Ayo Bung Berpeci ! (2)

Peci Sang Bupati Malang Rendra Kresna

May 23, 2017 00:40
Peci Hitam Bupati Malang bukanlah barang mahal dan dibeli di toko khusus. Rendra lebih menekankan fungsi filosofisnya dibanding bentuk peci yang dikenakannya (Nana/MalangTIMES)
Peci Hitam Bupati Malang bukanlah barang mahal dan dibeli di toko khusus. Rendra lebih menekankan fungsi filosofisnya dibanding bentuk peci yang dikenakannya (Nana/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Siapa menyangka bahwa peci hitam yang dipakai oleh Bupati Malang Dr Rendra Kresna, adalah peci produk Kabupaten Malang.

Banyak orang menyangka bahwa segala atribut busana yang dipakainya merupakan barang-barang mahal yang hanya dijual di toko-toko khusus.

Baca Juga : Disambut Hangat Warga, Sekda Didik Budi : Malang Hebat...

"Ini peci biasa saja dan tidak mahal, saya beli di toko atau perajin peci yang ada di Kabupaten Malang," kata Rendra Kresna sambil menunjukkan peci hitam yang selalu dipakainya dalam berbagai acara dan kesehariannya ini, Senin (22/5/2017) kepada MALANGTIMES.

Kecintaan Rendra kepada Peci hitam sudah dimulai sejak tahun 1985, saat dia masih bekerja di Kebon Agung Pakisaji.

Menurutnya, Peci bukan sekadar penutup kepala semata. Ada banyak nilai filosofis yang membuatnya jatuh cinta.

Selain sebagai bentuk perlawanan jaman pergerakan kemerdekaan, dimana Belanda secara politis melarang inlander (pribumi) mengenakan busana Eropa, peci juga menjadi identitas para pemimpin Bangsa Indonesia.

Soekarna, Hatta, Jenderal Sudirman, Urip Sumaharjo dan para tokoh Islam lainnya, selalu mengenakan penutup kepala ini.

"Identitas peci kental dengan rakyat dan kaum santri. Para pekerja keras dan pejuang negeri ini. Saya dulu juga merasa terwakili dengan peci ini. Sekarang sebagai pemimpin saya lebih meresapi filosofi peci seperti jamannya pergerakan kemerdekaan dulu," tutur Rendra yang juga menyatakan masyarakat seringkali pangling apabila dia tidak memakai peci hitamnya. "Sering seperti itu, mungkin karena sudah lekatnya peci hitam ini dengan saya," ujarnya sambil tertawa.

Walaupun pecinta peci hitam, Rendra bukan tipikal kolektor. Menurutnya, koleksi pecinya cukup sedikit sesuai dengan kebutuhannya.

Bahkan dia bukan seorang fanatik dalam hal merek peci yang dibelinya. Selama peci itu nyaman dipakai, maka Rendra akan membeli dan memakainya dalam berbagai acara maupun kesehariannya.

"Jadi peci hitam saya mungkin sama dengan peci masyarakat lainnya di sini. Tidak ada yang istimewa secara bentuk," tukasnya. 

Peci yang memiliki berbagai nama di Nusantara ini, seperti songkok, kopiah dan dibelahan dunia lain seperti Eropa dan Amerika, masyarakatnya menyebut Kufi, Taqiyat, Skull Cap, Topi Fez dan lainnya, ternyata memiliki sejarah panjang.

Baca Juga : 'Bersyukur', Ungkapan Bahagia Kakek Haki, Calon Jamaah Haji Tertua Asal Malang yang Akhirnya Berangkat ke Baitullah pada Usia 92 Tahun

Menurut Rendra yang juga fasih menceritakan sejarah peci ini, pada zamannya Wali Songo. Konon , peci dikenal gegara Sunan Kalijaga.

Pada mulanya beliau membuat mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang diberi nama kuluk. Kuluk memiliki bentuk lebih sederhana daripada mahkota ayahnya yaitu raja terakhir Majapahit Brawijaya V.

“Konon, Kuluk secara bentuk mirip kopiah, hanya ukurannya lebih besar. "Ada juga yang menyampaikan bahwa Laksmana Ceng Ho yang membawa peci ke Indonesia ini," kata Rendra yang juga menegaskan bahwa keberadaan peci sudah ada sejak abad 13 di tanah Melayu ini.

Mengenai arti kata peci sendiri, Rendra juga menyampaikan tidak ada arti khusus. Artinya, definisi kata peci sangat beragam dan memiliki versinya sendiri.

Ada yang mengartikan Peci sebagai alat untuk bagian kepala yang bisa memancarkan energi ke delapan penjuru angin.

Arti ini berasal dari kata Pe (Delapan) dan Chi (Energi). Dalam  istilah lain peci yang disebut songkok ini diartikan sebagai Kosong dari mangkok.

"Mungkin, artinya hidup ini seperti mangkok yang kosong dan harus diisi dengan ilmu dan berkah," ucap Rendra yang juga menambahkan peci dalam istilah lain kopiah berasal dari kosong karena dipuah. "Apa yang dibuang? yaitu kebodohan dan rasa iri hati serta dengki," pungkasnya.

Topik
Rendra Kresnabung rendra kresna

Berita Lainnya

Berita

Terbaru