MALANGTIMES- Ibarat kata mati suri, tinju Indonesia sempat surut prestasi di kancah internasional hinga hampir tiga dekade lamanya. Perlahan namun pasti, secercah harapan terus bermunculan di era milenium baru.
Baca Juga : Kontroversi, Prestasi, hingga Mundurnya Ratu Tisha dari Sekjen PSSI
Pasca berlalunya era Chris Jon dan tengah meroketnya karier Daud Yordan, harapan untuk melihat kejayaan tinju Tanah Air yang gilang gemilang kini semakin terang. Angin segar sekarang berhembus dari Malang.
Dua petinju andalan d’Kross Boxing Camp (BC), Hero Tito dan Rivo Rengkung, berkontribusi mengharumkan nama bangsa. Seiring keberhasilan mereka mengamankan gelar juara dunia versi World Professional Boxing Federation (WPBF) di Timor Leste, November tahun lalu.
Bicara soal sukses tersebut, tentu saja tak bisa lepas dari kiprah owner d’Kross BC, Ir H Ade Herawanto MT., yang berkecimpung di dunia tinju sejak tahun 2002 silam. Sosok Ade inilah yang mencetuskan lahirnya kejuaraan Malang Super Fight (MSF) yang penyelenggarannya sudah mencapai 22 edisi.
Nyatanya, d’Kross BC yang dikelola Ade bersama para insan tinju Malang Raya, tak henti melahirkan petinju-petinju hebat dan pantang menyerah sejak berdiri tahun 2008 silam. Sedari awal, sang owner memang punya ambisi besar.
“Tujuan awalnya, saya hanya ingin mengembalikan kejayaan tinju Malang seperti era 70′- 80’an. Semua ini berangkat dari rasa keprihatinan akan terpuruknya olahraga tinju di Malang,” ungkap Sam Ade d’Kross, sapaan akrabnya.
Pria asli Malang ini lantas menceritakan awal mula kecintaanya dengan olahraga keras ini. Memorinya langsung tertuju pada gelaran tinju di Lapangan Rampal medio Agustus 2002.
“Semua orang saat itu larut dalam euforia sepakbola. Sampai-sampai tinju pada acara Expo Rampal tidak ada yang menonton. Miris sekali melihatnya,” kenangnya lirih.
Setahun berselang, Ade kemudian bergabung dalam manajemen Gajayana Boxing Camp (BC). Sebagai langkah awal, dia mulai merintis karier sebagai Co-Promotor. Dari situlah, obsesi besarnya mulai timbul.
”Saya ingin melihat ada seorang juara tinju dunia asal Malang. Saya berusaha keras bisa jadi promotor untuk mewujudkannya,” serunya bersemangat.
Barulah pada tahun 2008, Ade memiliki sasana sendiri bernama d’Kross BC, mengutip nama grup band yang dia dirikan dua tahun sebelumnya.
Tak lama sejak didirikan, d’Kross menjadi sasana ikonik baru Kota Malang, pasca melahirkan petinju hebat macam Kirno Armase, Sis Morales, Victor Mausul, Mosin Khadafi hingga Hero Tito dan Rivo Rengkung yang kini berstatus juara dunia.
Tak sekadar memiliki sasana tinju, tokoh Aremania ini juga aktif menjadi seorang promotor yang diperhitungkan di kancah nasional. Lisensi yang dikantongi peraih gelar Master dari Fakultas Teknik Universitas Gajahmada (UGM) itu pun tak main-main.
Setelah memiliki lisensi promotor nasional versi Komisi Tinju Indonesia (KTI), menyusul kemudian lisensi nasional dari Asosiasi Tinju Indonesia (ATI), Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI) dan lisensi dari Federasi Tinju Indonesia (FTI) juga berada dalam genggamannya.
Sejalan dengan kelengkapan lisensi yang dimilikinya, Ade juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua KTPI Malang Raya dan Ketua FTI Jawa Timur.
Berkat kegigihannya membangkitkan dunia tinju Tanah Air, Ade sempat menerima penghargaan bergengsi dari ATI yang diberikan sebagai pengakuan dan penghormatan kepada insan tinju profesional atas peranan, dedikasi dan dukungannya dalam membina olahraga tinju di Indonesia.
Karena prestasinya tersebut, nama pria yang kini menjabat Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang itu layak disejajarkan dengan sejumlah tokoh tinju ternama yang juga meraih penghargaan serupa.
