Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Aroma of Heaven, Kecantikan Biji Kopi Nusantara yang Terluka

Penulis : Nana - Editor : Lazuardi Firdaus

22 - Apr - 2017, 20:17

Placeholder
Screenshot cuplikan film Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven). Dunia kopi terbaik dengan sisi lukanya sampai kini. (Istimewa)

MALANGTIMES - "Hidupku bersama kopi, maka matiku pun dengan kopi". Begitulah ucapan seorang petani kopi dalam film Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven) yang ditayangkan di Kedai Tjangkir 13 Jl Bondowoso Malang, Jum'at (21/04) malam.

Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis

Film dokumenter tahun 2014 yang disutradarai oleh Budi Kurniawan ini cukup menghentak kesadaran dalam dunia kopi yang mungkin selama ini hanya diposisikan sebagai minuman pelengkap biasa saja.

Mendokumentasikan perjalanan polemik kopi Indonesia yang memiliki sejarah lebih dari 300 tahun sejak pertama ditumbuhkembangkan di Indonesia tentunya tidak mudah. "Dikompilasi tahun 2011 dan mengalami beberapa situasi kritis hampir membuat film ini terhenti," kata Budi dalam catatan Aroma of Heaven, Jum'at (21/04).

Film berdurasi 66 menit ini membawa penonton ke tempat-tempat yang belum pernah terekspos sebelumnya, bahkan menyajikan fenomena familiar dengan cara yang sama sekali berbeda. Bahwa tradisi, budaya, seni, iman serta keyakinan adat memberikan kontribusi terhadap catatan alur sejarah kopi Indonesia.

Berbagai sumber sejarah, baik lokal maupun internasional, hingga pertemuan dengan berbagai ahli serta petani tradisional -pria dan wanita- luar biasa dari berbagai dunia ilmu pengetahuan, filsafat, akademisi, antropologi, bisnis dan pertanian menjadikan Aroma of Heaven serupa ensiklopedi hidup yang cantik.

Dan, "Cantik itu luka," kata Eka Kurniawan, sastrawan dengan berbagai karya fenomenalnya. Kecantikan Aroma of Heaven pun terlibat dalam persoalan tersebut.

Tidak sekadar menggambarkan asal-usul kompleksitas cita rasa kopi atau sekadar berbicara tentang tren dan gaya hidup meminum kopi masa kini. Aroma of Heaven juga menggugat begitu provokatif seberapa dekat kita mengenal kopi yang dikonsumsi setiap hari?

Baca Juga : Hingga Pertengahan April, 4 Kali Tanah Longsor Terjadi di Kota Batu

"Kopi kita mutu tinggi dan diakui dunia. Segala kebaikannya dikonsumsi di sana. Kita hanya kebagian ampasnya. Itu pun masih dicampur dengan jagung," kata salah satu pemeran dalam film.

Di abad 17 Kopi Jawa mendominasi pasar Eropa dan menjadi dagangan andal VOC Belanda. Tingginya mutu kopi yang ditanam di tanah Nusantara telah tertanam kuat dalam otak para penikmat kopi.  Di mana pun kopi ditanam, asalkan di tanah Nusantara, akan menghasilkan kopi terbaik. Dunia mengakuinya.

Aroma of Heaven dengan indahnya mempertanyakan luka kita sebagai penghasil kopi terbaik dunia tetapi punya kebiasaan menikmati kopi sortiran. Luka para petani kopi yang hasil buminya dinikmati di kafe-kafe mahal seantero jagat, tetapi kehidupannya masih terseok-seok menggapai sejahtera.

Sebuah statemen terlontar dari penggiat budaya dan pecinta kopi. Seperti ini : "Aku anti minum kopi sachet bukan tanpa alasan. Aku lebih memilih menikmati kopi terbaik hasil para petani, bukan memilih minum hasil sortiran," tulis Aji Prasetyo yang merupakan kepala Seni dan Budaya Unira Malang.

Dia juga menegaskan keimanannya dalam mengonsumsi kopi. " Alasanku jelas. Aku bagian dari masyarakat penanam kopi terbaik. Aku berhak menikmati kopi terbaik, bukan menikmati sampah. Leluhurku dulu dipaksa begitu oleh penjajah. Aku tidak sudi menjadikannya tradisi." (*)


Topik

Peristiwa Aroma-of-Heaven biji-kopi-nusantara



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nana

Editor

Lazuardi Firdaus