MALANGTIMES - Bangsa yang hebat adalah bangsa yang menghargai sejarah. Seperti yang dilakukan anak muda Kota Malang yang mengangkat sejarah bangunan dan kehidupan masyarakat tahun 90an wilayah Kayu Tangan Malang melalui event A Day to Walk atau menelisik sejarah bangunan tua Kota Malang.
Dalam kegiatan yang dipusatkan di Pasar Talun RW. 01 dan RW. 09 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen ini, masyarakat diajak untuk menyusuri WaktuRuang Kayu Tangan dengan walkingalam tour, pameran foto sejarah di kawasan lingkungan Kayu Tangan.
Baca Juga : Trending Twitter! Buku Karya Tere Liye Jadi Barang Bukti Aksi Vandalisme Anarko
Uniknya, para anak muda kreatif ini mengajak anak-anak untuk mengabadikan momen melalui kameranya dengan memotret kehidupannya mulai bangun pagi hingga tidur kembali.
Hasil jepretannya itu kemudian dipajang di area Pasar Talun yang dulunya terkenal dengan sejarah sebagai Pasar Rombengan Talun di masa penjajahan Belanda.
Salah satu penggagas A Day to Walk Kota Malang, Sindy Asta menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat terutama anak-anak untuk mengenal sejarah di lingkungan Kayu Tangan.
"Acara ini dikemas dengan tema WaktuRuang sebagai formula yang kami temukan dari sebuah proses kreatif yang kami jalani, yaitu dimana waktu yang bertemu dengan ruang akan menjadi sebuah momentum sejarah di sini. Kita tunjukkan kepada mereka sejarah Kayu Tangan yang sebenarnya," kata Sindy saat ditemui MalamgTIMES, Sabtu (6/5/2017).
Disinggung kenapa memilih kawasan Kayu Tangan, Sindy menerangkan karena kawasan Kayu Tangan tak sekedar kawasan Kota Tua saja. Tapi Kayu Tangan juga memiliki kawasan yang berpotensi wisata dengan konsep walking tour ini, masyarakat diajak menyusuri Kayu Tangan dengan berjalan kaki menemui spot-spot yang menarik di sepanjang koridor Kayu Tangan.
Ruang yang mereka telusuri diantaranya toko-toko dan bangunan kuno yang masih eksis sejak tahun 1940 an seperti Taman Tembakau, Patung Chairil Anwar, Gereja Paroki Hati Kudus, Toko Riang, Toko Lido, bangunan kembar di perempatan Kayu Tangan, bangunan PLN Kota Malang hingga sisa puing bangunan Bioskop Merdeka.
"Kita angkat heritage sejarah lama di kawasan Kayu Tangan yang merupakan asli ikon milik Kota Malang. Kalau di Jakarta dan Yogyakarta punya kota sejarah lama, kita juga punya itu," terangnya.
Baca Juga : Bukunya Viral Jadi Barang Bukti Kasus Anarko, Tere Liye Beri Respon Begini
A Day To Walk, kata Sindy bukanlah sebuah komunitas, namun hanya gerakan spontanitas untuk mengenal lebih dalam sejarah tua Kota Malang. Tak hanya itu saja, dia juga menggandeng fotografi analog untuk merekam jejak dan mengadakan pameran foto bangunan-bangunan kuno di kawasan Kayu Tangan.
"Jadi kita perkenalkan kepada masyarakat siapa tahu ada yang belum paham dulunya seperti apa Kayu Tangan ini, agar mereka paham dan tidak hilang sejarah bangunan di sini," tuturnya.
Dalam acara yang digelar 6-7/5/2017 ini, masyarakat bisa melihat langsung pameran foto walking alam street fotografi dan bangunan sejarah dari 14 fotografer anak kecil yang menghasilkan 81 jepretan foto di wilayah Kayu Tangan bertemakan lingkungan keluarga yang didampingi 12 komunitas fotografer.
"Jadi di sini ada pameran hasil foto dari anak-anak yang kita ajarkan cara memotret dalam kehidupannya mulai mereka bangun tidur, belajar, mengaji aktivitas bermain, sampai tidur lagi yang dipajang di lapak Pasar Talun," ujar Sindy.
Disamping itu, ada pemutaran film Darah Biru Arema, Cublek-Cublek Suweng, Nunggu Teko, Malang Tempo Doloe yang menceritakan sejarah Kerajaan Malang sampai menjadi Kotapraja.