Sebut saja Pembina ATI Pusat, Jenderal TNI (Purn) H. AM Hendropriyono hingga mereka yang pernah menduduki kursi Ketua ATI Pusat, macam Elza Syarief, Rufinus H Hutauruk, Junimart Girsang hingga Laksda TNI (Purn) H Yuswaji yang telah lama malang melintang di dunia tinju profesional.
Baca Juga : Libur Karena Covid-19, Kiper Persita Mulai Bosan
Namun jangan kira, jalan untuk melahirkan juara dunia seperti dicita-citakan Ade mulus tanpa hambatan. Segala pencapaiannya di dunia kepromotoran penuh lika liku dan pengorbanan.
Alumni SMAN 3 Malang itu tak jarang harus merogoh kocek pribadi untuk membiayai kebutuhan sasana hingga menggelar pertandingan.
“Kalau dihitung-hitung sudah bisa buat beli rumah ya,” timpal Ade lantas terkekeh. Kini hampir 15 tahun berlalu sejak kali pertama Ade berkecimpung di dunia tinju, dia merasa sudah saatnya dia mundur dari cabor yang dia cintai itu.
Pria yang juga dikenal sebagai musisi dan tokoh lintas komunitas itu ancang-ancang menyatakan pensiun dari dunia kepromotoran.
“Dulu saya sempat berjanji, jika berhasil mengantarkan petinju Malang menjadi juara dunia, maka saya akan mundur. Sekarang mimpi itu telah terwujud, dengan lahirnya juara dunia tinju baru dari Bhumi Arema. Janji yang terucap harus tetap ditepati. Tapi memang kasihan juga jika gelar juara dunia tersebut sampai lepas,” ucap alumni SMPN 3 Malang itu.
“Bukan berarti saya kemudian tutup mata dengan dunia tinju, tapi saya mengharapkan ada regenerasi. Bagaimanapun, harus ada generasi yang meneruskan perjuangan saya dan rekan-rekan untuk membangkitkan tinju Malang dan mengembalikan kejayaan Bhumi Arema sebagai barometer tinju nasional,” imbuhnya berharap.
Selagi memikirkan untuk mundur dari dunia tinju, kini Ade sambil mencari pengganti untuk regenerasi kepromotorannya.
“Setelah mendapat kader penerus yang akan membuat Malang menjadi barometer tinju atau minimal bisa membuat Hero Tito dan Rivo Rengkung mempertahankan gelar juara dunia dalam waktu agak lama, maka baru saya akan resmi mundur dengan lega dari dunia tinju. Namun sebelumnya, saya akan membicarakan masalah itu dengan semua elemen insan tinju se-Malang Raya dan beberapa tokoh tinju nasional,” tandas Sam Ade d’Kross.
Perjuangan mantan Kabag Humas Pemkot Malang ini diamini betul oleh para insan tinju nasional hingga internasional. Salah satunya mantan juara nasional asal Malang, HM Nurhuda.
Menurutnya, tinju Tanah Air bisa bangkit lagi berkat campur tangan orang yang benar-benar rela dan mau mencurahkan tenaga, pikiran dan materinya untuk cabang olahraga satu ini, salah satunya adalah Ade.
“Tidak banyak orang yang mampu dan mau mengurusi tinju. Betul-betul butuh perjuangan ekstra keras. Di tangan-tangan orang seperti Sam Ade inilah, wajah Indonesia di pentas tinju internasional terselamatkan,” tutur Nurhuda yang semasa jayanya pernah menyabet gelar juara WBC Intercontinental dan IBF Intercontinental.
Kesan senada juga disampaikan match maker internasional asal Timor Leste, Joel Maria Pereira.
“Sam Ade memberikan perhatian dan kontribusi nyata bagi dunia tinju Indonesia. Sama dengan kami, beliau punya mimpi besar untuk membuat petinju negerinya bisa mendunia,” tutur putra Thomas Americo, mantan pemegang sabuk juara Asia Pasific (OPBF), di era awal tahun 80’an dan tercatat sebagai petinju pertama dari Indonesia dan Timor Leste yang berkesempatan untuk memperebutkan sabuk kejuaraan dunia melawan Saoul Mamby.
Apresiasi juga diberikan secara khusus oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi atas kiprah Ade bersama d’Kross BC melahirkan juara dunia tinju yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.
Rekomendasi bahkan telah diberikan oleh Menpora supaya manajemen d’Kross BC segera mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan supaya Hero dan Rivo mampu mempertahankan predikat mentereng dan sabuk juara dunianya saat ini.
Perjuangan Ade beserta manajemen d’Kross BC diyakini tak mudah. Karena faktanya, dewasa ini memang sangat sulit mencari sponsor bagi dunia tinju di tengah euforia olahraga lain seperti sepakbola.
