitannya sifat balas dendam manusia saat ini dengan masa lampau?
