Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa Menguak Sisi Lain Sejarah Kota Malang

Secuil Kisah Watu Gong, Peninggalan Kerajaan Kanjuruhan di Tlogomas

Penulis : imam syafii - Editor : Redaksi

26 - Mar - 2017, 23:50

Juru kunci Pendapa Watu Gong, Suradi mendampingi MalangTIMES menunjukkan situs Watu Gong, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Minggu (26/3/2017) (foto : Imam Syafii/MalangTIMES)
Juru kunci Pendapa Watu Gong, Suradi mendampingi MalangTIMES menunjukkan situs Watu Gong, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Minggu (26/3/2017) (foto : Imam Syafii/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Banyak bangunan dan situs bersejarah di Kota Malang baik peninggalan kolonial Belanda maupun situs peninggalan kerajaan yang selama ini belum banyak diungkap ke permukaan. 

Wilayah Tlogomas konon merupakan salah satu daerah di Kota Malang yang memiliki banyak benda bersejarah peninggalan Kerajaan Kanjuruhan. Salah satunya adalah Watu Gong.

Baca Juga : Balada Susilo: Hidup di Gigir Kemiskinan Tanpa Jaring Sosial Pemerintah

Bagi masyarakat Malang, khususnya warga Tlogomas, apalagi para sesepuh yang hidup dizaman kerajaan, mendengar nama Kerajaan Kanjuruhan bisa jadi tidak begitu asing. 

Karena wilayah ini konon merupakan tempat bermukimnya Raja Ken Arok sebelum memimpin Kerajaan Singhasari.

MalangTIMES (JatimTIMES Group), media online berjejaring terbesar di Indonesia, mencoba melakukan penelusuran untuk mengungkap sejarah Watu Gong.

Sore itu, Minggu (26/3/2017) pukul 16.00 WIB, dalam suasana gerimis, kami mulai bergerak mencari informasi keberadaan Watu Gong yang merupakan situs penting yang sejarahnya belum banyak diketahui masyarakat. 

Informasi awal yang kami dapatkan, Watu Gong berada di Jalan Kanjuruhan Gang IV, Kelurahan Tlogomas. 

Berbekal informasi itu, kami berangkat dari arah Jalan Joyo Sari menuju Jalan Joyo Agung. Di pertigaan pertama kami belok ke arah kiri. Tidak jauh dari pertigaan itu kami bertemu dengan gang yang dimaksud. 

Sekitar 10 meter kami berjalan, kami bertemu papan bertuliskan Jalan Kanjuruhan Gang IV. Lalu, kami berbelok ke kiri menuju pendapa yang di depannya terdapat papan bertuliskan situs Watu Gong. 

Namun, kami melihat pagar besi Pendapa Watu Gong dalam keadaan terkunci. Kami lalu bertanya kepada warga sekitar alamat rumah juru kunci situs penting ini.  

Warga lalu menunjukkan rumah Suradi, sang Juru Kunci Pendapa Watu Gong. Rumah Suradi berjarak tiga rumah dari Pendapa Watu Gong. 

Suradi yang waktu itu mengenakan peci hitam memakai baju dominan hijau langsung mengajak kami ke Pendapa Watu Gong dan membuka pintu gerbang yang sebelumnya terkunci rapat. 

Sesampainya di pendapa, pria dua anak tersebut lalu mulai bercerita tentang asal usul Watu Gong. 

Baca Juga : Cegah Sebaran Corona, Baca Meteran Mandiri Jadi Cara Perumda Tirta Kanjuruhan Cek Pemakaian Air Bersih

Dengan nada sedikit pelan, ia menjelaskan bahwa Watu Gong merupakan rumah hunian keagamaan Hindu pada zaman Prasasti Dinoyo sekitar tahun 760 M.

Memang unik, karena Arca Watu Gong terbuat dari batu yang menyerupai alat musik tradisional yaitu gong. Bentuknya bulat, tebal dan di atasnya terdapat pentolan kecil.

"Situs Watu Gong ini dibuat dari batu yang awal ditemukan berjumlah 13 unit. Namun, satu unit watu gong dicuri orang tak bertanggung jawab. Jadi sekarang jumlahnya berkurang," kata Suradi yang kini kondisinya sudah mulai terlihat lemah diusianya yang menginjak 88 tahun. 

Ternyata di pendapa tersebut, benda peninggalan bersejarah tidak hanya watu gong saja. Ada lesung terbuat dari batu yang digunakan masyarakat kuno untuk menumbuk padi. 

Letak lesung tersebut berada di belakang tiga patung arca yang berdiri tegak di tengah pendapa. 

"Jadi di sini ada arca lesung, bata kuno, dan dua patung pendiri yang menemukan asal usul watu gong yaitu Mbah Nambi, dan Mbah Rekso," kata pria yang mengaku sudah 27 tahun menjadi juru kunci Watu Gong.

Situs bersejarah lain peninggalaan Kerajaan Kanjuruhan di Tlogomas di antaranya berada di wilayah Panca Murti RW 05 Kelurahan Tlogomas berupa Reco Lembu Nandi. 

"Bentuknya berupa yoni (lambang alat kelamin wanita, red) yang menandakan zaman dulu mayarakatnya sejahtera dan makmur khususnya masalah ketercukupan air untuk kebutuhan hidup sehari-hari," ujar Suradi. 

Simak terus MalangTIMES yang akan mengungkap sisi lain sejarah Kota Malang yang belum banyak diangkat ke permukaan. 


Topik

Peristiwa situs-bersejarah kolonial-Belanda Kerajaan-Kanjuruhan Watu-Gong


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

imam syafii

Editor

Redaksi